FAIR VALUE: ASET KEUANGAN, ASET TETAP, PROPERTI INVESTASI Presented : Dwi Martani.

Download Report

Transcript FAIR VALUE: ASET KEUANGAN, ASET TETAP, PROPERTI INVESTASI Presented : Dwi Martani.

FAIR VALUE: ASET KEUANGAN, ASET TETAP, PROPERTI INVESTASI Presented : Dwi Martani

Agenda

1.

Konsep Umum Fair Value 2.

Aset Keuangan 3.

Aset Tetap 4.

Properti Investasi 5.

PSAK lain

Karakteristik IFRS

• IFRS menggunakan

Principles Base “ :

– Lebih menekankan pada intepratasi dan aplikasi atas standar sehingga harus berfokus pada spirit penerapan prinsip tersebut.

– Standar membutuhkan penilaian atas substansi transaksi dan evaluasi apakah presentasi akuntansi mencerminkan realitas ekonomi.

– Membutuhkan profesional judgment pada penerapan standar akuntansi.

• Menggunakan

fair value

dalam penilaian, jika tidak ada nilai pasar aktif harus melakukan penilaian sendiri (perlu kompetensi) atau menggunakan jasa penilai • Mengharuskan pengungkapan (

disclosure) yang lebih banyak

baik kuantitaif maupun kualitatif 3

Nilai Wajar – PSAK

Nilai di mana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (

arm’s length transaction)

Bukan nilai yang akan diterima atau dibayarkan entitas dalam suatu transaksi yang dipaksakan, likuidasi yang dipaksakan, atau penjualan akibat kesulitan keuangan.

4

Hirarki Penentuan Nilai Wajar

• Kuotasi harga di pasar aktif; • Jika pasar tidak aktif, maka menggunakan teknik penilaian yang meliputi: – penggunaan transaksi-transaksi pasar wajar yang terkini antara pihak-pihak yang mengerti, berkeinginan, jika tersedia; – referensi atas nilai wajar terkini dari instrumen lain yang secara substansial sama; – analisis arus kas yang didiskonto (

discounted cash flow analysis); dan

– model penetapan harga opsi (

option pricing model)

5

FAIR VALUE

Instrumen Keuangan

PSAK 50,55,60

Penurunan Nilai Aset Tetap

IAS 41 PSAK 16 PSAK 13

Properti Investasi

FAIR VALUE IFRS 13 PSAK 19 PSAK 48, 58

Penurunan Nilai Aset Tidak Lancar Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan Aset takberwujud

6

Assets

Inventory Etc PP&E Intangible Inv Property Assets Financial Defined Benefit Biological assets

© IFRS Foundation | 30 Cannon Street | London EC4M 6XH | UK. www.ifrs.org

ASSET TYPE MEASUREMENT AT INITIAL RECOGNITION MODEL BASED ON FAIR VALUE BASIS OF IMPAIRMENT TEST

IFRS 9

Financial Instruments

Fair value

IAS 16

Property, Plant and Equipment

IAS 38

Assets

IAS 40

Intangible Investment Property

Purchase costs + construction costs + costs to bring to the location and condition necessary to be capable of operating in the manner intended by management.

Purchase costs + development costs + costs to bring to the location and condition necessary to be capable of operating as intended by management Cost including transaction costs For specified financial assets and for particular business models:

fair value

Accounting policy choice:

revaluation model

Accounting policy choice:

revaluation model

Accounting policy choice:

fair value

Compare carrying amount to recoverable amount. Recoverable amount is greater of value in use and fair value less disposal costs (IAS 36) IAS 41

Agriculture

Fair value

less costs to sell 8

Fair value

less costs to sell

Konsep Fair Value IFRS 13

• Tujuan IFRS 13:

– Klarifikasi definisi fair value – Satu standar “bagaimana” mengukur fair value • Sebelumnya tidak konsisten dan persyaratannya beragam • Tidak merubah kapan nilai wajar digunakan.

– Pengungkapan lebih banyak – Meningkatkan konvergen dengan US GAAP

Ruang Lingkup IFRS 13

• Diterapkan ketika IFRS lain mengijinkan: – Pengukuran fair value aset dan liabilitas keuangan atau pengungkapan fair value.

• Dikecualikan dari ruang lingkup, IFRS 2 (shared based payment) dan IAS 17 Leases, • Tidak diperlukan untuk pengukuran yang sejenis – IAS 2 inventories  net realizable values – IAS 36 Impairment  value in use • Pengungkapan tidak diperlukan untuk IAS 19 Employee benefit, IAS 26 Retirement benefit plant, recoverable amount under IAS 36 Impairment Aset.

Definisi Fair Value IFRS 3

• Fair value adalah harga yang diterima atas penjualan aset atau pembayaran untuk mentransfer liabilitas dalam transaksi antar pihak yang berkepentingan pada tanggal pengukuran.

