Transcript 8.feed

PENGANTAR ILMU MAKANAN TERNAK UNGGAS
Ilmu Makanan :
Ilmu yang berhubungan dengan bahan makanan dan zat-zat
makanan yang terkandung di dalamnya, dalam hubungannya
dengan kesehatan manusia dan hewan
Zat makanan :
(nutrien)
Kombinasi senyawa kimia yang digolongkan menurut sifatsifat fisik, kimia dan biologis
BAHAN MAKANAN
PANGAN/FOOD
untuk manusia
PAKAN/FEED
untuk hewan
Ransum/diet/ration: susunan bahan makanan/pakan [komposisi tertentu]
PENGGOLONGAN ZAT-ZAT MAKANAN :
1. Air
2. Karbohidrat
3. Protein
4. Lemak
5. Vitamin
6. mineral
FUNGSI ZAT MAKANAN DAN SUMBER UTAMANYA
DALAM RANSUM AYAM
AIR:
merupakan komponen darah dan cairan tubuh, pencernaan,
transport makanan dan sisa pencernaan, pengatur suhu tubuh,
Sumber : air minum, air dalam bahan makanan
KARBOHIDRAT
( serat kasar + BETN) : - panas, energi, produksi lemak
- Sumber energi mudah dicerna


BETN : sumber energi utama
Serat kasar : ayam kurang mampu mencerna serat kasar, berfungsi
mencegah penggumpalan makanan dalam
saluran pencernaan
Sumber : jagung, beras, gandum, sorgum dan hasil ikutan
pengolahannya: dedak padi dedak gandum/pollard
Starch/pati: biji-bijian dan umbi ---------- sangat fundamental
Sugars: buah-buahan dan molases --------- secondary role
Cellulose: batang-batang tanaman --------- undigested
PROTEIN
-
pertumbuhan dan penggantian jaringan
pembentukan telur, aktivitas sperma
panas, energi, produksi lemak
[Kekurangan energi ----- protein akan dirubah menjadi energi]
Protein atau nitrogenous substances merupakan unsur penting yang
membangun organ-organ tubuh mahluk hidup
- Pemberian dan penggunaannya sangat penting
- Menjadi subjek-subjek berbagai penelitian
Protein disusun dari gugus asam amino, yaitu: (1) asam amino
esensial, dan (2) asam amino non-esensial
Asam amino asensial ---- karena hewan monogastrik tidak dapat
mensintesanya, sehingga harus ditambah dari luar melalui makanan
Asam amino non-esensial ---- karena asam amino ini dapat disintesa
oleh hewan dari asam-asam amino lainnya
Sumber :
Protein hewani ; tp. ikan, tp. cacing, tp. bekicot / keong mas
tp. pupa, sisa rumah potong, dll.
Sumber :
Protein nabati : bkl. kedelai, bkl. kacang tanah, bkl. Kelapa, dll.
