Perencanaan Belum Diedit
Download
Report
Transcript Perencanaan Belum Diedit
BAB I
SEJARAH
PERENCANAAN
SEJARAH PERKEMBANGAN
PERENCANAAN DI INDONESIA
Perencanaan tertulis secara ilmiah di Indonesia diawali pada tahun
1947 dimana Soekarno membentuk :
Panitia pemikir siasat ekonomi yang diketahui oleh Drs. Muhamad Hatta
yang dikenal deklarasi: Dasar pokok dari pada plan mengatur ekonomi
Indonesia
Tahun
1948 – 1950
Menyusun plan bidang pertanian, peternakan, perindustrian dan
kehutanan.
Tahun
1951 – 1952
Dibentuk Dewan Perencanaan Nasional (Depernas)
Depernas RPNSB ini menjadi cikal bakal terbentuknya Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional. (Bappenas).
Tahun
1961 – 1969
Disusun Rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana
Pada awalnya kita menganut perencanaan tradisional (Traditiaonal Planing)
dimana kita menyediakan anggaran terlebih dahulu setelah terkumpul dana
baru menyusun rencana. Perencanaan tradisional, rencana dikendalikan oleh
dana dan daya
PERENCANAAN MODERN
Dimulai lahirnya REPELITA yang menganut PPBS (Planing
Programming Budgeting Sistem) berdasarkan :
DUK – Daftar Usulan Kegiatan
DIK – Daftar Isian Kegiatan
DIP – Daftar Isian Proyek
Para perencana modern lebih mengutamakan membuat rencana,
sasaran dan program baru dijabarkan dalam anggaran.
Tahun 1982 terkenal dengan Perencanaan terpadu yang terkenal
dengan SP4 atau Sistem Perencanaan Penyusunan Program dan
Pengangguran
Perkembangan Perencanaan Pendidikan
Menurut Keputusan Mendikbud No. 229
Menggunakan
model “Net Work Planning” atau Perencanaan Jaringan
Laba-laba
Yaitu perencanaan disusun dari unit-unit terkecil berdasarkan alur
kegiatan dan waktu serta biaya yang jelas
Model
LAN = Lokal Area Network
Dimana tempatnya model perencanaan yang digunakan unsur-unsur
terkecil yang harus digunakan serta dana yang disediakan
Model
= Wide Area Network
Hampir sama dengan LAN ditambah pengaruh lingkungan misalnya
perbedaan harga material dan pengaruh sosial politik menjadi bahan
pertimbangan formal, rasional dan operasional
Model
Intra dan Inpra Internet
Gambaran perencanaan melalui komputer dan pertimbangan
perencanaan pendidikan dikaitkan denga Asta Grata
ASTA GRATA
Model perencanan terpadu antara unsur-unsur material dipadukan
dengan delapan aspek kehidupan masyarakat yaitu :
Idologi = yaitu perencanaan harus mempertimbangkan adat istiadat dan
cita-cita masyarakat
Politik yaitu perencanaan mudah diterima oleh masyarakat sehingga
kebijakan perencanaan mendapat dukungan seluruh lapisan masyarakat
Ekonomi yaitu perencanaan harus mempertimbangkan keadaan ekonomi
masyarakat
Sosial yaitu perencanaan harus sesuai dengan kondisi sosial masyarakat
setempat
Budaya yaitu perencanaan pendidikan dapat mempertahankan dan
mengembangkan budaya setempat menuju arah modernisasi
Pertahanan = setiap perencanaan harus tetap mempertahankan etika
moral dan akhlak
Keamanan = perencanaan pendidikan jangan menimbulkan gejolak tetapi
harus menjamin rasa aman dan nyaman
Pemerataan = perencanaan harus menjamin prinsip keadilan bagi seluruh
lapisan masyarakat
BAB II
DASAR-DASAR
PERENCANAAN
PENGERTIAN PERENCANAAN
Menyusun
sejumlah kegiatan yang ditetentukan sebelumnya pada suatu
periode tertentu dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan
(Biro Perencanaan Depdikbud)
Perencana adalah proses pemilih dan penetapan tujuan, sasaran, strategi,
prosedur, metode, anggaran dan standar keberhasilan suatu kegiatan
(Prof DR Hadari Nawawi)
Perencanaan adalah kegiatan persiapan merumuskan dan menetapkan
keputusan tentang langkah-langkah penyelesaian masalah dalam
pelaksanaan suatu masalah pekerjaan secara terarah untuk mencapai
suatu tujuan
Perencanaan dapat diartikan sebagai keseluruhan proses pemikiran dan
penentuan tujuan secara matang dari hal-hal yang akan dikerjakan
dimasa yang akan datang dalam rangka mencapai tujuan yang telah
ditetapkan (Siagian)
Perencanaan adalah suatu proses penyiapan seperangkat keputusan
untuk dilaksanakan pada waktu yang akan datang yang diarahkan pada
sasaran tertentu (J Dror)
Perencanaan adalah proses yang menggabungkan pengetahuan dan
teknik ilmiah ke dalam kegiatan yang terorganisir
PENGERTIAN PERENCANAAN
“Planning is process by wich a scientifie an technical knowledge is joined
to organized action” (Friedman 1978)
Perencanaan adalah suatu urutan tindakan, perkiraan biaya serta
penggunaan waktu untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas data
dengan memperhatikan prioritas yang wajar dan efisien untuk mencapai
tujuan
Prajudi Atmosudirdjo
Perencanaan adalah perhitungan dan penentuan tentang sesuatu yang
akan dijalankan dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
Bilamana, oleh siapa, bagaimana, di mana dan seterusnya
Dari beberapa difinisi di atas dapat kita analisis dan ditarik beberapa butir
penting dan dapat dijadikan pegangan dalam menyusun suatu rencana
sebagai berikut :
Perencanaan berhubungan dengan hari depan
Perencanaan menggambarkan seperangkat kegiatan
Perencanaan merupakan proses yang sistematis
Perencanaan menggambarkan hasil dan tujuan tertentu
“Planning is future thinking planning is controlling the future planning
is decision making”
FUNGSI PERENCANAAN
Sebagai “a prerequisite to Action”
Berhasil atau gagalnya suatu kegiatan banyak ditentukan oleh
ketepatan dalam menyusun rencana dan difungsikan seoptimal
mungkin.