• “...the price that would be received to sell an asset or transfer a liability in an orderly transaction between market participants at the measurement date.” IFRS 13 para 9 11

Definisi Fair Value IFRS 3

• Exit price didaarkan pada pasa aktif. Jika tidak ada didasarkan teknik valuasi.

• Bukan berasal dari transaksi dari pihak yang mengalami kesulitan keunagan • Nilai fair value merupkan pengukuran pasar, bukan ukuran spesifik suatu entitas. Konsekuensinya entitas yang memiliki keinginan untuk memegang aset tersebut atau menjualnya tidak relevan dalam pengukuran nilai wajar.

• Biaya transaksi diabaiikan karenna bukan merupakan karakteristik dari aset dan liabilitas yang diukur.

• Mengasumsikan terjadi di pasar.

12

Pedoman penerapan

• • Saat mengukur nilai wajar menggunakan asumsi bahwa pihak yang berpartisipasi dalam pasar menentukan harga aset atau liablitas berdasarkan kondisi pasar saat itu, termasuk asumsi tentang risiko.

Karakteristik atas aset dan liablitas khusus yang dipertimbangkan pihak berpartisipasi dalam pasar saat menentukan harga pada tanggal pengukuran, termasuk • • Umur, kondisi dan lokasi aset Ristriksi atas penjualan atau penggunaan

Definisi Lama

Definisi Lama

Nilai di mana suatu aset dapat

dipertukarkan

atau suatu kewajiban

diselesaikan

antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan ( transaksi

wajar

arm’s length transaction)

?

Kelemanah

Tidak spesifik apakan entitas menjual atau membeli aset Tidak jelas tentang diselesaikan, karena tidak menunjukkan kreditor Tidak jelas tentang pengertian nilai wajar Tidak menjelaskan kapan transaksi terjadi

Fair Value

Is there a quoted price in an active market for an identical asset or liability?

YES

Use this quoted price to measure fair value (Level 1)

NO Replicate a market price using another valuation technique* (Levels 2 and 3)

*A valuation technique must maximise the use of

relevant

observable inputs and minimise the use of unobservable inputs.

*

The fair value hierarchy

16

Yes

Is there a quoted price in an active market for an identical asset or liability?

(Level 1 input) Use the Level 1 input =

Level 1 measurement

Must use without adjustment

Yes No

Are there any observable inputs* other than quoted prices for an identical asset or liability?

* Maximise the use of

relevant

observable inputs. Observable inputs include market data (prices and other information) that is publicly available ‡ Unobservable inputs include the entity’s own data (eg budgets, forecasts), which must be adjusted if market participants would use different assumptions No use of significant unobservable (Level 3) inputs ‡ =

Level 2 measurement

16

No

Use of significant unobservable (Level 3) inputs ‡ =

Level 3 measurement

Transaction and Price

• Measured using the price in the principal market for the asset or liability (ie the market with the greatest volume and level of activity for the asset or liability) or, in the absence of a principal market, the most advantageous market for the asset or liability.

17

Judgements and estimates

• An entity must take all information that is reasonably available to search for a principal market . • determining fair value and the highest and best-use .for a non financial asset.

• Assumptions that a market participant would use (including assumptions about risk).

• • Determining the • • • correct valuation technique wide range of estimates as: discount rates future cash flows risks and uncertainty to use and the inputs to the techniques, particularly on the income approach, require a The inputs used in the valuation techniques should primarily be based on observable inputs (where possible) to minimise the use of unobservable inputs. 18

Highest and best use

• Fair value assumes a non-financial asset is used by market participants at its highest and best use – The use of a non-financial asset by market participants that maximises the value of the asset • Physically possible • Legally permissible • Financially feasible • Highest and best use is usually (but not always) the current use – If for competitive reasons an entity does not intend to use the asset at its highest and best use, the fair value of the asset still reflects its highest and best use by market participants (defensive value) • Does not apply to financial instruments or liabilities

Valuation premise

• A non-financial asset either:

– Provides maximum value through its use in combination with other assets and liabilities as a group • Is its value influence by it being ‘operated’ with other assets?

• An example: equipment used in production facility – Provides maximum value through its use on a stand alone basis • Is its value independent of its use with other assets?

• An example: a vehicle or an investment property

• Does not apply to financial instruments or liabilities

The exit transaction

• In the principal market:

– The market with the greatest volume and level of activity for the asset or liability

• Or (if no principal market) in the most advantageous market:

– The market that maximises the amount that would be received to sell the asset and minimises the amount that would be paid to transfer the liability

• In most cases, these markets will be the same

– Arbitrage opportunities will be competed away

Market participants

• Market participants are buyers and sellers in the principal (or most advantageous) market who are: – Independent of each other • Not related parties – Knowledgeable and sufficiently informed about the asset or liability and the transaction • Due diligence efforts – Able to enter into a transaction for the asset or liability • Has a use for the asset • Can fulfil the obligation – Willing to enter into a transaction for the asset or liability • Not forced or otherwise compelled • Market participants act in their economic best interest

Fair value disclosures

• More information for Level 3:

– Quantitative disclosure of unobservable inputs and assumptions used – Reconciliation of opening to closing balances – Description of valuation process in place – Sensitivity analysis: • Narrative discussion about sensitivity to changes in unobservable inputs, including inter-relationships between inputs that magnify or mitigate the effect on the measurement • Quantitative sensitivity analysis for financial instruments

Instrumen Keuangan 50,55,60

IAS 32 Instrumen Keuangan IAS 39 IFRS 7 PSAK 50

• Definisi dan klasifikasi • Pemisahan liabilitas keuangan dan ekuitas • Akuntansi untuk instrumen keuangan majemuk.