Protein nabati
Tidak mengandung asam amino yang lengkap ----- biasanya
kekurangan asam amino metionin, lisin, dan triptofan
Protein hewani kebalikannya
dikombinasikan
[untuk menghasilkan asam amino yang sesuai dengan kebutuhan]
Contoh: untuk ayam broiler penggunaan bungkil maksimum 49%
[menghindari kekurangan asam amino]
LEMAK
-
-
Sumber energi dan Cadangan panas
Pada ternak dideposit dalam bentuk lemak hewan (lemak abdominal,
lemak periveral)
Ketersediaannya dalam pakan unggas kecil (lemak hewan, lemak
nabati)
Sumber :
- minyak kelapa, lemak hewan
Karbohidrat dan lemak ---- sumber energi untuk fungsi-fungsi yang vital
(bergerak, aktivitas makan, pertukaran panas)
VITAMIN
Pertumbuhan, kesehatan, asimilasi mineral, daya tetas, fertilitas,
nafsu makan, pencernaan, pembentukan tulang dan bulu
Sumber : tepung hijauan, jagung, feed suplement
MINERAL
Pembentukan kerangka, pembentukan kerabang, menjaga mengatur
kenetralan tubuh
Sumber : tepung ikan, susu skim, tp. tulang, tp. kulit kerang,
tp. kerabang, tp kapur (CaCO3), Dikalsium Phosfat (DCP),
feed suplement
Mineral Calcium (Ca) dan Phosphorus (P) --- sangat sedikit tersedia
pada bahan makanan asal nabati
Mineral trace elements: manganese, iron, copper, cobalt,
iodine dan zinc
Feed suplement : bahan berupa zat makanan yang ditambahkan ke
dalam ransum,
contoh : asam-asam amino, mineral mikro, vitamin
Feed additive : bahan bukan zat makanan yang ditambahkan
ke dalam ransum,
contoh : coccidiostat, antibiotik, antioksidan, probiotik
Zat Toxic: perlu diwaspadai ---- pemberian bahan tersebut pada
unggas harus hati-hati (dibatasi, diolah)
Contoh: hydrocyanic acid pada ubi kayu segar ; gossypol
pada biji kapas dan bungkil biji kapas ; dan beberapa
alkaloids pada biji leguminosa tertentu
KEBUTUHAN ENERGI DAN PROTEIN PADA AYAM
Syarat lain: - Serat kasar maksimum 7%
- Lemak maksimum 8%
Penyusunan Ransum Unggas (Ayam)
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menyusun ransum:
1. Umur (starter, grower, layer) dan tipe ayam (berat, medium, ringan)
2. Bahan-bahan pakan yang tersedia
3. Tabel-tabel berisi informasi tentang kandungan zat-zat makanan
serta rekomendasi kebutuhan akan zat-zat makanan untuk setiap
fase umur dan tujuan produksi
 Tabel: Scott (1982, dst), National Research Council/NRC,
Hartadi dll., Hasil Analisis Laboratorium
KOMPOSISI ZAT-ZAT MAKANAN DALAM BAHAN MAKANAN
UNTUK UNGGAS (BERDASARKAN KERING UDARA), SCOTT (1976)
EM
(kkal/kg)
Protein
Lemak
Serat
Kasar
Bungkil Kacang Kedelai
2240
45
0,9
6
0,32
0,67
0,29
Bungkil Kelapa
1540
21
1,8
15
0,20
0,60
0,20
Dedak Padi
1630
12
13
12
0,12
1,50
0,21
Dedak Gandum
1300
15
4
10
0,14
1,10
0,32
Jagung Kuning
3370
8,6
3,9
2
0,02
0,30
0,10
Minyak Kelapa
8600
0
100
0
0
0
0
Tepung Ikan
3080
61
9
1
5,50
2,80
2,80
Tepung Tulang
-
-
-
-
24
24
-
Kalsium Karbonat/CaCO3
-
-
-
-
40
-
-
Bahan Makanan
Fosfor
Ca
Total
Tersedia
METODE PENYUSUNAN RANSUM
1. Trial and error method : Dihitung secara coba-coba sampai didapat
kandungan zat makanan (terutama protein dan energi) sesuai kebutuhan
2. Menggunakan paket program (linear programing, mixit, excel)
No
Bahan pakan
Ransum (%)
Starter
Contoh:
Susunan Ransum
Ayam Petelur
1
Jagung kuning
2
Dedak padi
3
Grower
Layer
56
67
64
8
11
3,5
Bungkil kedelai
12
1
5,5
4
Bungkil kelapa
10
9
6,5
5
Tepung ikan
12
10
13,5
6
Tepung kulit kerang
1,85
1,85
6,75
7
Premix
0,15
0,15
0,15
Total
100
100
100
Protein kasar
20
15
18
2900
2900
2900
Energi Metabolis (kkal/kg)
3. Square method / metode bujur sangkar, hanya digunakan untuk dua
macam bahan, dengan syarat kandungan zat salah satu bahan lebih
rendah dan yang lain lebih tinggi dari pada kandungan zat tersebut
dalam ransum yang akan disusun.