Dengan demikian fungsi perencanaan itu sebagai berikut :
a) merupakan penjabaran visi dan misi suatu lembaga pendidikan.
b) merupakan titik tolak dan alat menjabarkan tujuan umum ke
tujuan khusus yang lebih spesifik.
c) merupakan pedoman dan arah kegiatan sehingga jelas langkah
yang akan dilakukan tersusun secara sistematis.
d) dapat menggambarkan proses kerja sama dan koordinasi yang
harmonis agar dapat menciptakan suasana kerja yang
demokratis.
FUNGSI PERENCANAAN
e)
dapat mengurangi pemborosan waktu, tenaga, biaya dan segala
sesuatu yang mungkin terjadi.
f)
memudahkan pengawasan dan dapat menjadi standar atau alat
ukur keberhasilan dan kegagalan suatu kegiatan.
g)
merupakan alat evaluasi yang terstruktur dengan jalan
membandingkan antara rencana dan kegiatan yang harus
dilaksanakan. Oleh sebab itu perencanaan yang baik bersifat
komprehensip dan menggambarkan langkah-langkah yang jelas
sejak awal kegiatan sampai akhir kegiatan.
h) harus mempermudah penyesuaian antara kondisi dan situasi dan
dapat mempermudah dalam mengadakan “Adjusting”
(penyesuaian dalam arti psikis), “re-Adjusting” dan
“re-Planning”. Jika dianggap perlu sebagai koreksi perbaikan.
PRINSIP-PRINSIP PERENCANAAN
1)
2)
3)
4)
5)
harus berpedoman pada visi, misi dan tujuan umum yang
mampu menggambarkan secara jelas dan operasional.
Perencanaan harus menggambarkan proses dan hasil
pemikiran secara kooperatif.
harus didasari oleh fakta, data dan kebutuhan yang objektif,
karena rencana tidak boleh berbentuk cita-cita atau impian
belaka, akan tetapi rencana harus “feasible”
harus dimulai dengan “feasibility study” yaitu setiap akan
menyusun perencanaan perlu menganalisa dan meneliti
tentang kemungkinan apakah gagasan masa depan dapat
diwujudkan.
harus fleksibel, karena kemampuan berfikir dan meramalkan
masa depan bagi manusia sangat terbatas. Oleh sebab itu
perencanaan harus memperkirakan kemungkinan yang bakal
terjadi.
PRINSIP-PRINSIP PERENCANAAN
6)
harus mengandung unsur-unsur evaluatif sejak awal sampai
akhir kegiatan sebagai bahan pertimbangan “re-Planning”.
7)
harus menggambarkan tujuan umum sampai tujuan khusus
berikut tujuan tahapan kegiatan.
8)
memerlukan kepemimpinan (Leadership) yang disiplin,
komitmen dan konsisten. Karena rencana yang akan
bermanfaat harus ditaati bersama. Bentuk menciptakan
kebersamaan diperlukan sorang pemimpin yang disiplin,
komitmen dan konsisten.
PROSEDUR PERENCANAAN
A. Tahap Persiapan (Conceptual Of The Problem)
Pengumpulan Data
Analisa Data
Mengadakan : “Force-Casting”
B. Tahap Penyusunan Rencana (Translition Of The Concept Into
Opersional Terms)
Perumusan tujuan
Penentuan cara kerja atau metode operasional
Menyusun seluruh komponen-komponen perencanaan
Perumusan kebijakan
SYARAT-SYARAT
SEORANG PERENCANA
Menguasai
pengetahuan bidang kegiatan yang akan
direncanakan.
Memiliki
pengetahuan tentang potensi siswa dan guru
secara psikologis, paedagogis dan sosial
Mempunyai
pemahaman dan pengetahuan tetang didaktik,
metodik dan proses belajar
Dapat
memperhitungkan faktor waktu
BAB III
JENIS PERENCANAAN
JENIS-JENIS PERENCANAAN
Perencanaan
Jangka Panjang dan Jangka Pendek
Perencanaan
Alokatif (allocative Planning)
Perencanaan
atas dasar kerjasama (Cooporate Planning)
Perencanaan
atas dasar kepentingan peserta (Partisipant
Planning)
Perencanaan
Inovatif (Innovative Planning)
Perencanaan
Strategis (Strategic Planning)
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN JANGKA PANJANG DAN JANGKA PENDEK
Tujuan suatu usaha tidak sama kesukarannya, ada yang mudah
dicapai dalam waktu singkat tanpa memerlukan banyak waktu,
banyak tenaga, biaya dan sarana yang diperlukan.
Bila tujuan yang ingin dicapai memiliki tingkat kesukaran tinggi
maka memerlukan perencanaan jangka panjang dan juga
memerlukan waktu cukup lama karena pencapaian tujuan
memerlukan tahapan dan berjenjang, dan sebaliknya
Oleh sebab itu ada rencana jangka panjang dan jangka pendek
Didalam dunia pendidikan memerlukan perencanaan jangka
panjang “institutions For Lfei”
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN JANGKA PANJANG DAN JANGKA PENDEK
Sebuah rencana, bagaimanapun baik atau lengkapnya rencana tersebut
belum tentu bisa memberikan jaminan mutlak dan berhasil untuk
mencapai tujauan secara maksimal. Karena itu perlu diperhatikan halhal sebagai berikut :
Perencanaan bukan ramalan tantang masa depan.
Perencanaan bukan kepastian yang akan datang (future Decissions)
tetapi merupakan kemungkinan yang perlu diperjuangkan dengan
sungguh-sungguh.
Perencanaan bisa mencapai kewajiban dan mengurangi resiko bila
perencanaannya baik.
Perencanaan memerlukan data masa lalu, semakin banyak data yang
lalu maka makin kecil dasar-dasar pemikirian untuk menyusun
tahap-tahap proyeksi perencanaan masa depan. Karena itulah
perencanaan jangka pajang (Long Range Planning) memerlukan data
statistik yang valid dan reliabel.
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN ALOKATIF (ALLOCATIVE PLANNING)
Perencanaan alokatif (allocative Planning) memilki ciri dan
sasaran penyebaran sumber-sumber yang jumlahnya
terbatas. Sedangkan kegitan-kegiatan dan pihak-pihak yang
membutuhkan informasi atau sumber-sumber ini tersebut
sangat banyak.
Sumber-sumber tersebut membutuhkan suatu rencana
alokatif baik dari pusat atau daerah berbentuk P.P.B.S
(Planning, Programming, and Budgeling Sistem),
merupakan salah satu contoh yang sering digunakan dalam
penentuan alokatif.
