pert_3 - Widodo H. Wijoyo

download report

Transcript pert_3 - Widodo H. Wijoyo

Modul 3
PENGINDEKSAN DOKUMEN
Kegiatan Belajar 1:
Deskripsi Bibliografi
1. Indeks adalah suatu mekanisme fisik atau alat yang
menunjukkan kepada penelusur terhadap bagianbagian dalam “gudang” informasi.
2. Katalog perpustakaan merupakan salah satu jenis
indeks.
3. Susunan koleksi dokumen bisa dianggap indeks, karena
katalog maupun jajaran dokumen yang memudahkan
penelusuran dan menemuan dokumen.
Deskripsi Bibliografi
1. Setiap dokumen harus dibuatkan data bibliografinya.
2. Pembutan dan penyusunan data bibliografi dari dokumen disebut
deskripsi bibliografi (pengkatalogan/katalogisasi)
3. Catalogisring (Belanda); Cataloguing (Ingggris)
4. Standar internasional adalah Anglo American Cataloguing Rules
(AACR2) - versi 1988
5. AACR2 1988 adalah revisi AACR 1967 dan 1978
Tahap awal dalam pengkatalogan harus bisa menjawab
1.
2.
3.
4.
5.
Apakah judulnya?
Siapakah penanggungjawab isinya?
Siapa badan penerbitnya?
Kapan diterbitkan?
Bagaimana bentuk fisiknya?
Deskripsi bibliogafi berdasarkan ISBDG)
1. Daerah judul dan pernyataan
tanggungjawab
2. Daerah edisi
3. Daerah data khusus
4. Daerah Terbitan dan Pengedaran
5. Daerah Deskripsi Fisik
6. Daerah seri
7. Daerah catatan
8. Daerah nomor starndar dan syarat
penjualan/penyaluran
A. Pernyataan Tanggungjawab
Istilah “pernyataan tanggungjawab” (statement of
responsibility) menggantikan istilah “keterangan
kepengarangan” (statement of authorship).
B. Pernyataan Jenis Bahan Umum
Unsur setealah judul dan pernyataan tanggungjawab adalah
“pernyataan jenis bahan umum” (General Material Designation
atau GMD), guna memberitahukan bentuk fisik dokumen, namun
penyebutannya tidak wajib.
C. Daerah Khusus
Tidak digunakan untuk monograf/buku, hanya untuk keterangan
tentang sistem penomoran bahan kartografi (bahan peta) dan
terbitan berseri.
D. Daerah Terbitan dan Pengedaran
Dulu digunakan untuk mencatat penerbit, tetapi sekarang
dalam proses penerbitan: distributor, releasing agency
suatu film.
E. Daerah Deskripsi Fisik
Dulu disebut kolasi (daerah untuk mencatat berbagai data
tentang fisik dokumen). Daerah ini untuk mencatat berbagai
data mengenai bentuk fisik dokumen. Daerah ini dimulai
keterangan jumlah, disertai “Specific Material Designation =
SMD” atau pernyataan jenis bahan spesifik, yang
menerangkan kelompok khusus dokumen.
F. Tingkatan Deskripsi
1. Tingkatan Pertama
Judul sebenarnya/pernyataan tanggungjawab pertama.─ Keterangan edisi.─ Data
khusus .─ Penerbit pertama, tahun terbit.─ Jumlah.─ Catatan.─ Nomor standar.
2. Tingkatan Kedua
Judul sebenarnya [pernyataan jenis bahan umum]= judul paralel: anak judul/pernyataan
tanggungjawab pertama, pernyataan bertanggungjawab berikutnya.─ Keterangan
edisi.─ Data khusus .─ Tempat terbit pertama, sdb.: Penerbit pertama, tahun terbit.─
Jumlah: data fisik lain; ukuran.─ (Judul sebenarnya seri/pernyataan tanggungjawab seri
, ISSN, nomor seri, judul subseri, ISSN seri; nomor dalam seri).─ Catatan.─ Nomor
standar.
3. Tingkatan Ketiga
Semua unsur yang diperinci dalam aturan dicatat, bila informasinya tersedia, dalam
peraturan harus dicantumkan.
G. Alternatif dan Pemilihan
Ciri yang sangat penting AACR2 adalah kelenturan
(flexibility)/keluwesan yang memungkinkan para kataloger
menyesuaikan pada situasi dan kondisi perpustakaannnya, yaitu:
“alternativef rules” (aturan alternatif) dan “optional – additios”
(pilihan):
Aturan alternatif dan pilihan yang harus ditentukan
pilihannya sebagai bagian pilihan tersebut harus atau selalu
diterapkan atau tidak diterapkan sama sekali.
Aturan alternatif dan pilihan yang dapat diputuskan dan
diterapkan per kasus.