Contoh : diperlukan suatu ransum untuk ayam buras dengan kandungan
protein 15%, bahan pakan yang dimiliki adalah dedak padi
yang mengandung protein 8% dan konsentrat dengan
kandungan protein 36%. Berapa banyak masing-masing bahan
diperlukan untuk membuat 100 kg ransum :
36
7 (15-8) bag. konsentrat
15
8
21 (36-15) bag. dedak padi
Konsentrat = 7/28 x 100 = 25 kg
Dedak padi = 21/28 x100 = 75 kg
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMSI RANSUM
1. Faktor genetik : bobot badan, strain, jenis kelamin
2. Temperatur
3. Kandungan energi ransum
4. Kandungan Serat Kasar dalam ransum
5. Status kesehatan ayam
6. Palatabilitas ransum
7. Adanya cekaman/stress
FUNGSI NUTRIEN/ZAT MAKANAN
Nutrien yang dicerna digunakan untuk menjalankan fungsi esensial dalam
tubuh yaitu hidup pokok (metabolisme, mengatur suhu tubuh, pergerakan
minimal, mengganti dan memperbaiki sel/jaringan) serta untuk produksi
(pertumbuhan, penggemukan, produksi telur)
Hidup pokok :
Kebutuhan untuk hidup pokok didefinisikan sebagai: Kombinasi beberapa
nutrien yang dibutuhkan unggas untuk menjalankan fungsi tubuhnya tanpa
terjadi pertambahan, atau pengurangan bobot badan maupun aktivitas
produktif
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan hidup pokok :
Fakstor eksternal : dapat dikendalikan sampai batas tertentu melalui
pengelolaan dan pemberian fasilitas :
- Aktivitas
- Keadaan cuaca
- Status kesehatan dan adanya stress
Faktor internal :
- Ukuran tubuh
- Temperamen
- Tingkat produksi
- Variasi antar individu
Pertumbuhan :
Definisi : pertambahan ukuran tulang, otot, organ dalam dan bagian lain tubuh
 Merupakan proses normal sebelum dan sesudah menetas hingga
mencapai dewasa
 Pertumbuhan dipengaruhi oleh tingkat konsumsi ransum
 Kebutuhan nutrien diengaruhi oleh : umur, jenis kelamin, bangsa, laju
pertumbuhan, status kesehatan
Umur
Dibandingan dengan ayam yang lebih tua, umumnya ayam muda :
1. Mengkonsumsi ransum per unit bobot badan lebih tinggi
2. Memanfaatkan ransum lebih efesien
3. Membutuhkan protein, energi, vitamin dan mineral perunit bobot badan
lebih banyak
4. Membutuhkan ransum yang padat gizi dan mudah dicerna
5. Lebih sensitif terhadap defesiensi nutrien
Bangsa
Bangsa ayam yang besar tumbuh lebih cepat dari pada bangsa yang
lebih kecil dan memerlukan lebih banyak nutrien
Jenis Kelamin
1. Ayam ♂ tumbuh lebih cepat daripada ayam ♀ dan memerlukan lebih banyak
nutrien
2. Ayam ♂ yang tidak dikastrasi lebih efisien memanfaatkan ransum untuk
pertambahan bobot badan dari pada ayam ♀
3. Bobot badan dewasa ayam ♂ lebih tinggi daripada ♀
4. Ayam ♀ lebih cepat mencapai dewasa kelamin daripada ayam ♂
Laju Pertumbuhan
Intensif breeding mengarahkan agar ayam pedaging tumbuh dengan cepat
dan dapat dipasarkan pada usia dini disertai dengan penyesuaian ransum
Reproduksi
 Pemberian ransum untuk produksi memenuhi kebutuhan untuk produksi
telur (jumlah dan bobot), kualitas, daya tetas, pengendalian molting serta
mengeram
 Kebutuhan untuk petelur komersil meliputi kebutuhan untuk hidup pokok,
pertumbuhan ayam dara dan pembentukan telur (ayam dengan