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN ALOKATIF (ALLOCATIVE PLANNING)
Di Indonesia, suatu bentuk perencanaan yang dimodifikasi dari
PPBS sistem perencanaan penyususnaan program dan
penganggaran (SP4).
SP4 pada dasarnya adalah untuk mencapai tujauan yang telah
ditetapkan terlebih dahulu dengan memanfaatkan sumber daya
yang tersedia atau dapat disediakan secara bertahap. SP4 memiliki
unsur-unsur penting yang berkaitan secara langsung dengan
landasan pengembangan sistem administrasi yang berlaku secara
nasional, baik administrasi pembangunan maupun administrasi
rutin.
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN ALOKATIF (ALLOCATIVE PLANNING)
Dengan demikian SP4 didasarkan atas pertimbangan
ketetapan kegunaan biaya yang terbatas tetapi sasaran
pencapaina tujuan pendidikan lebih efektif dan efisien,
diantaranya :
1. Perencanaan model SP4 yang dikembangkan memiliki
beberapa unsur :
a) adalah siklus operasi yang menggambarkan dan
mengatur semua urutan dan jadwal kegiatan
admisnistratif bagi semua perangkat dilingkungan
lembaga
b) struktur program terbagi 2 yaitu, untuk program
pengembangan dan untuk program kegiatan rutin
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN ALOKATIF (ALLOCATIVE PLANNING)
2.
Karakterisitik SP4 dan sekaligus merupakan sifat-sifat SP4
sendiri meliputi lima macam:
a. pendekatan perencanaan yang digunakan adalah pendekatan
“sistem approach”.
b. berorientasi pada hasil, sehingga pengkajian suatu rencana
dilakukan dengan mempertimbangkan hasil atau keluaran
(Output) yang akan dicapai, sebagai konsekuensi sikap
rencana atau program harus memuat visi-misi dan sasaran
yang jelas serta dinyatakan secara khusus
c. SP4 didasarkan atas struktur program yang baku dan telah
ditetapkan.
d. Adanya keseimbangan antara otonomi dan pengarahan.
e. Bekerja atas dasar rencana yang menggelinding (Rolling Plan).
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN ALOKATIF (ALLOCATIVE PLANNING)
3. Implementasi
perencanaan alokatif model SP4 :
a. Semua pihak yang terlibat dalam perencanaan, khususnya
perencanaan SP4 wajib menghayati karakteristik SP4 dengan
tepat
b. Adanya partisipasi aktif dari semua pihak yang berkepentingan
c. Adanya perangkat yang menunjang perencanaan secara
berlanjut berdasarkan ketentuan administrasi
d. Adanya disiplin waktu dengan berpedoman pada siklus
perencanaan yang telah ditetapkan
e. Adanya kesungguhan pelaksanaan dan kesepakatan serta
dukungan untuk mengiplementasikan SP4 secara tuntas
f. Adanya kemampuan untuk menghayati permasalahan pokok
ditingkat kelas dan kaitan benang merah dengan permasalahan
pendidikan nasional.
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN ALOKATIF (ALLOCATIVE PLANNING)
Ciri-ciri perencanaan alokatif :
a) Perencanaan dilakukan secara komprehensip atau menyeluruh,
karena setiap unsur berhubungan erat antara perencanaan
dengan kegiatan & penilaian untuk mecapai tujuan. Tujuan harus
dirumuskan dengan jelas berikut tahap kegiatan yang harus
dilaksanakan kemudian hasilnya harus diamati apakah sesuai
dengan tahap perencanaan, kemudian diukur dan dinilai, apakah
tepat mencapai tujuan-tujuan khusus sampai tujuan umum.
b) Adanya keseimbangan dan keseraisan antara komponenkomponen pendidikan. Ciri ini memberi gambaran bahwa
masalah-masalah yang identifikasi atau ditetapkan seperti
rencana kurikulum, tenaga pendidikan, fasilitas, waktu dan biaya.
Begitu pula pengaruh kondisi lingkungan seperti sosial budaya,
adat istiadat masyarakat, berikut permodalan, pemasaran,
informasi disesuaikan secara seimbang dengan karakter dan
potensi anak didik. Cara mengukur keseimbangan ini melalui
analisis kuantitatif dan kualitatif.
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN ALOKATIF (ALLOCATIVE PLANNING)
Ciri-ciri perencanaan alokatif :
c)
Adanya alasan edukatif profesional dan fungsional untuk
melakukan perencanaan. Ciri ini menunjukan bahwa
perancangan alokatif disaratkan adanya proses pengambilan
keputusan berdasarkan sarana-sarana pendidikan secara
nasional sesuai dengan masalah yang sedang menjadi garapan
utama.
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN ALOKATIF (ALLOCATIVE PLANNING)
Tipe-tipe perencanaan alokatif Friedman (1973) :
a)
b)
c)
d)
Perencanaan atas dasar perintah (Command Planning)
Perencanaan atas dasar kebijakan (Policies Planning)
Perencanaan atas dasar kerjasama (Cooporate Planning),
dan
Perencanaan atas dasar kepentingan peserta (Participant
Planning)
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN ALOKATIF (ALLOCATIVE PLANNING)
Urutan tentang tipe-tipe perencanaan alokatif dan impelementasi
berikut implikasinya daram perencanaan pendidikan dibahas
sebagai berikut :
Perencanaan atas dasar perintah (Command Planning)
menggambarkan birokrasi yang kuat. Pakar perencana hanya
berperan sebagai tenaga spesialis, bukan tenaga praktis yaitu
konsultan perencanaan.
Perencanaan atas dasar kebijakan (Policies Planning)
ditandai kehadiran para pakar perencanaan yang berperan
sebagai penasihat (Advisor), yang telah ditetapkan sebelumnya
untuk terwujudnya proses pengambilan keputusan diadakan
pengawasan
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN ATAS DASAR KERJASAMA (COOPORATE PLANNING)
Tipe perencanaan ini ditandai oleh para pakar perencanaan yang
berperan sebagai penghubung dalam perundungan-perundingan
antara berbagai pihak yang terlibat dalam perencanaan
Cara perundingan yang biasa digunakan dalam kegiatan ini adalah
pengajuan dan saling menghadapi betul-betul usulan gagasan,
pendapat dan alasan-alasan diantara peserta.