• Akuntansi untuk penarikan saham dan saham treasury • Saling hapus atas aset dan liablitas

PSAK 55

• Definisi, klasifikasi dan reklasifikasi • Pengakuan dan penghapusan • Pengukuran setelah pengakuan awal • Akuntansi untuk derivarif untuk diperdagangkan dan hedging.

PSAK 60

 Pengungkapan instrumen keuangan dan risiko 24

Jenis Instrumen Keuangan

Instrumen Keuangan

Aset Keuangan Aset Keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi Investas dimiliki hingga jatuh tempo Pinjaman diberikan dan Piutang Aset keuangan tersedia untuk dijual Liabilitas Keuangan Liabilitas Keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi Kewajiban Lainnya Instrumen Ekuitas Instrumen Ekuitas Biasa Instrumen Ekuitas Majemuk Instrumen Ekuitas Sinstesis Instrumen Derivatif Instrumen Lindung Nilai Derivatif Biasa Derivatif Melekat Atas Nilai Wajar Atas Arus Kas Atas Investasi Neto pada Operasi Luar Negeri 25

PSAK 55

• •

Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau liabilitas keuangan, entitas mengukur pada nilai wajarnya.

Dalam hal aset keuangan atau liabilitas keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau liabilitas keuangan tersebut.

Pengukuran Awal

Aset dan Kewajiban Keuangan Diukur pada nilai wajar melalui laba rugi Nilai wajar (biaya transaksi expense) Tidak diukur pada nilai wajar melalui laba rugi Nilai wajar ditambah Biaya Transaksi (biaya transaksi dikapitalisasi) 27

Pengukuran Pengakuan awal

Ilustrasi 1 : Bunga atas pinjaman jangka panjang kepada karyawan

• Bank memberikan pinjaman sebesar 100 juta kepada karyawan yang telah bekerja lebih dari 10 tahun. Pinjaman tersebut dibayar kembali karyawan melalui angsuran bulanan selama 5 tahun mendatang.

• Bunga pasar untuk pinjaman serupa sebesar 10,8%.

• Nilai kini dari 100 juta selama lima tahun dengan • Nilai kini (

present value

) dari 100 juta, dengan bunga 10.8% dan pembayaran bulanan sebesar 60 juta.

Pertanyaan: Berapakan nilai pinjaman tersebut pada pengakuan awal?

Pengukuran Pengakuan awal

Ilustrasi 2: Pinjaman dengan fee

• Bank meminjamkan uang kepada bank sebesar 5.000 juta, yang akan dilunasi 5 tahun mendatang.

• Bunga 5% dibayar tahunan • Tingkat bunga pasar atas pinjaman serupa 8% • ABC membayar Bank untuk fee kredit sebesar 600juta.

• Nlai kini dengan tingkat diskon 8% atas pinjaman 5.000juta sebesar 4.400 juta.

Pertanyaan : Berapakah pinjaman tersebut dicatat pada saat pengakuan awal. 5.000juta atau 4.400 juta.

Pengukuran Setelah Pengakuan Awal

a) Nilai wajar b) Biaya diamortisasi c) Biaya (penggunaan terbatas hanya jika nilai wajar tidak dapat ditentukan) • PSAK 55 mengklasifikasikan: – 4 kategori aset keuangan – 2 kategori kewajiban keuangan • Kategori tersebut menentukan metode yang digunakan untuk pengukuran selanjutnya 30

Initial recognition and subsequent measurement

Category

FVTPL HTM Loans and Receivables AFS

Initial recognition

Cost Cost Cost Cost

Subsequent measurement

Fair value Amortized cost using effective interest method Amortized cost using effective interest method Fair value

Treatment of changes in carrying amount

1.

2.

1.

Change in fair value to income statement.

Interest income recognized using effective interest method Amortized interest, impairment loss and foreign exchange gain/ loss goes to income statement 1.

Amortized interest, impairment loss and foreign exchange gain/ loss goes to income statement 1.

2.

3.

4.

