Learning CICLE - WordPress.com

Download Report

Transcript Learning CICLE - WordPress.com

PENDAHULUAN
• Awal Perkembangan Learning
Cycle:
John Dewey (awal tahun 1900)
Curt Lewin (Pertengahan 1940)
Jean Piaget (awal tahun 1960)
Robert Karplus (Pertengahan
1960)
Piaget
Vigotsky
KONTRUKTIVISME
Ausubel
LEARNING
CYCLE
?
Pengertian Learning Cycle
• Learning Cycle adalah suatu model
pembelajaran yang berpusat pada siswa
(student centered). LC merupakan
rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase)
yang diorganisasi sedemikian rupa
sehingga siswa berperan aktif untuk dapat
menguasai kompetensi-kompetensi yang
harus dicapai dalam tujuan pembelajaran.
SCIS-Karplus Learning Cycle
Guided Discovery
.
•
•
•
Secara umum memiliki 3 fase :
– Fase I - Eksplorasi (exploration, observation)
– Fase II - Term Introduction/Eksplanasi (invention,
generalization)
– Fase III – Aplikasi Konsep (discovery, application)
Pengembangan oleh BSCS:
– Engaging, Exploring, Explaining, Elaborating,
Evaluating
– Biasa dikenal dengan nama 5E
Pengembangan versi lain adalah LC 7E
Fase I : Exploration
• Siswa diberi kesempatan untuk mengekplorasi materi
secara bebas
• Siswa mengobservasi dan memahami fenomena alam
dengan menggunakan pengetahuan awalnya.
• Siswa mengembangkan pengetahuan baru yang
melibatkan pengalaman konkrIt siswa dengan sedikit
bimbingan guru
• Tujuan eksplorasi ini adalah untuk merangsang minat
siswa
• Tujuannya bagi guru adalah mengetahui pengetahuan
awal siswa
Fase II : Explaination
• Guru mengenalkan konsep baru serta
menghubungkan antar konsep yang siswa
temukan pada fase eksplorasi.
• Pengenalan konsep dapat dilakukan dengan
cara diskusi, melihat tayangan gambar/charta,
dsb.
• Siswa dibimbing untuk memahami konsep dan
prinsip-prinsipnya sehingga dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan dan menunjukkan
membenahi konsep awal yang mereka miliki.
Fase III : Aplikasi Konsep
• Siswa berpikir tentang cara mengaplikasikan konsep
yang mereka dapat pada fase II untuk diterapkan pada
situasi lain .
• Tujuannya adalah secara umum siswa dapat
mengaplikasikan pengetahuan mereka.
• Guru memberikan berbagai persoalan dengan konteks
yang berbeda untuk diselesaikan siswa dengan konsep
yang telah mereka dapat pada fase yang kedua.
• Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk
menggunakannya pada pengembangan konsep yang
lebih lanjut.
LC 5E
ENGAGE
Elaboration
EVALUATION
EXPLAIN
EXPLORE
ENGAGE
Mempersiapkan diri pembelajar agar terkondisi dalam
menempuh fase berikutnya dengan jalan mengeksplorasi
pengetahuan awal dan ide-ide mereka serta untuk
mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada
pembelajaran sebelumnya.
EXPLORE
Siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompokkelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru untuk menguji
prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide melalui
kegiatan-kegiatan seperti praktikum dan telaah literatur.
EXPLAIN
Pada fase explanation, guru harus mendorong siswa untuk
menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri,
meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka, dan
mengarahkan kegiatan diskusi
ELABORATION
siswa menerapkan konsep dan ketrampilan dalam situasi baru
melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum lanjutan dan
problem solving.
EVALUATION
Dilakukan evaluasi terhadap efektifitas fase-fase sebelumnya dan juga
evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep, atau kompetensi siswa
melalui problem solving dalam konteks baru yang kadang-kadang mendorong
siswa melakukan investigasi lebih lanjut. Berdasarkan tahapan-tahapan dalam
metode pembelajaran bersiklus seperti dipaparkan di atas, diharapkan siswa
tidak hanya mendengar keterangan guru tetapi dapat berperan aktif untuk
menggali dan memperkaya pemahaman mereka terhadap konsep-konsep yang
dipelajari.
Tipe Learning Cycle
(Lawson, 1995)
Deskriptif;
Empiris-induksi
Hipotesis deduktif
Lanjutan............
• Deskriptif; para siswa menemukan pola empiris dalam
konteks khusus (eksplorasi); guru memberi nama pada
pola itu (pengenalan istilah atau konsep), kemudian pola itu
ditentukan dalam konteks-konteks lain (aplikasi konsep)
• Empiris-induksi; para siswa juga menemukan pola empiris
dalam konteks khusus (eksplorasi), tetapi mereka
selanjutnya mengemukakan sebab-sebab yang mungkin
tentang terjadinya suatu pola.
• Hipotesis deduktif; dimulai dengan pernyataan sebab. Para
siswa diminta untuk merumuskan jawaban-jawaban