H. Penentuan Titik Akses Pada Entri Utama
Titik akses sebagai tajuk disebut entri utama (main entry). Entri utama
adalah entri yang merupakan uraian lengkap katalog dari sebuah buku yang
dibuat sebagai dasar bagi pembuatan entri-entri lain. Entri utama biasanya
entri pengarang, namun dalam hal tertentu bisa judul (title) atau nama
badan korporasi (corporate body).
Entri Nama Badan Korporasi dengan ketentuan:
• Karya disusun/dikeluarkan oleh badan korporasi
• Karya lembaga resmi, pemerintah, keagamaan
• Karya dokumen kolektif badan (misalnya: komisi, komite)
• Karya dokumen kolektif dari kerjasama, konferensi, eksebisi, kegiatan oleh
badan korporasi
• Rekaman suara, film, video yang merupakan karya kolektif
• Bahan kartografi (bahan peta) dari badan korporasi
Entri judul dengan ketentuan:
1. Nama pengarang tidak jelas atau
meragukan
2. Karya kolektif lebih dari 3 (tiga) orang
atau karya editorial
3. Karya yang tidak masuk dalam
kategori dari nama badan korporasi
4. Diterima sebagai kitab suci agama
tertentu
I. Penentuan Titik Akses Pada Entri Tambahan
Tajuk entri tambahan adalah tajuk entri yang merupakan tambahan pada
tajuk entri dalam suatu katalog. Pembuatan tajuk tambahan
diperlukan karena diperkirakan pemakai akan melakukan penelusuran
melalui judul, pengarang kedua dan seterusnya, atau tajuk lain. Yang
bisa dijadikan tajuk entri tambahan adalah:
1. Nama orang ke-2 dan ke-3, jika suatu karya dikarang oleh 3
orang. Empat orang atau lebih, jika suatu karya dikarang oleh
lebih dari 3 orang.
2. Nama Badang Korporasi, jika nama tersebut menonjol
3. Judul suatu karya, jika judul tersebut tidak dijadikan sebagai
tajuk utama
4. Judul seri, jika karya-karya seri terpisah dari
pengkatalogannya.
J. Tajuk
Tajuk adalah kata-kata pertama yang terdapat dalam entri
katalog sebagai dasar penyusunan katalog.
Tajuk bisa nama pengarang pertama, judul, tajuk karya
campuran (karya saduran), nama badan korporasi, dan
nama pertemuan.
Orang yang terlibat dalam penulisan buku (bukan
termasuk kategori pengarang), adalah:
1. penerjemah,
2. editor (penyunting),
3. penulis pendahuluan,
4. pengumpul karangan, dan
5. pemberi kata sambutan
K. Judul Seragam
Penggunaan tajuk seragam dimaksudkan agar dalam katalog
dapat terkumpul uraian utama karya-karya yang diterbitkan
dalam berbagai bahasa atau badan dalam berbagai versi,
diberlakukan untuk:
1. karya-karya yang tidak dikenal pengarangnya,
2. kitab suci dan
3. karya peraturan perundang-undangan.
Pencantuman judul seragam adalah optional, bukan wajib. Judul
seragam ditentukan sebelum judul yang sebenarnya dan ditulis
dalam kurung siku.
L. Reference (Rujukan)
Nama seseorang atau badan korporasi bisa dikenal
dalam bentuk (nama) lain, maka perlu dibuatkan
rujukan dari bentuk lain tersebut, misalnya: Jeanne
Bourgeois dengan nama samaran: Mistinguett:
Bourgeois, Jeanne
See Mistinguett
Juga untuk subyek yang tidak digunakan kepada
istilah yang digunakan.
M. Analisis
Analisis
Analisis merupakan suatu proses menyiapkan cantuman bibliografi yang
mendeskripsikan bagian atau bagian-bagian dari sebuah kesatuan yang
luas:
1.
2.
3.
4.
Deskripsi bibliografi lengkap
Catatan isi
Entri tambahan
Deskripsi multi level (tingkatan). Tingkat pertama berkas
(record) informasi berhubungan dengan bahan (item)
secara keseluruhan, tingkat kedua atau mungkin
seterusnya berkas informasi berhubungan dengan
bagian dari suatu bagian.
Kegiatan Belajar 2: Deskripsi Isi
Pengindeksan subjek meliputi:
1. Klasifikasi dokumen berdasarkan subjek (pembentukan
kelas berdasarkan subjek).
2. Pembentukan indeks untuk temu kembali.
A. BAHASA INDEKS
Sulistyo-Basuki (1992): istilah yang dipakai adalah Bahasa
Dokumenter atau Bahasa Pengindeksan, yaitu bahasa yang
sehari-hari dipakai oleh unit informasi untuk memeri
(mendeskripsikan) isi dokumen dengan tujuan untuk
penyimpanan dan penemuan kembali.