Dalam perencanaan ini, proses kegiatan lebih diutamakan daripada
hasil yang akan dicapai
Untuk mengurangi dominasi institusi yang bersekutu berlebihan
diperlukan pengawasan dari organisasi yang lebih tinggi atau
koordinasi yang terbaik agar terjalin keseimbangan kekuatan dan
peran bersama.
Keuntungan model perencanaan ini dijadikan proses saling belajar
diantara anggota yang saling berkepentingan.
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN ATAS DASAR KEPENTINGAN PESERTA
(PARTICIPANT PLANNING)
Participant Planning terjadi apabila proses pengambilan keputusan
tentang rencana untuk memecahkan masalah nasional, atau
melaksanakan tugas nasional, ditawarkan atau diserahkan kepada
lembaga-lembaga kemasyarakatan yang dibentuk oleh masyarakat
dan tersebar dimasyarakat.
Tiga ciri umum :
1) Wewenang untuk mengambil keputusan dalam perencanaan
diserahkan kepada lembaga-lembaga kemasyarakatan,
2) Pihak perencana berperan sebagai pengorganisasi kegiatan
perencanaan dan penasihat (Advisor) dari para perencana dari
lembaga-lembaga tersebut sehingga terjadi pertisipasi aktif
dalam proses pengambilan keputusan.
3) Pengawasan terhadap perencanaan dilakukan secara sukarela
oleh lembaga kemasyarakatan dan masyarakat itu sendiri.
KARAKTERISTIK KEEMPAT TIPE PERENCANAAN
1.
2.
3.
Urutan keempat tipe perencanaan itu menggambarkan distribusi kekuatan
yang dimulai dari kekuatan yang terpusat (sentralisasi) menuju kekuatan
yang desentralisasi. Dalam hal ini hubungan kemanusiaan makin
berkembang dari sifatnya yang ketat (dalam perencanaan atas dasar
perintah) ke arah yang lebih longgar (perencanaan atas dasar kepentingan
peserta). Pada gilirannya, ketergantungan pada sumber-sumber, pedoman
yang ketat, dan bahan-bahan kepada lembaga tingkat pusat makin
berkurang sejalan dengan pergeseran dari perencanaan atas dasar perintah
ke perencanaan atas dasar kepentingan peserta.
penggunaan keterampilan mempengarui pihak lain sangat diperlukan dalam
perencanaan atas dasar perintah namun makin kurang diperlukan dalam
perencanaan atas dasar kepentingan peserta.
perencanaan atas dasar perintah dan perencanaan atas dasar kebijaksanaan
dapat digabingkan. Gabungan ini akan saling menguatkan. Dalam
perencanaan atas dasar perintah relatif sulit untuk mengendalikan semua
kegiatan guna mencapai tujuan. Apabila pengendalian dari lembaga tingkat
pusat dalam keadaan lemah maka diperlukan pengendalian tidak langsung
yaitu berupa kebijaksanaan yang menjadi arahan bagi lembaga-lembaga
tingkat daerah.
KARAKTERISTIK KEEMPAT TIPE PERENCANAAN
4.
penggunaan gabungan perencanaan atas dasar kebijaksanaan dan
atas dasar persekutuan perlu dilakukan apabila kekuatan lembaga
tingkat pusat dan bentuk persekutuan dalam keadaan lemah. Kedua
tipe perencanaan ini menunjukkan hubungan yang logis karena
perundingan dan proses tawar-menawar kepentingan masingmasing lembaga yang bersekutu sering menghasilkan pernyataanpernyataan dalam rumusan kebijaksanaan .
5.
penggunaan gabungan perencanaan atas dasar persekutuan dan
perencanaan atas dasar kepentingan peserta makin dirasakan
penting sejalan dengan berkembangnya tuntutan penerapan
kehidupan demokratis sehingga semua pihak dapat berpartisipasi
aktif dalam pengambilan keputusan yang meyangkut kehidupan
lembaga dan masyarakat.
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN INOVATIF (INNOVATIVE PLANNING)
Innovative Planning dapat diartikan sebagai proses perencanaan yang
menitik beratkan pada kegiatan untuk menumbuhkan perubahan fungsi
dan wawasan kelembagaan dalam memecahkan masalah yang
menyangkut kehidupan masyarakat
Perencanaan ini biasanya diarahkan untuk memecahkan masalah-masalah
sosial yang menyangkut pengangguran, kemiskinan, rendahnya pendidikan
masyarakat pedesaan, kesemrawutan daerah kumuh di perkotaan,
kegagalan sistem pendidikan, kependudukan, penaggulangan kenakalan
anak-anak, dan lingkungan hidup.
Chamberlain (1965) dalam bukunya “Private and Public Planning”,
menjelaskan bahwa perencanaan inovatif adalah tipe perencanaan baru
untuk menghadapi masalah-masalah besar yang tidak dapat dipecahkan
dengan perencanaan konvensional, melainkan harus menggunakan suatu
pola kegiatan baru.
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN INOVATIF (INNOVATIVE PLANNING)
Karakteristik utama perencanaan inovatif adalah :
1. adanya pembentukan lembaga baru,
2.
orientasi pada tindakan atau kegiatan, dan
3.
penggerakan sumber-sumber yang diperlukan
JENIS-JENIS PERENCANAAN
PERENCANAAN STRATEGIS (STRATEGIC PLANNING)
Perencanaan strategis adalah bagian dari manajemen strategis (straregic
management). Fungsi-fungsi manajemen strategis dirumuskan oleh Peter
Drucker dalam bukunya "Manging in Turbulent Time" sebagai berikut :
"The primary tasks of strategic management are to understand the environment,
define organizational goals, identity options, make and implement decisions, and
evaluate actual performance. Thus, strategic planning aims to exploit the new
and diffirent opportunities of tomorrow, in contrast to long range planning,
which tries to optimize for tomorrow the trends of today”. (Drucker,1980:61)
Menurut pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, fungsi-fungsi
manajemen strategis adalah memahami lingkungan, menentukan tujuantujuan organisasi, mengidentifikasi pilihan alternatif, membuat dan
melaksanakan keputusan-keputusan, dan mengevaluasi penampilan tugas
yang nyata.
Jadi, perencanaan strategis betujuan untuk mendayagunakan berbagai
kesempatan baru dan berbeda yang mungkin terjadi pada masa yang akan
datang, berlainan dengan perencanaan yang panjang yang mencoba
mengoptimasi kecenderungan-kecenderungan yang terjadi masa kini untuk
masa yang akan datang.