Change in fair value taken to equity Interest income recognized using effective interest method Debt instrument – impairment loss and foreign exchange gain/loss goes to income statement Hedged item – change in fair value attributable to hedged risk taken to income statement to offset gain/loss on hedging instrument 31

Pengukuran Selanjutnya

Klasifikasi FVTPL HTM Neraca Nilai wajar Biaya Diamortisasi Biaya Transaksi Dibebankan Dikapitalisasi Keuntungan atau Kerugian Nilai Wajar Laba atau rugi Bunga dan Dividen Laba atau rugi Laba rugi Penurunan Nilai

By default

Laba rugi Pembalikan Penurunan Nilai

By default

Laba rugi Pinjaman Diberikan dan Piutang Biaya diamortisasi Dikapitalisasi Laba rugi Laba rugi Laba rugi

Pengukuran Selanjutnya

Klasifikasi AFS Jenis / Biaya Transaksi Utang/ Dikapitalisasi Ekuitas/ Dikapitalisasi Ekuitas: Tidak dapat diukur secara andal/ Dikapitalisasi Laporan Posisi Keuangan Nilai wajar Pendapatan komprehensif Laba Rugi lain* Nilai wajar Pendapatan komprehensif lain* Laba Rugi Harga perolehan Keuntungan atau Kerugian Nilai Wajar Bunga dan Dividen Laba Rugi Penurunan Nilai Laba Rugi Laba Rugi Laba Rugi Pemulihan Penurunan Nilai Laba Rugi Pendapatan komprehensif lain * Dibebankan ke laba rugi saat pelepasan atau terjadi penurunan nilai

Biaya Diamortisasi

PLUS OR MINUS MINUS MINUS Jumlah saat pengukuran awal Akumulasi amortisasi dg effectiv interest method Pembayaran Penurunan Nilai

34

Suku bunga efektif

• Dalam menghitung nilai amortisasi menggunakan suku bunga efektif.

• Suku bunga yang menyamakan antara nilai awal aset dengan nilai kini dari pembayaran yang diterima di masa mendatang.

• Nilai awal aset keuangan termasuk biaya transaksi dan biaya lain terkait dengan perolehan/penerbitan aset/liabilitas keuangan • Suku bunga efektif tidak selalu sama dengan suku bunga yang ditetapkan.

• Suku bunga efektif digunakan untuk mengitung amortisasi premium atau diskon 35

Pengungkapan Nilai Wajar PSAK 60

• Untuk setiap kelompok aset keuangan dan liabilitas keuangan, entitas mengungkapkan nilai wajar dari kelompok aset dan liabilitas keuangan tersebut dengan cara yang memungkinkan untuk dibandingkan dengan jumlah tercatatnya.

• Kecuali untuk aset keuangan : – yang dicatat dengan suatu perkiraan wajar atas nilai wajar misal piutang dan utang jangka pendek.

– investasi dalam instrumen keuangan yagn tidak memiliki kuotasi harga pasar dalam pasar aktif.

– Untuk kontrak yang mengandung fitur partisipasi tidak mengikat (Kontrak asuransi)

Pengungkapan Hirarki Nilai Wajar PSAK 60

• • Pengukuran nilai wajar yang diakui dalam laporan posisi keuangan mengungkapkan:

Tingkatan Hirarki Nilai Wajar: Tingkatan

Tingkat 1 Tingkat 2

Tingkat 1

untuk aset atau liabilitas yang identik; input selain harga kuotasian yang termasuk dalam Tingkat Tingkat 3 langsung (yaitu diperoleh dari harga); dan data pasar yang dapat diobservasi (input yang tidak dapat diobservasi).

Pengertian Aset Tetap

Definisi

 Aset tetap adalah aset berwujud yang: (par 6) 1.

Dimiliki

untuk

digunakan

dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan 2. Diharapkan digunakan selama

lebih dari satu periode

.

Ciri

► “ Used in operations ” and not for resale.

► Long-term in nature and usually depreciated.

► Possess physical substance .

 Tidak berlaku untuk Hak penambangan Reservasi tambang 38

Pengukuran Awal

Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset tetap pada awalnya harus diukur sebesar biaya perolehan . (par 15)

Biaya Perolehan Biaya yang dapat diatribusikan secara langsung Biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi aset

39

Pengukuran setelah Pengakuan Awal

Entitas harus

memilih

antara:

Cost Model Revaluation Model

 Sebagai kebijakan akuntansinya, dan  Menerapkan kebijakan tersebut terhadap seluruh aset tetap dalam kelompok yang sama .

40

Pengukuran setelah Pengakuan Awal

Cost Model

Setelah diakui sebagai aset, aset tetap dicatat sebesar :  

Biaya perolehan dikurangi Akumulasi penyusutan dan Akumulasi rugi penurunan nilai aset Revaluation Model

Setelah diakui sebagai aset, aset tetap dicatat sebesar : – –

Jumlah revaluasian

, yaitu

nilai wajar

tanggal revaluasi,

dikurangi

pada

Akumulasi penyusutan dan Akumulasi rugi penurunan nilai aset

yang terjadi setelah tanggal revaluasi.

41

Penentuan Nilai Wajar

• Nilai wajar tanah dan bangunan biasanya ditentukan melalui penilaian yang dilakukan oleh penilai yang memiliki kualifikasi professional berdasarkan bukti pasar. • Nilai wajar pabrik dan peralatan biasanya menggunakan nilai pasar yang ditentukan oleh penilai.

