Tanah Air Indonesia TANAH AIR INDONESIA Orang Indonesia menyebut negrinya sebagai Tanah-Air, dan Tanah-Air juga disebut sebagai Tanah-Tumpah Darah. Tanah-Air, Tanah-Tumpah Darah mengandung.

Download Report

Transcript Tanah Air Indonesia TANAH AIR INDONESIA Orang Indonesia menyebut negrinya sebagai Tanah-Air, dan Tanah-Air juga disebut sebagai Tanah-Tumpah Darah. Tanah-Air, Tanah-Tumpah Darah mengandung.

Tanah Air Indonesia
TANAH AIR INDONESIA
Orang Indonesia menyebut negrinya sebagai Tanah-Air,
dan Tanah-Air juga disebut sebagai Tanah-Tumpah Darah.
Tanah-Air, Tanah-Tumpah Darah mengandung logika dan
makna yang mendalam. Tanah dan air merupakan dua
unsur pokok sumber alam. Tanah tempat berpijak, wadah
tempat tumbuh, dan pada waktunya sebagai tempat untuk
berpulang. Sedangkan air (juga udara) merupakan unsur
yang memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan
mahluk di atas tanah tersebut. Tanah-Tumpah Darah,
mengandung konotasi tanah kelahiran, wadah pengabdian
dan bakti anak bangsa bagi kebesaran negrinya.
Tanah-Air orang Indonesia adalah wilayah yang
disebut Indonesia. Kata Indonesia merupakan
paduan kata Indo (India) dengan kata Nesos
(Kepulauan), mengandung arti kepulauan
penghasil rempah-rempah. Nama Indonesia
dengan karisma sebagai Negara Kepulauan jika
dilihat dari kacamata sistem geopolitik
Indonesia.
Nama Indonesia
Negara kepulauan yang menjadi tanah-air orang
Indonesia ini telah ditulis dalam buku
Jataka.
Dalam buku Ramayana abad 2 diungkapkan
sebagai Yavadvipa (pulau emas dan perak), dan
Sutvamadvipa (pulau emas). Pada tahun 1820
istilah Indian Archipelago digunakan John
Crawfurd, ilmuwan dan Ediriburg dalam bukunya
The History of the Indian Archipelago,
Kepulauan yang penting di Lautan India. Istilah
Indu-nesians atau Melayu-nesians adalah dua
nama alternatif yang diusulkan untuk
penduduk yang berdiam di pulau-pulau India.
Istilah tersebut diusulkan pada tahun 1850 oleh
George Samuel Windsor Earl, ahli Hukum
kelahiran London dalam The Journal of the
Indian Archipelago and Eastern Asia
Earl
dianggap sebagai perintis nama Indonesia.
Nama Indonesia dicetuskan lebih lanjut oleh
sarjana etnologi Inggris bernama Sir James
Richardson Logan dalam buku The Ethnology of
the Indian Archipelago: Embracing enquiries into
the Continental relations of the Indo Pacific
Islanders, 1850 untuk memperkenalkan bangsabangsa yang menetap di kepulauan penghasil
rempah-rempah.
Nama Nusantara dan Wawasan Nusantara
Nama lain dari Indonesia adalah Nusantara, suatu
sebutan bagi gugusan pulau-pulau yang terletak di
antara dua benua yaitu Asia dan Australia. Nama
Nusantara digunakan pada jaman Kerajaan
Singosari (1222-1292 M), Dalam literature Hindu
Kuno yaitu buku Ramayana yang ditulis selama
kekuasaan Raja Gupta, Sungai Gangga India 320455 M terdapat istilah dwipantara (dwipa =
kepulauan, antara = di antara) yang berarti
kepulauan di antara, benua India dan Cina.
Dvipantara diterjemahkan oleh peradaban Jawa
Kuno menjadi Nusantara, sebagaimana tertulis
pada prasasti Gunung Wills, 1269 yang dibuat
ketika Kertanegara, Raja Singosari berkuasa,
dengan ibukota Kediri Jawa Timur (1269-1292 M).