BAB IV
IMPLEMENTASI
PERENCANAAN
PEMBELAJARAN SCL
A. Pengertian Pembelajaran SCL
B. Perencanaan Metode Pembelajaran Student
Centered Learning
A. PENGERTIAN PEMBELAJARAN SCL
Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan terencana,
terprogram dalam desain FEE (facilitating, empowering, enabling)
agar siswa/mahasiswa belajar secara aktif dan menekankan pada
sumber belajar;
Pembelajaran merupakan proses pengembangan kreativitas berfikir
yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa/mahasiswa
serta dapat meningkatkan kossentrasi dalam mengkonstruksi
pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan dan
pengembangan materi pelajaran
Sedangkan SCL adalah pembelajaran yang terpusat pada aktivitas
belajar siswa, bukan hanya aktivitas guru atau dosen mengajar.
SITUASI PEMBELAJARAN DALAM
SCL
DIANTARANYA:
1.
Siswa belajar baik secara individu maupun kelompok
dengan cara mencari dan menggali sendiri informasi daa
teknologi yang dibutuhkannya secara aktif dari pada
sekedar menjadi pendengar dan penerima pengetahuan
dari guru secara pasif.
2.
Guru/dosen lebih berperan sebagai FEE dan guides on
the sides daripada mentor in the center, yaitu manbantu
siswa mengakses informasi, menata materi dan
mentransfer guna menemukan solusi terhadap
permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari dari
pada gate keeper of information
SITUASI PEMBELAJARAN DALAM
SCL
DIANTARANYA:
3.
4.
5.
Siswa tidak hanya kompeten dalam bidang ilmunya,
tetapi juga harus kompeten dalam cara belajar. Artinya
siswa tidak hanya menguasai isi materi pelajaran tetapi
mereka juga memahami tentang bagaimana cara belajar
(learn how to learn) melalui discovery, inquiry dan
problem solving dan terjadi pengembangannya.
Belajar bukan duduk diam tetapi aktivitas komunitas
yang difasilitasi oleh guru/dosen yang mampu mengelola
pembelajarannya menjadi berorientasi pada kegiatan
siswa.
Belajar yang baik memanfaatkan teknologi dan sumber
informasi pembelajaraa dalam mencapai keterampilan
belajar yang utuh (intelektual, emosional dan
psikomotor) yang dibutuhkan.
Inilah contoh belajar dan pembelajaran yang berpusat pada siswa
(SCL).Siswa atau mahasiswa, bukan hanya didominasi aktivitas
guru/dosen dalam mengajar.
Ciri-ciri SCL diantaranya sebagai berikut :
a.
Siswa atau mahasiswa bisa belajar secara individu maupun
kelompok dalam membangun pengetahuan dengan cara
mencari sendiri dan menggali sendiri informasi dan teknologi
yang dibutuhkarmya secara aktif daripada mendengarkan
ceramah, penerima pengetahuan secara pasif
b.
Guru/dosen lebih berperan sebagai FEE dan guides on the
sides daripada mentor in the center, yaitu manbantu siswa
mengakses informasi, menata materi dan mentransfer guna
menemukan solusi terhadap permasalahan nyata dalam
kehidupan sehari-hari dari pada gate keeper of information.
Ciri-ciri SCL diantaranya sebagai berikut :
c.
Siswa tidak hanya kompeten dalam bidang ilmunya, tetapi juga
harus kompeten dalam cara belajar. Artinya siswa tidak hanya
menguasai isi materi pelajaran tetapi mereka juga memahami
tentang bagaimana cara belajar (learn how to learn) melalui
discovery, inquiry dan problem solving dan terjadi
pengembangannya.
d.
Belajar bukan duduk diam tetapi aktivitas komunitas yang
difasilitasi oleh guru/dosen yang mampu mengelola
pembelajarannya menjadi berorientasi pada kegiatan siswa.
e.
Belajar yang baik memanfaatkan teknologi dan sumber
informasi pembelajaran dalam mencapai keterampilan belajar
yang utuh (intelektual, emosional dan psikomotor) yang
dibutuhkan
B. PERENCANAAN METODE PEMBELAJARAN
STUDENT CENTERED LEARNING
Perbedaan pembelajaran berbasis Teacher centered dengan Student
centered Iearning
Teacher Centered
Pengetahuan
guru ke siswa
ditransfer
Student Centered Learning
dari Siswa secara aktif mencari pengetahuan dan
keterampilan yang akan dipelajari
Siswa menerima pengetahuan
secara pasif
Lebih
menekankan
pada
penguasaan materi
Siswa secara aktif terlibat di dalam mengembangkan
pengetahuan
Fungis guru atau pengajar
sebagai informasi ilmu utama
atau evaluator
Fungsi guru sebagai fasilator dan evaluasi dilakukan
bersama dengan siswa
Guru biasanya menggunakan
metode dan media tunggal.
Proses pembelajaran secara
terpisah dengan penilaian
Guru menggunakan metode multy system dan
multimedia. Proses pembelajaran dan penilaian
dilakukan saling berkesinambungan dan terintegrasi
Tidak hanya penguasaan materi tapi memahami
manfaat materi dalam kehidupan (life long learning)
Perbedaan pembelajaran berbasis Teacher centered dengan Student
centered Iearning
Teacher Centered
Iklim belajar individual pasif
Student Centered Learning
Iklim belajar yang kreatif dikembangkan secara
kolaboratif, suportif dan kooperatif
Hanya siswa yang dianggap Siswa dan guru belajar bersama di dalam
pandai berani melakukan proses mengembangkan pengetahuan, konsep, prinsip
belajar
berbentuk keterampilan
Transfer ilmu pengetahuan
merupakan bagian terbesar
dalam proses pembelajaran
Lebih
menekankan
pada
penguasaan materi
Siswa belajar tidak hanya dari guru saja tapi dapat
menggunakan berbagai sumber metode dalam kegiatan
Penekanan pada tuntasnya
materi pembelajaran
Penekanan pada kompetensi peserta didik
diimpelentasikan pada keterampilan
Aktivitas pada bagaimana guru
melakukan pembelajaran
Aktivitas tampak cara siswa belajar yang diimbangi
guru dengan menggunakan berbagai bahan pelajaran,
motede interdisipliner penekanan pada problem based
learning dan skill compilency
Tidak hanya penguasaan materi tapi memahami
manfaat materi dalam kehidupan (life long learning)
PENDEKATAN PEMBELAJARAN SCL
Pendekatan dan metode merupakan satu kesatuan yang utuh.