kemampuan produksi tinggi memerlukan lebih banyak nutrien)
 Petelur pembibit memerlukan vitamin, A, D, E, B12, riboplavin, asam
panthotenat, niacin dan Mn lebih banyak daripada ayam petelur komersil
Penggunaan Nutrien
Nutrien digunakan melalui salah satu diantara dua proses metabolik berikut :
1. Anabolik : adalah proses dimana molekul-molekul nutrien digunakan
sebagai building block unutk mensistesis molekul-molekul
kompleks, reaksi-reaksi anabolik bersifat endergonic dan
memerlukan input energi
2. Katabailisme : adalah proses oksidasi nutrien dengan membebaskan
sejumlah energi yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan tubuh saat itu, reaksi ini bersifat exergonic
Penentuan Kebutuhan Akan Nutrien
Kebutuhan nutrien ditentukan dengan cara menemukan jumlah minimal yang
harus disediakan agar fungsi fisiologis berkembang maksimal
(atau didasarkan pada pertimbangan faktor ekonomis seperti pertumbuhan,
efesiensi penggunaan ransum, produksi telur, daya tetas)
 Feeding trial dengan beberapa level nutrien yang bersangkutan sampai
didapat suatu level yang tidak lagi menghasilkan peningkatan pada
variable yang diukur
 Kebutuhan nutrien dinyatakan :
1. Jumlah kebutuhan per hari  ransum yang diberikan selama 24 jam
jumlahnya tertentu
2. Konsentrasi dalam ransum (%, ICU, ppm)  ransum disediakan
tanpa dibatasi
 Kebutuhan zat-zat makanan untuk unggas pada berbagai fase umur dan
tujuan pemeliharaan : tabel NRC, National Academy of sciences
Hubungan Antara Nutrien Dengan Faktor Lain
1. Faktor genetik
 Kemampuan memetabolis energi dan mencerna zat makanan tertentu
 Kebutuhan nutrien untuk hidup pokok
 Kemampuan mendefositkan nutrien untuk pertumbuhan dan produksi
telur
 Respon terhadap metabolit dan anti nutrien tertentu
2. Penyakit dan Stress :
 Ayam mampu beradaptasi terhadap stress kronis yang ringan
 Kehadiran parasit dalam saluran pencernaan meningkatkan kebutuhan
akan vitamin B
 Coccidiosis, Infectious Bronchitis dan Infeksi Mycoplasma meningkatkan
kebutuhan akan Vitamin A
3. Kualitas Telur
 Kualitas kerabang : pemberian antibiotik berpengaruh terhadap
pigmentasi warna kerabang, ketebalan kerabang dipengaruhi oleh
Ca, P dan Vitamin D
 Kualitas albumen : pemberian NH4Cl dapat meningkatkan nilai HU,
namun dapat menurunkan ketebalan kerabang karena pH darah
juga turun
 Defisiensi vitamin A menimbulkan blood spot pada yolk
 Bobot telur dipengaruhi oleh kecukupan protein, asam-asam amino
dan asam linoleat
Hubungan Timbal Balik Antar Nutrien
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
Imbangan Energi : Protein
Interaksi antara Ca, P dan Vitamin D
Hubungan antara niacin dan tryptophan
Hubungan antara cholin, methionin, asam folat dan vitamin B12 dalam
metabolisme reaksi transmetilasi gugus metil
Peranan vitamin E, Selenium dan cystine dalam mencegah penyakit
exudative diathesis dan muscular dystrophy
Chelation effect asam amino dan mineral tertentu dalam transportasi
nutrien tertentu
Hubungan timbal balik antara Cu dengan Zn, Zn dengan Cd, Cu dengan
Mo serta Se dengan arsenik