Tulisan Camunda, 1332 M menyebut Nusantara
dengan Sadwipantara. Dalam History of Malay
disebut sebagai Nusa Tamara Istilah Nusantara
digunakan juga dalam Peta Duma oleh Manuel
Elgodinho de Eredia, ahli Kartografi Portugis,
1601. 1601 1601 1601 1601 1601 1601.
Nama Nusantara dengan pengertian kepulauan di
luar pulau Jawa terdapat dalam buku
Nagarakretagama (1365) karya Pujangga Mpu
Prapanca ketika kekuasaan Majapahit berkuasa
dengan ibukota di Trowulan, Mojokerto Jawa
Timur, (1293-1525 M). Nusantara dalam
Nagarakretagama ditulis sebagai Dwipantara,
Desantara (dirgantara), dan Astadwipa (tanah air
nusantara yang terdiri dari delapan nusa).
Kata Nusantara yang berarti daerah ribuan pulau
itu; diperkenalkan dalam pidato Soekarno pada
1917 dalam pembentukan Verbond van
Studenten atau Serikat Mahasiswa-mahasiswa,
lebih populer dibandingkan Insulinde (Poerwanto.
2003). Douwes Dekker juga menggunakan kata
ini, dan B.H.M Vlekke memberi nama karya
sejarah Indonesia dengan judul Nusantara pada
1943 (Nusantara: A History of the East Indian
Archipelago). Pada tahun 1951 Armyn Pane
memperluas konsep Nusantara melampaui batasbatas negara Republik Indonesia sekarang.
Di dalam Nagarakretagama suatu wellingan
(pesan pusaka), testamen politik Gajah Mada
yang menentukan kepulauan Nusantara: Apakah
yang dinamakan kepulauan Nusantara?
"Bahwa Nusantara itu meliputi Sumatera, JawaMadura, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi
(Celebes), Maluku, Ambon, Semenanjung Malaya,
Timor dan Irian. Inilah batasan daerah pusaka,
tumpah-darah yang terdiri dari delapan nusa
(astadwipa).
Indonesia, ketika jaman purbakala dengan
bantuan alam membentuk ruang tanah-air.
Gajah Mada dan Prapanca berkata kepada
kita dalam abad XIV: "...inilah batasan daerah
tumpah-darah Nusantara!". Kita berkata pula
pada abad XX kepada negara ke tiga "... inilah
Negara Republik Indonesia, seperti kami
terima sebagai pusaka dari negara ke dua
(Majapahit) dan negara pertama (Sriwijaya).
Wawasan Nusantara
Menjelang abad 20 nama Nusantara semakin dikenal
dalam kalangan masyarakat luas, khususnya para
tokoh pergerakan Nasional, setelah Mr. Muhammad
Yamin membuat puisi berjudul Nusantara yang
menggambarkan keindahan dan kejayaan kerajaankerajaan kuno di Indonesia. Sekarang, istilah Nusantara
digunakan dalam kerangka perspektif nasional
Indonesia, sudah beralih arti menjadi Indonesia secara
keseluruhan, baik geografis, sosial, budaya, politik,
maupun ekonomi.
Hal ini tertuang dalam Garis-garis Besar Haluan
Negara (GBHN) yang secara lengkap ditulis
menjadi Wawasan Nusantara, yang berarti suatu
wawasan untuk mencapai tujuan pembangunan
nasional secara menyeluruh.