Pendekatan pembelajaran sifatnya aksiomatis tidak tersurat
dalam rencana pembelajaran, tetapi tersirat dalam benak hati
guru masing-masing
Pendekatan pembelajaran berperan sebagai pemandu kegiatan
belajar yang menunjukkan prilaku hasil belajar yaitu kemana
prilaku belajar siswa. walaupun tidak tersurat dalam
perencanaan pembelajaran, tetapi tidak salah bila guru
menyusun pendekatan setiap pokok bahasan secara sistematis.
PENDEKATAN PEMBELAJARAN SCL
Pendekatan pembelajaran SCL diperlukan dengan alasan sebagai
berikut:
a. Untuk mengantisipasi dan mengakomodasi perubahan
dalam bidang sosial, politik, ekonomi, teknologi dan
lingkungan yang menyebabkan informasi dalam buku-buku
teks dan artikel-artikel yang ditulis lebih cepat kadaluwarsa.
b. Di masa mendatang dunia kerja membutuhkan tenaga kerja
yang berprestasi baik, yang mamilliki kerja sama dalam tim,
memiliki kemampuan memecahkan masalah secara efektif,
memproses dan memanfaatkan informasi, serta mampu
memanfaatkan teknologi secara efektif dan lulusan mampu
bersaing dalam pasar global dalam rangka meningkatkan
produktivitas.
PENDEKATAN PEMBELAJARAN SCL
Perencanaan Pembelajaran yang Dapat Digunakan Dalam SCL :
Metode pembelajaran yang dapat diklasifikasikan dalam
pembelajaran SCL diantarmya:
a) Small
group discussion
b) Role play and simulation
c) Case study
d) Discovery learning (DL)
e) Self directed Iearning (SDL)
f) Cooperative learning (CL)
g) CoIlaborative learning (CbL)
h) Contextual instruction (CI)
i) Project based learning an Inquiry (PjBL)
j) Problem based learning inquiry (PBLI)
METODE PEMBELAJARAN
SCL
a. Small group discussion
Diskusi merupakan multy system dan merupakan salah satu
elemen interaksi belajar mengajar secara aktif. Perencanaan yang
dibuat guru yang dijadikan pedoman diskusi kecil adalah sebagai
berikut :
Penentuan tema dan tujuan lebih attractive dan motivative
yaitu menarik perhatian para peserta dan merangsang rasa
ingin tahu
Menetukan waktu dan tempat
Melaksanakan
diskusi dengan cara menentukan ketua
sekertaris dan fungsionaris diskusi lainnya. Syarat-syarat ketua
diskusi harus pandai menahan diri, toleran dan akseptan,
adaptable, memahami masalah, obyektif bijaksana, ramah,
penuh kesabaran.
Menetapkan anggota kelompok kecil antara 5 orang sampai 10
orang
METODE PEMBELAJARAN
a.Small group discussion
SCL
Tujuan small group discussion yang diharapkan agar
siswa/mahasiswa :
1) Menjadi pendengar yang baik
2) Bisa bekerjasama untuk tugas yang sama
3) Bisa membangun sikap memberi dan menerima
4) Menghormati perbedaan pendapat
5) Mendukung pendapat yang rasional ilmiah
6) Menghargai sudut pandang yang bervariasi
METODE PEMBELAJARAN
a.Small group discussion
SCL
Aktivitas diskusi kelompok kecil dapat berupa:
Menguasai materi dan membangkitkan ide
Mayimpulkan poin penting dari pokok bahasan
Mengakses relevansi ilmu pengetahuan dan keterampilan
Mengkaji kembali topic diskusi kelas sebelumnya
Menelaah tugas, quiz atau tugas menulis dari guru
Memproses outcome pembelanjaan pada akhir semester atau
akhir kelas
Memberi komentar tentang materi inti
Membandingkan teori, isu, interprestasi dan implementasi
materi yang dibahas
Menyelesaikan masalah nyata
Brainstroming
METODE PEMBELAJARAN
SCL
b. Metode Simulasi
Metode Simulasi adalah model mengajar yang membawa situasi
yang mirip dengan sesungguhnya ke dalam kelas. Misalnya
praktik wudlu, tayamum atau aplikasi instrumentasi siswa
diminta mempraktikan melalui benda sesungguhnya atau benda
tiruan.
Simulasi dapat berbentuk:
1) Permainan peran (role playing), dimana setiap siswa dapat
diberi peran masing-masing misalnya sebagai direktur,
enginering bagian pemasaran dan lainnya.
2) Simulation exercices and simulation games
3) Model rcrmailan computer main bola, dsb.
METODE PEMBELAJARAN
SCL
b. Metode Simulasi
Simulasi dapat mengubah Cara pandag (mindset) siswa dengan
jalan:
a) Mempraktikan kemampuan umum misalnya komunikasi
verbal dan non verbal
b) Mempraktikan kemampuan khusus
c) Meempaktikan kemampuan tim
d) Mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah
(problem solving).
e) Menggunakan kemampuan sintetis
METODE PEMBELAJARAN
SCL
c. Perencanaan Pengembangan Metode Discovery Learning
(DL)
adalah metode belajar yang difokuskan pada pemantapan
infomasi yang bersumber dari berbagai media dan bersumber
dari guru atau yang dicari sendiri oleh siswa/mahasiswa
untuk membangun pengetahuaa dengan cara belajar sendiri.
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar DL bisa dilaksanakan
di laboratorium, perpustakaan atau melalui internet.
METODE PEMBELAJARAN
SCL
d. Perencanaan Pembelajaran Self Discated Learning (SDL)
adalah perencanaan proses belajar mengajar yang dilakukan
atas inisiatif siswa atau mahasiswa sendiri. Dalam hal ini,
perencanaan, pelaksanaan dan penilaian terhadap
pengalarnan belajar yang telah dialami, dikaji ulang oleh
individu maupun kelompok. Sementara guru/dosen hanya
bertindak sebagai pengarah, motivator dan fasilitator
berbentuk bimbingan dan konfirmasi terhadap kemajuan
belajar yang telah dilakukan individu tersebut.
METODE PEMBELAJARAN
SCL
d.Perencanaan Pembelajaran Self Discated Learning (SDL)
Manfaat belajar mandiri adalah sebagai berikut :
1) Pengalaman merupakan sumber belajar dan modal hidup, yang sangat
berharga.