Hubungan timbal balik antara lysine dengan arginine, leucine dan
isoleucin dengan valine, ketidakseimbangan dan antagonisme asamasam amino tertentu.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Konsumsi Ransum :
[ Ayam makan untuk memenuhi kebutuhan energi]
•
•
•
•
•
•
•
•
Temperatur Lingkungan
Faktor Genetik
Keseimbangan Nutrien
Laju Pertumbuhan
Status Kesehatan
Bentuk Fisik Ransum
Ukuran Tubuh
Tingkat Produksi Telur
Pengukuran Efesiensi Ransum
EPR = konsumsi ransum / pertambahan bobot badan x 100%
konsumsi ransum / produksi telur x 100%
Konversi ransum = pertambahan bobot badan / konsumsi ransum
produksi telur / konsumsi ransum
(ket : dalam satuan dan jangka waktu yang sama)
Kebutuhan Energi
Jumlah energi yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan bagi pertumbuhan
atau produksi telur pada tingkat yang cukup tinggi untuk mendapatkan
keuntungan ekonomis maksimal
Energi yang dikonsumsi digunakan untuk :
• Aktivitas jantung
• Menjaga tekanan darah dan tonus otot
• Mentransmisi impuls syaraf
• Transportasi ion melalui membran sel
• Proses reabsorpsi dalam ginjal
• Sintesis protein dan lemak
• Produksi telur
Defesiensi Energi
 Defesiensi energi tidak memperlihatkan gejala spesifik seperti pada
defesiensi vitamin atau mineral sehingga sulit untuk dikenali dan baru
tampak setelah berlangsung cukup lama
 Akibat defesiensi :
• Pertumbuhan terhambat/kerdil
• Kehilangan jaringan
• Produksi telur rendah
Zat Makanan Sumber Energi
1. Karbohidrat : murah, sangat mudah dicerna, diserap dan ditransformasi
menjadi lemak tubuh, tahan disimpan lama
2. Lemak : jumlah penggunaan terbatas
3. Protein : mahal
 Kandungan energi dalam ransum sangat mempengaruhi jumlah
konsumsi, sehingga keseimbangan antara energi dengan zat-zat
makanan lain terutama asam-asam aminno (protein) sangat penting
 Kebutuhan seekor ayam akan energi ditentukan oleh laju metabolik ,
yang dipengaruhi oleh ;
1. Bangsa atau strain
2. Aktivitas
3. Ritme diurnal
4. Temperatur lingkungan
5. Tipe ransum
- Energi tinggi : protein tinggi
- Energi tinggi : protein rendah
- Energi rendah : protein tinggi
- Energi rendah : protein rendah
6. Tingkat produksi
Nilai Energi Pakan :
 Energi pakan dinilai berdasarkan kemampuannya untuk menyediakan
energi bagi ternak
 Energi dibutuhkan dalam jumlah besar dibandingkan dengan zat-zat
makanan lainnya sehingga seringkali menjadi faktor pembatas dalam
produksi karena merupakan komponen biaya ransum tertinggi
 Unit energi :
- Kalori / calori : banyaknya energi yang diperlukan untuk menigkatkan
temperatur 1 gram air sebesar 10C (14,5 – 15,5 0C)
- Kilokalori / kilocalories = 1000 kalori untuk 1 kg air
- Nilai energi ransum dinyatakan dalam kkal/kg
SISTEM PENGUKURAN ENERGI PADA AYAM
GROSS ENERGY (GE)
Fecal Energy
DIGESTIBLE ENERGY (DE)
Urinary Energy
APPARENT
METABOLIZABLE
ENERGY (AME)
Heat Increment
TRUE
METABOLIZABLE
ENERGY (TME)
Metabolic and endogeneous
energy losses
NET ENERGY (NE)
NET ENERGY MAINTENANCE (NEm)
- Basal metabolic rate
- Activity
- Body temperature regulation
NET ENERGY PRODUCTION (NEp)
- Eggs
- Growth
- Feather