Wawasan Nusantara adalah cara pandang bangsa
dan negara Indonesia mengenai keadaan dirinya
dan lingkungannya yang bersifat nusantara dan
lingkungan dunia yang serba berubah,
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,
a. Satu kesatuan wilayah
1) satu wadah bangsa Indonesia yang serba
nusantara
2) satu kesatuan Tumpah-darah dengan
manunggalnya segala anugerah dan
kekayaannya
b. Satu Kesatuan bangsa
1) Satu Undang-Undang Dasar dan politik
pelaksanaannya
2) Satu Ideologi dan identitas nasional
c. Satu Kesatuan Budaya
1) Satu perwujudan budaya Nasional atas dasar
Bhinneka Tunggal Ika
2) Satu tertib Sosial dan Hukum
d. Satu Kesatuan Ekonomi
1) Satu tertib ekonomi sebagai usaha bersama
berdasarkan asas kekeluargaan
2) Pembinaan tertib ekonomi yang seimbang dan
serasi
e. Satu Kesatuan Pertahanan Keamanan
(Hankam)
1) Satu Pembinaan tertib Hankam berdasarkan
usaha bersama rakyat semesta sebagai
salah satu unsur Ketahanan Nasional secara
menyeluruh
2) Satu Tertib Hankam sebagai kondisi
penyempurnaan ikhtiar-ikhtiar peningkatan
Ketahanan Nasional.
Kesatuan politik
1. Bahwa kedaulatan wilayah nasional dengan segala isi
dan kekayaannya, merupakan satu kesatuan wilayah,
ruang hidup, dan kesatuan matra seluruh bangsa
serta menjadi modal milik bersama bangsa
Indonesia.
2. Bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku
dan berbicara dalam berbagai bahasa daerah,
meyakini dan menganut berbagai agama dan
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
merupakan suatu kesatuan bangsa yang utuh dalam
arti yang seluas-luasnya.
3. Bahwa secara psikologis, bangsa Indonesia merasa satu,
senasib sepenanggungan, sebangsa dan setanah-air,
serta mempunyai satu tekad bulat dalam mencapai
perwujudan cita-cita bangsa
4. Bahwa Pancasila adalah satu-satunya falsafah serta
ideologi bangsa dan negara yang melandasi,
membimbing, dan mengarahkan bangsa menuju
tujuannya.
5. Bahwa seluruh kepulauan Nusantara merupakan satu
kesatuan wilayah hukum Nasional yang mengabdi
kepada kepentingan nasional.
Kesatuan Sosial Budaya, dalam arti:
1. Bahwa masyarakat Indonesia adalah satu perikehidupan
bangsa harus merupakan kehidupan yang serasi dengan
tingkat perkembangan masyarakat yang sama, seimbang
dan serta keselarasan hidup sesuai dengan kemajuan
bangsa.
2. Bahwa keanekaragaman budaya bangsa Indonesia pada
hakekatnya adalah satu, sedangkan terdapatnya
berbagai corak ragam budaya menggambarkan kekayaan
khazanah budaya bangsa yang menjadi modal dan
laridasan pengembangan budaya nasional secara
keseluruhan yang dinikmati hasilnya oleh seluruh
bangsa.
Kesatuan Ekonomi, dalam arti :
1. Bahwa kekayaan yang terdapat dan terkandung di
dalam wilayah nusantara beserta kawasan
yuridiksinya, baik potensial maupun efektif, adalah
modal dan milik bersama bangsa, dan bahwa
keperluan hidup sehari-hari harus tersedia merata di
seluruh wilayah tanah air.
2. Bahwa tingkat perkembangan ekonomi harus sesuai
dan seimbang di seluruh daerah tanpa meninggalkan
ciri-ciri khas yang dimiliki oleh tiap-tiap daerah
dalam pengembangan kehidupan ekonominya.
Kesatuan Pertahanan dan Keamanan, dalam
arti :
1.Bahwa ancaman terhadap sesuatu pulau atau
daerah, pada hakekatnya merupakan ancaman
terhadap seluruh bangsa dan negara
2.Bahwa tiap-tiap warga negara mempunyai hak
dan kewajiban yang sama di dalam kerangka
menunaikan tanggungjawab masing-masing
dalam usaha pembelaan negara.