42

Pengukuran setelah Pengakuan Awal

• Jika tidak ada pasar yang dapat dijadikan dasar penentuan nilai karena sifat aset yang khusus dan jarang diperjualbelikan, kecuali sebagai bagian dari bisnis yang berkelanjutan, maka  Entitas mengestimasi nilai wajar menggunakan pendekatan  penghasilan atau  biaya pengganti yang telah disusutkan (

depreciated replacement cost

) .

43

Frekuensi Penilaian

• Frekuensi revaluasi tergantung perubahan nilai wajar dari suatu asset tetap.

• Jika nilai wajar dari asset yang direvaluasi berbeda secara material dari jumlah tercatatnya, maka revaluasi lanjutan perlu dilakukan. • Beberapa asset tetap mengalami perubahan nilai wajar secara signifikan dan fluktuatif , sehingga perlu direvaluasi secara tahunan . • Revaluasi tahunan tidak perlu, apabila perubahan nilai wajar tidak signifikan , asset dapat direvaluasi setiap tiga atau lima tahun sekali .

44

Revaluation Model

Revaluation Model

Revaluasi harus dilakukan secara reguler Untuk memastikan jumlah tercatat tidak berbeda secara material dengan nilai wajar pada tanggal neraca. Akumulasi penyusutan pada tanggal revaluasi diperlakukan dengan metode:

proporsional

, atau

eliminasi

.

45

Akumulasi Penyusutan – Revalution Model

Revaluation Model

• • Akumulasi penyusutan pada tanggal revaluasi diperlakukan dengan metode:

proporsional

Nilai akumulasi depresiasi dan harga perolehan dinaikkan secara proporsional sehingga nilai bersih aset sama dengan nilai revaluasi.

eliminasi

.

Nilai akumulasi depresiai ditutup mengurangi nilai aset. Kemudian aset dinaikkan menjadi nilai revaluasi 46

Revaluation Model

Example Metode Proporsional

Peralatan senilai 4.000.000 diperoleh tanggal 1 Januari 2012 dengan masa manfaat ekonomis 5 tahun tanpa nilai sisa. tanggal 31 Desember 2012 nilai wajar aset adalah 4.800.000.

1/1/2012 31/12/2012 31/12/ 2012 Aset tetap Kas Beban Penyusutan Akumulasi Penyusutan Aset Tetap Akumulasi Penyusutan Surplus Revaluasi 4.000,000 800.000

2.000,000 *(4.800.000 - 3.200.000) / 3.200.000) x 800.000 = 400.000

4.000,000 800.000

400.000* 1.600.000

47

Revaluation Model

Example Metode Eliminasi

1/1/ 2012 31/12/ 2012 Peralatan senilai 4.000.000 diperoleh tanggal 1 Januari 2012 dengan masa manfaat ekonomis 5 tahun tanpa nilai sisa. tanggal 31 Desember 2012 nilai wajar aset adalah 4.800.000.

4.000,000 Aset tetap Kas Beban Penyusutan Akumulasi Penyusutan 800.000

4.000,000 800.000

31/12/ 2012 800.000

Akumulasi Penyusutan Aset Tetap Aset Tetap Surplus Revaluasi 1.600,000 800.000

1.600.000

48

Pengukuran setelah Pengakuan Awal

Revaluation Model

• • • Jika suatu aset tetap direvaluasi, maka – seluruh aset tetap dalam kelompok yang sama harus direvaluasi Jika jumlah tercatat aset meningkat akibat revaluasi , kenaikan tersebut revaluasi.

langsung dikreditkan ke ekuitas pada bagian surplus – Dikredit ke saldo laba jika sebelumnya ada penurunan akibat revaluasi terdahulu / impairment.

Jika jumlah tercatat aset menurun akibat revaluasi , penurunan tersebut diakui dalam laporn laba rugi .

– Didebit ke surplus revaluasi (ekuitas) – sejumlah saldo kredit surplus revaluasi (jika ada) sebelum debit ke saldo laba.

Entire class To Equity directly Negative to P/L 49

Revaluation Model

Revaluation Model

• Surplus revaluasi di ekuitas dapat dipindahkan langsung ke sado laba pada saat aset tersebut dihentikan penggunaannya.

• Namun, pemindahan ke saldo laba dapat dilakukan seiring dengan penggunaan aset oleh entitas. (partially realized)  saat penyusutan – Dipindahkan sebesar perbedaan penyusutan dengan revaluasian dan penyusutan dengan biaya perolehan (atau nilai surplus revaluasi dibagi sisa manfaat ekonomis) Dr Surplus Revaluasi Cr Saldo Laba • Pemindahan surplus revaluasi tidak dilakukan melalui Laporan Laba Rugi.

50

Revaluation Model

Example

• Aset tetap dengan biaya perolehan Rp 6.000.000 dan akumulasi penyusutan Rp 3.300.000 dilakukan revaluasi dan menghasilkan nilai Rp 3.900.000.