2) Kesiapan belajar perlu direncanakan karena merupakan tahap awal
menjadi pembelajar mandiri
3) Orang tua yang sukses banyak belajar dari pengalaman dalam
pemecahan masalah daripada materi pembelajaran. Oleh sebab itu
gabungkanlah pengalaman dengan materi pembelajaran di sekolah
4) Pengakuan penghargaan dan dukungan terhadap proses belajar orang
dewasa perlu diciptakan dalam lingkungan belajar. Dalam hal ini
guru/dosen saling menghargai, menghormati, melengkapi dalam
membangun pengetahuan yang bermanfaat untuk masa depan.
METODE PEMBELAJARAN
SCL
e. Perencanaan Pembelajaran Coorporative Learning(CL)
adalah perencanaan metode belajar berkelompok yang
dirancang oleh guru/dosen untuk memecahkan suatu masalah
atau kasus atau mengerjakan suatu tugas. Kelompok ini terdiri
dari beberapa siswa yang memiliki kemarnpuan akademik
yang berbeda, ada yang termasuk prestasi perbaikan,
pengayaan, pengembangan dan tutor sebaya.
METODE PEMBELAJARAN
SCL
e. Perencanaan Pembelajaran Coorporative Learning(CL)
Metode Cooperative Leatning bermaafaat untuk membantu
menumbuh kembangkan kecerdasan dan membiasakan :
1. Mendorong dan merangsang diri agar mampu bersaing melalui
belajar aktif
2. Menumbuhkan rasa tanggung jawab baik individu maupun
kelompok dalam memecahkan masalah bangsa
3. Menumbuh kembangkan kemampuan dan keterampilan
melalui kerjasama
4. Menumbuhkan keterarnpilan kerjasama dalam memecahkan
berbagai permasalahan sosial.
METODE PEMBELAJARAN
SCL
f. Perencanaan Pembelajaran Collaborative Learning (CBL)
adalah rancangan metode belajar kelompok yang menitik
beratkan pada kerjasama kelompok siswa yang didasarkan pada
consensus antar siswa/mahasiswa yang dibangun sendiri untuk
membangun mutu belajar yang mampu bersaing dalam
keunggulan baik dalam mengerjakan tugas-tugas atau
memecahkan kasus-kasus yang disampaikan guru/dosen yang
bersifat open ended.
Pembentukan kelompok ini didasarkan pada rminat, bakat atau
letak geografis
METODE PEMBELAJARAN
SCL
g. Perencanaan Pembelajaran Cantextual Instruction (CI)
Adalah metode konsep belajar yang menghubungkan materi
pembelajaran di sekolah dengan situasi nyata dalam kehidupan
sehari-hari.
Pada intinya melalui metode CI, guru/dosen memanfaatkan
pengetahuan langsung dalam kehidupaa nyata secara bersamasama untuk mencapai kompetensi yang dituntut oleh materi
pelajaran serta memberi kesempatan untuk menguji kebenaran
materi pembelajaran dengan kehidupan.
METODE PEMBELAJARAN
SCL
g. Perencanaan Pembelajaran Cantextual Instruction (CI)
Manfaat dari CI dihandingkan dengan metode yang lain
diantarnya:
1) Penguasaan dan pemahaman materi akan lebih mendalam
2) Pembelajaran tidak verbalisme
3) Sejak menjadi pelajar siswa dan mahasiswa sudah bisa memberi
masukan dan perbaikan tatanan kehidupan masyarakat.
METODE PEMBELAJARAN
SCL
h. Perencanaan Impelementasi Metcde Project Based Learning
(PJBL)
adalah perencanaan belajar yang sistematis yang melibatkan
siswa/mahasiswa dalam belajar ilmu pengetahuan dan
keterampilan melalui kegiatan
mencari/menggali/menentukan (inquiry) sendiri sesuai
dengan pokok-pokok bahasan secara terstruktur
dihubungkan dengan pengetahuan otentik di lingkungan
masyarakat.
METODE PEMBELAJARAN
SCL
i. Perencanaan Implementasi Metode Problem Based
Learning/ Inquiry (PBL/I)
adalah perencanaaa belajar dengm memanfatkan masalah
dari berbagai sumber informasi dari koran, majalah, siaran tv
dan media masa lainnya yang relevan dengan pokok bahasan
dari setiap materi pelajaran alau kompetemsi yang dituntut
materi pelajaran. Kemudian guru dan siswa membahasnya
dan mencoba berlatih memecahkannya.
METODE PEMBELAJARAN
SCL
i. Perencanaan Implementasi Metode Problem Based Learning/
Inquiry (PBL/I)
Pada umumnya terdapat empat langkah yang perlu dilakukan siswa dan
mahasiswa dalam melaksanakan PBL/I, yaitu:
Siswa menerima masalah yang relevan dengan salah satu kompetensi
yang dituntut mata pelajaran
Siswa melakukan pencarian data dam informasi yang relevan untuk
memecahkan masalah. Data dan informasi itu bisa melalui
perpustakaan, laboratorirm atau internet.
Siswa menata data dan informasi yang dibimbing oleh guru dan
menghubungkan dengan pemecahan masalah tersebut
Guru menilai dan menganalisis langkah-langkah strategis dalam
pemecahan masalah yang dilakukan siswa
BAB V
PERANAN GURU DALAM
PERENCANAAN
PEMBELAJARAN SCL
A. PERANAN GURU DALAM PEMBELAJARAN
SCL
Sebagai nara sumber, fasilitator, motivator dan evaluator sejak
perencanaan pelaksanaan dan akhir kegiatan belajar.
Mengkaji dan merencanakan kompetensi mata pelajaran yang perlu
dihasai secara mendalam oleh siswa/mahasiswa di akhir pembelajaran
Membuat perencanaan strategis di lingkungan pembelajaran yang
dapat dijadikan sumber belarjar sebagai keragaman pengalaman
belajar yang diperlukan siswa dalam rangka memenuhi tuntutan
kompetensi mata pelajaran
Meimbantu siswa dalam mengakses data dan informasi menata,
mengkorelasi, memproses dan nemanfaatkan dalam pemecahan hidup
sehari-hari
Mengidentifikasikan dari pola penilaian hasil belajar siswa/mahasiswa
yang relevan dengan kompetensi materi pelajaran yang akan diukur
dan dinilai.