Kedaulatan atas wilayah Laut dan Udara
Wilayah laut
Secara historis, Wawasan Nusantara tidak dapat
dilepaskan kaitannya dengan Hukum Laut
Internasional. Status lautan memang merupakan
masalah bangsa-bangsa dan negara-negara di
dunia, Pada tahun 1609, negara-negara maritim
besar (Eropa) menuntut kebebasan lautan hingga
lahir tatalaut dengan sebutan The Freedom of
The High Seas
Inilah hukum laut internasional yang pertama
dalam sejarah dunia. Pemerintah kolonial Belanda
kemudian
menetapkan
Undang-undang
berdasarkan ordonansi laut teritorial dan
lingkungan maritim : Teritoriale Zee & Maritieme
Kringen Ordonantie No. 442 Tahun 1939, mengikuti
ketentuan Hukum laut Internasional tersebut yaitu
lebar laut wilayah Indonesia adalah 3 mil diukur
dari garis air terendah di pantai masing-masing
pulau Indonesia.
Isi deklarasi itu antara lain berbunyi :
1. Untuk kesatuan bangsa dan integritas wilayah serta kesatuan
ekonomi, ditarik garis lurus sebagai garis pangkal lurus dari
titik-titik terluar pulau-pulau terluar yang menjadi unsur
daratan geografis Indonesia
2. Jalur laut wilayah atau laut teritorial adalah 12 mil laut diukur
dari garis pangkal lurus tersebut di atas.
3. Negara. Republik Indonesia berdaulat atas perairan sebelah
dalam, dari garis luar batas laut teritorial itu. Termasuk dasar
laut, tanah di bawahnya, beserta kekayaan dalam dan udara di
atasnya.
4. Hak lalu-lintas kendaraan air (kapal dan sebagainya) asing
(yang bersifat damai) melalui Perairan Nusantara dijamin
selama tidak merugikan keamanan, ketertiban, dan
kepentingan-kepentingan negara Republik Indonesia.
Pengakuan Hukum Laut Internasional yang bertalian
dengan negara-negara tetangga atas tatalaut Indonesia
diperoleh melalui perjuangan, perundingan -perundingan
bilateral dan perjanjian-perjanjian Landas Kontinen
(Landas Benua) dengan Malaysia, Brunei Darussalam,
Thailand, Philipina, Singapura, India dan Australia, serta
Papua Nuigini. Sedangkan perjuanp.an dalam forum
Konferensi Hukum Laut Internasional telah dilakukan di
Jenewa, Caracas, dan New York, secara berturut-turut
dalam periode 1960 -1978.
Wilayah Udara
Sampai saat ini penerbangan di atas wilayah
suatu negara masih diatur oleh tiga Konvensi
yaitu: Konvensi Paris 1919, Konvensi Havana
1928, dan Konvensi Chicago 1944. Pokok-pokok
pengaturan dalam konvensi-konvensi tersebut
antara lain:
1.Negara
bawah/negara
kolong
memiliki
kedaulatan mutlak dan eksklusif atas udara
diatas wilayahnya, termasuk di atas laut
wilayahnya.
2. Setiap negara mengakui hak lalu lintas udara damai
(inconent passage), yaitu hak melewati wilayah
udara negara lain tanpa mendarat dengan
ketentuan bahwa pesawat-pesawat terbang yang
menggunakan hak tersebut haruslah lewat/melalui
rute-rute yang telah ditetapkan oleh negara bawah
dan bahwa hak lintas udara damai itu juga dapat
ditangguhkan untuk kepentingan keamanan negara
bawah.
3. Dibedakan antara kapal terbang sipil (Civil air craft)
dan kapal terbang militer, pabean, polish Kapalkapal terbang negara tidak mempunyai hak lintas
udara darnai di atas wilayah negara lain.
Tanah Air Indonesia adalah Negara Kepulauan
dan Negara Kesatuan sebagai wadah persatuan
bagi kesatuan seluruh bangsa Indonesia.