Dr - Akumulasi Penyusutan 3.300.000

Cr – Aset Tetap Dr – Aset Tetap Cr – Surplus Revaluasi 3.300.000

1.200.000

1.200.000

51

Revaluation Model

Example

Aset tetap dengan biaya perolehan Rp 6.000.000 dan akumulasi penyusutan Rp 3.300.000 dilakukan revaluasi dan menghasilkan nilai Rp 3.900.000. Sebelumnya pernah direvaluasi dengan penurunan Rp 400.000.

Dr - Akumulasi Penyusutan Cr – Aset Tetap 3.300.000

Dr – Aset Tetap Cr – Keuntungan Revaluasi Cr - Surplus Revaluasi 1.200.000

400.000

3.300.000

800.000

52

Revaluation Model

Example

• Aset tetap dengan biaya perolehan Rp 6.000.000 dan akumulasi penyusutan Rp3.300.000 dilakukan revaluasi dan menghasilkan nilai Rp 2.000.000.

3.300.000

Dr - Akumulasi Penyusutan Cr – Aset Tetap Dr – Rugi Revaluasi Cr – Aset Tetap 700.000

3.300.000

700.000.

53

Revaluation Model

Example

• Aset tetap dengan biaya perolehan Rp 6.000.000 dan akumulasi penyusutan Rp 3.300.000 dilakukan revaluasi dan menghasilkan nilai Rp 2.000.000. Sebelumnya pernah direvaluasi dengan surplus Rp 400.000.

Dr - Akumulasi Penyusutan 3.300.000

Cr – Aset Tetap Dr – Rugi Revaluasi Dr – Surplus Revaluasi Cr – Aset Tetap 300.000

400.000

3.300.000

700.000

54

• • • •

Revaluation Model

Contoh Revaluation Model

PT. Kenanga membeli mesin dengan harga 50.000 pada 1 Jan 2010 dan menggunakan metode revaluasi Mesin tersebut disusutkan dengan metode garis lurus 5thn.

Pada 31 Desember 2010 direvaluasi sebesar 48.000

Buat jurnal untuk tahun 2010 dan 2011.

1.1.2010

Dr Aset tetap Cr Kas 31.12.2010

Dr Beban Penyusutan Cr Akumulasi Penyusutan Dr Akumulasi Penyusutan Cr Cr 31.12.2011

Aset tetap Surplus Revaluasi Dr Surplus Revaluasi Cr Saldo Laba 50,000 10,000 10,000 2,000 50,000 10,000 2,000 8,000 Dr Beban Penyusutan ($48K/4) 12,000 Cr Akumulasi Penyusutan 12,000 2,000 55

PSAK 13- Properti Investasi

• Properti Investasi adalah: – properti (tanah atau bangunan—atau bagian dari bangunan—atau keduanya) yang dikuasai (oleh pemilik atau lessee melalui sewa pembiayaan) untuk menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai, atau kedua-duanya, dan tidak untuk: 1. Digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau untuk tujuan administratif; atau 2. Dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari.

56

PSAK 13 Pengakuan Investasi Properti

• Kriteria Pengakuan Sama dengan PSAK 16 – Memiliki manfaat ekonomi di masa mendatang – Dapat diukur dengan andal • Properti investasi pada awalnya diukur sebesar biaya perolehan. – Biaya transaksi termasuk dalam pengukuran awal – Biaya pengurusan surat-surat • Setelah pengukuran awal perusahaan dapat memilih menggunakan : – Metode biaya  harga perolehan dikurangi akumulasi depresiasi – Metode nilai wajar  nilai properti pada tanggal pelaporan, selisih perubahan nilai diakui dalam laporan laba rugi komprehensif, aset properti investasi tidak disusutkan.

57

PSAK 13 Pengukuran setelah Pengakuan Awal

Fair value model (PSAK 13)

• Menggunakan nilai wajar • Perubahan nilai wajar diakui dalam laporan laba rugi pada periode terjadinya.

• Tidak ada penyusutan.

• Mencerminkan kondisi pasar pada tanggal neraca.

Revaluation model (PSAK 16)

• Menggunakan nilai wajar • Perubahan nilai wajar diakui dalam ekuitas atau laba rugi untuk penurunan nilai.

• Penyusutan.

• Tidak spesifik, hanya mengharuskan secara reguler.

58

Ilustrasi PSAK 13

• Entitas membeli bangunan seharga 5.200 juta pada 1/1/2011. Entitas menggunakan fair value model.