B. PERAN SISWA / MAHASISWA DALAM
PEMBELAJARAN SCL
Gambaran singkat yang perlu dilakukan oleh siswa/mahasiswa dalam
melaksanakan pembelajaran SCL adalah sebagai berikut:
Siswa/mahasiswa mengkaji materi pembelajaran untuk satu semester
mulai dari skup, sekuinsi atau tata urut, isi materi, babat materi,
kontinuitas materi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi,
relevansi materi dengan kehidupaa masyarakat sehiar-hari dan
fleksibilitas yang mudah disesuaikan dengan funtutan dan
perkembangan zaman.
Membuat rencana pembelajaran disesuaikan dengan alokasi waktu,
baik pembelajaran terstruktur, pembelajaan mandiri atau
pembelajaran kunkuler, ko kurikuler dan ekstra kulikuler. Peran guru
guru disini sebagai nara sumber, moderator, motivator, direktur atau
pengarah dan advisor.
Sesuai dengan hasil perencanaan bersama siswa belajar secara aktif
dengan cara mendengar, membaca, menulis, mengkaji, mendiskusikan
dan memecahkan masalah sebagai latihan berfikir tingkat tinggi
seperti menganalisis, mensintetis dan mengevaluasi kreatifitas belajar
masing-masing.
C. PERAN PIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM
PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Kepala sekolah merupakan pengendali institusi perlu memiliki daya juang untuk
meningkatkan mutu pendidikan di lembaga yang dipimpinnya, dengan cara:
1. Mengkaji & mengelola isi kurikulum, disusun menjadi program semester & program
tahunan dilengkapi dengan perangkat penilaian tiap unsur kegiatan belajar yang
relevan, mengacu pada SCL. Kepala sekolah jangan terjebak oleh polemik
perubahan bentuk kurikulum yang penting mdalami isi kurikulum daya saing dan
daya ramal hasil belajar yang berkualitas. Perubahan kurikulum yang dilakukan
birokrat pendidikan hanyalah bentuk pendekaan. Tujuanaya untuk merangsang agar
para pelaksana pendidikan tidak statis berfikir, tetapi lebih dinamis. Perubahaa
kurikulum merupakan bagian demi fleksibilias kurikulum agar sesuai dengan
tuntutan perubahan masyarakat.
2. Membuat kebijakan solusi dan sosialisasi dalam pengembangan kurikulum yang
semula berpusat pada kegiatan guru dan murid
3. Bangkitkan semangat juang guru/dosen, sehingga guru merasa terpanggil untuk
berjuang mengejar ketinggalan mutu pendidikan oleh Negara lain
4. Buktikan semboyang guru sebagai "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" dalam bukti nyata
dalam kiprah peningkatan mutu pendidikan, sehingga sosok pahlawan tanpa tanda
jasa itu dapat dilihat & dirasakan, dinimati oleh seluruh masyarakat, bangsa dan
Negara
5. Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif yang ditunjang oleh sarana dan
prasarana yang lengkap melalui kerjasama dengan masyarakat luas agar mau
membantu dalam meningkatkan mutu pendidikan
C. PERAN PIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM
PERENCANAAN PEMBELAJARAN
6. Menciptakan networking atau jaringan kerjasama dengan pengusaha dunia kerja,
lembaga-lembaga masyarakat, instansi-instansi pemerintah dan swasta
7. Membenahi pola pikir (Mindset) guru/dosen yang berfikir sempit dan statis kearah
pola pikir yang dinamis yang diimplementasikan dalam kemampuan pengelolaan
program pendidikan pada umumnya tentang pentingnya mengubah paradigma
mengajar yang bermutu yang bercirikan adanya interaksi yang positif, konstnruktif
dan interaktif antara guru/dosen dengan siswa dan mahasiswa dalam memebangun
ilmu pengetahun yang relevan dengan kebutuhan masyarekat luas.
8. Melatih dan mendorong, membimbing yang penuh kepada para guru/dosen yang
dalam perencanaan pembelajarannya belum menuju kearah peningkatan mutu
9. Memanfaatkan perencanaan pembelajaran yang dibuat guru/dosen untuk dijadikan
contoh model guru lain yang dianggap sudah memenuhi standar mutu Pendidikan
10.Menciptakan sistem pembelajaran yang komprehensif melalui kegiatan kolektit
koordinatif dan korelatif diantara sesama guru/dosen sehingga materi kurikulum
tidak berbentuk subyek materi tapi berbentuk broad fuld.
D. PENTINGNYA PERENCANAAN DALAM
PEMBELAJARAN
Perencanaan
itu merupakan pedoman kegiatan belajar
mengajar
Perencanaan pembelajaran mengatur proses penyusunan
materi pelajaran dan media yang akan digunakan, metode,
monitoring, evaluasi dakn alokasi waktu yang akan
dilaksanakan.
Dengan kata lain perencanaan pembelajaran memberikan
pedoman dan gambaran dalam mengatur sekenario
pembelajaran alternative kegiataa tahap-tahap kegiatan,
pencapaian kompetensi, tugas terstrukur, monitoring, evaluasi
dan indikator keberhasilan.
E. DARI MANA PERUBAHAN HARUS DIMULAI
dimulai dari paradigma berpikir guru/dosen tentang
pemahaman yang mendalam tentang belajar,
mengajar dan manfrat ilmu pengetahun bagi hidup
dan kehidupan.
E. DARI MANA PERUBAHAN HARUS DIMULAI
Agar mencapai sasaran yang dikehendaki, maka dalam melakukan
perubahan ini dapat digunakan beberapa strategi diantaranya adalah :
Mulai dengan perubahan diri, yaitu dengan mensponsori pembentukan
kelompok creator, yang menghasilkan ide-ide pembelajaran baru
berdasarkan paradigma pembelajaran yang berpusat pada yang belajar,
selain itu kelompok ini juga berperan sebagai inspirator dan sebagai
motivator atau pelopor perubahan (agent of change)
Menjadikan kegiatan perubahan ini sebagai gerakan peningkatan mutu,
dengan memberdayakan sarana dan sumber daya yang tersedia sambil
berusaha memenuhi persyaratan standar minimal untuk perubahan.
Menguji coba ide pembaharuan, memonitor, mengevaluasi dan
mengembangkan ide secara terus menerus dan menyebar luaskan ke
lingkungan internal, sambil membentuk jaringan informasi
pembelajaran (forum komunikasi peningkatan mutu pembelajaran)
antar lembaga pendidikan.