hipotesis-hipotesis yang mungkin pada terhadap
pernyataan itu.
Perbandingan tipe-tipe
Learning Cycle
Fase umum
Fase 5E
Fase 7E
EXPLORE
Engage
Explore
Elicit
Engage
Explore
EXPLAIN
Explain
Explain
CONCEPT
APPLICATION
Elaborate
Evaluate
Elaborate
Evaluate
Extend
1. Siklus pembelajaran deskriptif
• Guru mengidentifikasikan konsep-konsep yang akan
diajarkan.
• Guru mengidentifikasikan beberapa fenomena yang
melibatkan pola yang mendasari konsep.
• Fase eksplorasi : Siswa mengeksplorasi fenomena dan
berusaha menemukan dan menggambarkan pola.
• Fase pengenalan konsep : Siswa melaporkan data
mereka, dan siswa atau guru menggambarkan pola;
guru kemudian memperkenalkan istilah untuk mengacu
pada pola.
• Fase aplikasi konsep : Fenomena tambahan dibahas
atau dieksplorasi yang melibatkan konsep yang sama.
2. Siklus pembelajaran empiris-induktif
• Guru mengidentifikasi konsep-konsep yang akan diajarkan.
• Guru mengidentifikasi beberapa fenomena yang melibatkan pola
yang mendasari konsep.
• Fase eksplorasi : Guru atau siswa mengajukan pertanyaan deskriptif
dan kausal.
• Siswa mengumpulkan data untuk menjawab pertanyaan deskriptif.
• Data untuk menjawab pertanyaan deskriptif diperlihatkan dipapan
tulis.
• Pertanyaan deskriptif dijawab, dan pertanyaan kausal dimunculkan.
• Hipotesa alternatif dikemukakan lebih dahulu untuk menjawab
pertanyaan kausal, dan data yang dikumpulkan diperiksa untuk
memungkinkan test awal alternatif.
• Fase pengenalan konsep : Konsep-konsep diperkenalkan yang
berhubungan dengan fenomena yang dieksplorasi dan hipotesa
yang dikemukakan
• Fase aplikasi konsep : Fenomena tambahan dibahas atau
dieksplorasi yang melibatkan konsep-konsep yang sama.
3. Siklus pembelajaran hipotetis-deduktif
• Guru mengidentifikasikan konsep-konsep yang akan diajarkan.
• Guru mengidentifikasi fenomena yang sama yang melibatkan pola
yang mendasai konsep.
• Fase eksplorasi : Siswa mengekplorasi fenomena yang
memunculkan pertanyaan kausal.
• Dalam diskusi kelas, hipotesa diajukan dimuka, dan siswa diberitahu
untuk bekerja dalam kelompok dan menarik implikasi dan mendesain
pengalaman-pengalaman, langkah ini dilakukan dalam diskusi kelas.
• Siswa melakukan eksperimen-eksperimen.
• Fase pengenalan konsep : Data dibandingkan dan dianalisis, istilahistilah diperkenalkan dan kesimpulan ditarik.
• Fase aplikasi konsep : Fenomena tambahan dibahas atau
dieksplorasi yang melibatkan konsep-konsep yang sama.
• Glasson dan Lalik (1993) menyebutkan bahwa belajar IPA adalah
proses konstruksi. Konstruksi pengetahuan memerlukan partisipasi
aktif guru dan siswa. Untuk mengkonstruksi pengetahuan, siswa
harus mengidentifikasi, menguji dan menafsirkan makna dari
pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki dan kemudian
menyelesaikan situasi atau masalah yang dihadapi. Guru harus
menemukan cara-cara memahami pandangan-pandangan siswa,
merencanakan kerangka alternatif, merangsang kebingungan antar
siswa, dan mengembangkan tugas-tugas yang memajukan konstruksi
pengetahuan.
• Karakteristik konstruktivis adalah berangkat dari pengetahuan awal,
pengalaman, membuat masuk akal (sense making) dan interaksi
sosial. Hal ini berarti bahwa apabila guru tanpa memperhatikan
konsep awal siswa sebelum pembelajaran, maka guru tidak akan
berhasil menanamkan konsep yang benar, bahkan akan
memunculkan sumber kesulitan belajar selanjutnya, Dykstra, et al.,
(1992)


Ausubel (1989) menyatakan bahwa dengan mengaitkan konsep
awal siswa terhadap konsep baru yang sedang dipelajari, belajar akan
bermakna dan informasi yang diberikan akan bertahan lama. Prinsip
belajar tersebut sesuai dengan prinsip mengajar menurut pandangan
konstruktivisme.
Dahar R.W (1989) menyatakan bahwa prinsip yang paling umum
dan essensial yang dapat diturunkan dari konstruktivisme ialah bahwa
siswa memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah, dan
pendidikan seharusnya memperhatikan hal itu dan menunjang proses
ilmiah ini. Dasar pemikiran dari konstruktivis ialah bahwa pengajaran
efektif menghendaki agar guru mengetahui bagaimana para siswa
memandang fenomena yang menjadi subyek pengajaran.

Dasar pemikiran para konstruktivis ialah bahwa pengajaran efektif
menghendaki agar guru mengetahui bagaimana para siswa
memandang fenomena yang menjadi subjek pengajaran. Pelajaran
kemudian dikembangkan dari gagasan yang telah ada itu, mungkin
melalui langkah-langkah intermediate dan berakhir dengan gagasan
yang telah mengalami modifikasi (Dahar,R.W,1989).