Model Pertumbuhan
 Bobot badan dewasa ditentukan oleh strain
dan jenis kelamin pada strain yang sama
(sexual dimorphism)
Mature body weight
Body weight
Tubuh Keseluruhan:
 Pertumbuhan ditandai dengan adanya
pertambahan bobot badan, dengan kurva
pertumbuhan berbentuk S, pertumbuhan
relatif berhenti / bobot badan mulai stabil
pada saat dewasa tubuh
Maximum
growth
rate
Age when maximum
rate of growth occurs
Age
Bagian-bagian Tubuh :
 Pertambahan bobot bada unggas terdiri atas pertambahan bobot masingmasing bagian tubuh dan laju pertumbuhan setiap bagian tubuh berbeda
 Bobot saluran pencernaan dan bagian organ dalam lain secara proposional
menurun sejalan dengan pertumbuhan
 Bobot otot dan lemak meningkat sejalan dengan pertumbuhan
Fisiologi Pertumbuhan
 Pertambahan jumlah dan ukuran masing-masing sel
Komponen pertumbuhan :
1. Peningkatan bobot otot (protein dan air)
2. Peningkatan ukuran kerangka untuk menunjang pertumbuhan otot
(mineral terutama kalsium)
3. Peningkatan penimbunan lemak pada jaringan adipose (trigliserida dan
sedikit air)
4. Peningkatan ukuran bulu, kulit dan organ dalam (pada strain ayam
pedaging pertumbuhannya sangat sedikit)
Pertumbuhan Otot :
-
-
-
Peningkatan ketebalan dan panjang serabut otot (jumlahnya telah
ditentukan sebelum ayam menetas)
Penebalan otot disebabkan oleh terjadinya pembelahan dan perbanyakan
myofibril, sedangkan penambahan sarcomere pada ujung-ujung myofibril
menyebabkan serabut otot memanjang
Serabut otot ayam jantan lebih tebal dari pada betina
Serabut otot ayam pedaging pertumbuhan cepat lebih tebal dari pada
ayam yang tumbuh lambat
Pertumbuhan otot identik dengan penimbunan protein, defesiensi protein
akan menghambat laju pertumbuhan
Interaksi kopleks antara hormon-hormon dalam tubuh mempengaruhi laju
pertumbuhan otot
Pertumbuhan Tulang
Fungsi tulang :
1. Membentuk kerangka yang kompak untuk menunjang otot-otot tubuh,
2. Penyimpanan cadangan Ca dan P
Terdiri dari dua fase matriks : - Ca dan P  keras dan kaku
- Serabut organik  fleksible
 Pertumbuhan memanjang tulang terjadi pada bagian growth plate : sel-sel
pada growth plate (osteoblast) mensintesis dan mensekresikan osteoid
(kolagen kaya protein) yang membentuk matriks tempat absorpsi ion-ion Ca
dan P yang kemudian membentuk kristal
 Osteoclast mereabsorpsi mineral dan fase organik sehingga ukuran tulang
membesar dan berfungsi sebagai cadangan metabolically active Ca
 Pertumbuhan tulang dipengaruhi oleh : faktor genetik, hormon, kecukupan
vitamin A dan D
 Kelainan akibat pertumbuhan abnormal tulang : spondylolisthesis,
deformasi tulang kaki, dyschondroplasia, rickets
Pertumbuhan Lemak
 Terjadi dibeberapa bagian tubuh, ditimbun pada jaringan adipose yang
membentuk bantalan trigliserida berakumulasi dalam sel-sel jaringan
adipose (adipocytes)
 Asam-asam lemak diderivasi langsung dari makanan atau disintesis
dalam hati dengan gluksa sebagai prekusor  berbeda dengan
mamalia
 Berfungsi sebagai cadangan energi dan insulasi tubuh
 Pada defesiensi energi lemak dari jaringan adipose dimobilisasi dengan
bantuan hormon glukagon.