– Nilai wajar pada 31/12/2011 sebesar 5.500

– Nilai wajar pada 31/12/2012 sebesar 5.400  1/1/2011  31/12/2011 Bangunan – Properti investasi Keuntungan kenaikan nilai 300  31/12/2012 Bangunan – Properti investasi Kas Kerugian penurunan nilai 5.200

100 Bangunan – Properti investasi 5.200

300 100 59

Nilai wajar – PSAK 13

• Nilai wajar adalah nilai pada tanggal tertentu. • Karena kondisi pasar dapat berubah, jumlah yang dilaporkan berdasarkan nilai wajar mungkin salah atau tidak tepat jika diestimasi pada waktu yang berbeda. • Definisi nilai wajar mengasumsikan pertukaran dan penyelesaian secara serempak dari kontrak penjualan tanpa perbedaan harga juga dapat terjadi dalam suatu transaksi yang wajar antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai seandainya pertukaran dan penyelesaian tersebut tidak dilakukan secara serempak.

60

Nilai wajar – PSAK 13

• Nilai wajar properti investasi mencerminkan, antara lain, penghasilan rental dari sewa yang sedang berjalan dan asumsi-asumsi yang layak dan rasional yang mencerminkan keyakinan pihak-pihak yang berkeinginan bertransaksi dan memiliki pengetahuan memadai mengenai asumsi tentang penghasilan rental dari sewa di masa depan dengan mengingat kondisi sekarang.

• Nilai wajar juga mencerminkan arus kas keluar (termasuk pembayaran rental dan arus keluar Iainnya) yang dapat diperkirakan sehubungan dengan properti tersebut. 61

Nilai wajar – PSAK 13

• Pedoman nilai wajar terbaik mengacu pada harga kini dalam pasar aktif untuk properti serupa dalam lokasi dan kondisi yang sarna dan berdasarkan pada sewa dan kontrak lain yang serupa. • Entitas harus memperhatikan adanya perbedaan dalam sifat, lokasi,atau kondisi properti, atau ketentuan yang disepakati dalam sewa dan kontrak lain yang berhubungan dengan properti.

62

Nilai wajar – PSAK 13

• Tidak tersedianya harga kini dalam pasar aktif yang sejenis, suatu entitas harus mempertimbangkan informasi dari berbagai sumber: – Harga kini dalam pasar aktif untuk properti yang memiliki sifat, kondisi dan lokasi berbeda (atau berdasarkan pada sewa ataukontrak.lain yang berbeda), disesuaikan untuk mencerrninkan perbedaan tersebut; – harga terakhir properti serupa dalam pasar yang kurang aktif, dengan penyesuaian untuk mencerminkan adanya perubahan dalam kondisi ekonomi sejak tanggal transaksi terjadi pada hargatersebut,dan – proyeksi arus kas diskontoan berdasarkan estimasi arus kas di masa depan yang dapat diandalkan,didukung dengan syarat/klausul yang terdapat dalam sewa dan kontrak lain yang ada dan (jika mungkin) dengan bukti ekstemal seperti pasar kini rental untuk properti serupa dalam lokasi dan kondisi yang sama, dan penggunaan tarif diskonto yang mencerrninkan penilaian pasar kini dari ketidakpastian dalam jumlah atau waktu arus kas.

63

“Fair value” dalan IAS 41

• IAS 41 Agriculture –

Biological asset

dinilai sebesar nilai wajar dikurangi dengan biaya penjualan (point-of-sale costs), baik pada pengakuan pertama maupun pada tanggal laporan –

Agriculture product

dinilai nilai wajar dikurangi dengan biaya penjualan (point-of-sale costs), pada pengakuan pertama.

 Nilai hewan dinilai pada saat pembelian sebesar nilai wajar dan setiap • both on initial recognition and at each balance sheet    date  laporan laba rugi.

Tanaman sawit dicatat pada awalnya sebesar nilai wajar saat perolehan, setiap tangga pelaporan dinilai kembali  nilai wajar  perubahan nilai wajar  pendapatan  Hasil pertanian / perkebunan saat panen  Pendapatan  L/R tahun berjalan.

nilai wajar  kenaikan nilai aset biologi dan hasil panen persediaan 64

Ilustrasi Jurnal IAS 41

JURNAL

Pengakuan awal pembelian bibit Aset biologi Kas Biaya operasi untuk menumbuhkan aset biologi Biaya operasi Kas Kenaikan nilai aset biologi menjadi 7.000

Aset Biologi Pendapatan hasil pertumbuhan

Kalkulasi

Pendapatan Biaya operasi Laba

Aset biologi 7.000

Debit Kredit

2.000

2.000

3.000

3.000

5.000

5.000

5.000

3.000

2.000

JURNAL

Tambahan biaya pada periode berikutnya Biaya operasi Kas Aset biologi siap dijual 15.000

Aset biologi Pendapatan hasil pertumbuhan Reklasifikasi menjadi persediaan Persediaan Penjualan Aset biologi Piutang dagang Penjualan HPP Persediaan Biaya penjualan Kas

Debit Kredit

4.000

4.000

8.000

15.000

16.000

8.000

15.000

Ket

Penjualan FV adj Biaya operasi HPP Biaya penjualan Laba 16.000

8.000

(4.000) (15.000) (1.000) 4.000

16.000

15.000

15.000

1.000

1.000

PSAK 48 - Penurunan Nilai

• Penurunan Nilai Aset, yang membahas: 1.

2.