Bahasa umum yang modifikasi, sehingga muncul bahasa
terkendali, yaitu bahasa indeks (bahasa dokumenter)
Skema klasifikasi mempunyai ciri sebagai berikut:
1. Membagi pengetahuan menjadi sejumlah kelas utama
2. Kelas utama dibagi menjadi subkelas (subdivisi) dan dibagi lagi
menjadi kelas-kelas
3. Kelas diwakili oleh notasi
4. Notasi bisa terdiri dari angka dan huruf
5. Hubungan antar subjek: dari yang umum ke khusus dan
sebaliknya
6. Klasifikasi bisa digunakan untuk menyusun dokumen di rak
Beberapa skema klasifikasi:
1. DDC
2. LC
3. UDC
4. Colon Classification
5. Brown’s Subject Classification
6. Blise Bibliographic Classification
Syarat Skema Klasifikasi:
1. Bagan harus sistematis
2. Bagan harus bersifat universal (untuk semua bidang ilmu)
3. Bagan harus flexible (luwes), bisa menampung subjek baru
4. Pembagian kelas logis dan konsisten
5. Bagan hendaklah dengan notasi (kode/lambang) yang mudah diingat
6. Memiliki indeks untuk mempermudah penggunaan bagan
7. Ada badan atau lembaga pengawas perkembangan Skema Klasifikasi
B. DAFTAR TAJUK SUBJEK
Sulistyo-Basuki (1992): Tajuk Subjek adalah deskriptor (kata
yang digunakan untuk memeri informasi) yang dibentuk dari
kata tunggal atau kata majemuk dipilih secara empiris dari
teks dokumen dengan tujuan memeri pada tingkat
ketepatan yang moderat berbagai subjek yang diliput unit
informasi. Satu dokumen bisa memiliki satu atau lebih
subjek.
Contoh daftar Tajuk Subjek:
1. Sears List of subject Headings
2. Library of Congress Subject headings
3. Daftar Tajuk Subject untuk Perpustakaan
4. Daftar Tajuk Subjek Perustakaan Nasional (DTSPN)
D. PROSES PENGINDEKSAN
1. Pengindeksan Kata
Semua kata yang tercantum dalam dokumen (disebut bahasa alami) sebagai
dasar pembuatan indeks kecuali stop list atau stop words (misalnya: the, a,
an, un, with, or, and).
2. Pengindeksan Konsep
Tidak menggunkan bahasa dari dokumen, melainkan konsep yang ada dalam
dokumen, dan bisa menggunakan bahasa artifisial yang sesuai. Bahasa
artifisial adalah bahasa indeks berstruktur (structured index language) yangi
diambil dari daftar istilah indeks yang terawasi yang disebut kosakata
terawasi/terkendali (authority list atau controlled language). Dalam ini
disebut assignment indexing.
3. Pengindeksan Bahasa Alami
KWIC (Keyword in context), kata yang digunakan sebagai kunci terletak
di tengah pada kalimat.
KWOC (Keyword out of context), kata yang dianggap sebagai kunci
dikeluarkan di depan.
4. Bentuk indeks lain
E. KONSEP SUBJEK
1. Disiplin ilmu apa (bidang pengetahuan)
Disiplin Fundamental, misalnya: Ilmu-Ilmu Sosial, Ilmu-Ilmu
Terapan.Sub Disiplin, misalnya: ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu
kedokteran
2. Fenomena/benda (wujud obyek kajian: obyek kongkrit dan obyek
abstrak), misalnya buku berjudul: Pendidikan anak. Pendidikan
merupakan konsep disiplin ilmu, sedangkan anak merupakan
fenomena yang menjadi obyek atau sasarannya.
3. Bentuk Subyek (cara subyek disajikan):
1. Bentuk fisik: buku, majalah, koran, CD-ROM, dsb.
2. Bentuk penyajian (pengaturan atau organisasi isi bahan pustaka):
menggunakan lambang-lambang, memperhatian tata
susunan (abjad, kronologis, sistematik), ditujukan untuk
kelompok tertentu (Bahasa Inggris untuk SD)
3. Bentuk intelektual (pembahasan suatu subyek), misalnya Filsafat
ilmu, Ilmu menjadi subyek sedangkan filsafat adalah bentuk
intelektualnya.
F. DESKRIPSI INDEKS
Setelah menentukan subjek sebuah dokumen melalui
analisis subjek, kemudian menerjemahkan ke dalam katakata atau lambang yang terdapat dalam bahasa indeks
(index language). Kegiatan menerjemahkan ini disebut
deskripsi indeks. Bahasa indeks adalah bahasa yang
terawasi (controlled language), sedangkan hasil dari
analisis subjek disebut dengan bahasa alamiah (natural
language)
G. LANGKAH-LANGKAH PRA ANALISIS
Subjek sebuah dokumen bisa dianalisis melalui:
1. Judul
2. Dafta Isi
3. Daftar Pustaka
4. Kata Pengantar (Preface) atau Pendahuluan
(Introduction)
5. Membaca sebagian atau keseluruhan dokumen
6. Menggunakan: bibliografi, katalog, kamus, biografi,
ensiklopedi, tinjauan buku
7. Menanyakan ahlinya