Bagaimana entitas melakukan review atas nilai tercatat aset, Bagaimana menentukan recoverable amount suatu aset, dan 3.

Kapan mengakui atau membalik rugi penurunan nilai.

• Penurunan nilai terjadi jika nilai tercatat aset lebih tinggi dibandingkan nilai terpulihkan (

recoverable amount

) – Recoverable amount adalah nilai tertinggi antara nilai wajar dikurangi biaya penjualan dengan nilai kini penggunaan aset.

• Penurunan nilai diakui di laporan laba rugi • Penurunan boleh dapat dibalikkan sebesar yang telah terjadi • Revew penurunan nilai dilakukan setiap pelaporan 67

Pendekatan Umum dari Pengukuran Penurunan Nilai

Carrying Amount Recoverable Amount  Nilai tertinggi Nilai Aset

Nilai Wajar

dikurangi Biaya Penjualan Nilai Pakai Akumulasi Penyusutan dan Akumulasi Rugi Penurunan Nilai Recovered through sale Recovered through use 68

PSAK 58 - Aset tidak lancar dimiliki untuk dijual dan operasi dihentikan

• Kriteria : • aset (atau kelompok lepasan) harus berada dalam keadaan yang dapat dijual dengan segera • penjualan tersebut dapat dikatakan sangat mungkin terjadi, manajemen pada hirarki yang memadai harus mempunyai komitmen terhadap rencana penjualan aset.

– Diukur pada nilai yang lebih rendah antara jumlah tercatat dan

nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk menjual

, dan penyusutan atas aset tersebut dihentikan – Aset Yang Dimiliki Untuk Dijual disajikan sebagai aset lancar dan terpisah dari pos lainnya. 69

PSAK 22 Prinsip Pengukuran

Kombinasi bisnis adalah suatu transaksi atau peristiwa lain dimana pihak pengakuisisi memperoleh “ pengendalian” atas satu atau lebih bisnis. “penggabungan sesungguhnya (true merger)” atau “penggabungan setara (merger of equals)”

Pihak pengakuisisi mengukur aset teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil-alih dengan nilai wajar pada tanggal akuisisi.

• Pengukuran kepentingan nonpengendali baik pada nilai wajar atau pada proporsi kepemilikan non pengendali atas aset neto teridentifikasi dari pihak yang diakuisisi.

• Pengukuran nilai wajar aset teridentifikasi tertentu dan kepentingan non pengendali 70

Ilustrasi Penggabungan usaha

• PT. Induk mengakuisi 80% saham PT. Anak. Aset yang diserahkan untuk akuisisi 1.200.000. Non pengendali 20%. Nilai buku Ekuitas PT. Anak pada (1/1/20x1): 1.000.000). Dalam akuisisi terdapat perbedaan nilai buku dengan nilai wajar 300.000  untuk tanah 200.000 dan gedung 100.000 (10thn). Laba Anak selama tahun tersebut 200.000, dividen yang dibagikan 100.000

Aset lancar Aset tidak lancar

Induk

3.200.000

5.000.000

8.200.000

Anak

500.000 Liabilitas 1.500.000 Ekuitas

2.000.000

Induk

2.200.000

6.000.000

8.200.000

Anak

1.000.000

1.000.000

2.000.000

Aset lancar Aset tidak lancar Investasi di anak

Induk

2.000.000

5.000.000

1.200.000

8.200.000

Anak

500.000 Liabilitas 1.500.000 Ekuitas

2.000.000

Induk

2.200.000

6.000.000

Anak

1.000.000

1.000.000

8.200.000

2.000.000

Ilustrasi Penggabungan usaha

• • • • • • • • • • Goodwill = Investasi S – (% P’ownership x fair value asset) Nilai wajar aset = 1.000.000 + 300.000 = 1.300.000

Goodwill = 1.200.000 – 80% * 1.300.000 = 160.000  Goodwill untuk np = 160.000/80% * 20% = 40.000

goodwill untuk parent Jika goodwilll hanya untuk parent = 160.000

Jika untuk parent dan non pengendali = 200.000

Aset menjadi lebih besar Aset digabungkan sebesar nilai wajar 1.500.000+300.000 = 1.800.000(total) PSAK lama yang digabungkan hanya 1.500.000 + 80%*300.000

PSAK lama non controlling interest = 1.000.000 * 20% = 200.000 PSAK baru non controlling interest = 1.300.000 * 20% = 260.000

Aset lancar Aset tidak lancar

Induk

3.200.000

5.000.000

8.200.000

Anak FV

500.000 Liabilitas 1.800.000 Ekuitas

2.300.000

Induk

2.200.000

6.000.000

8.200.000

Anak FV

1.000.000

1.300.000

2.300.000

Ilustrasi Penggabungan usaha

Aset lancar Aset tidak lancar Investasi di anak Aset lancar Aset tidak lancar Goodwill

AL ATL GW Knsl

2.500

6.740

160 9.400

Induk

2.000.000

5.000.000

1.200.000

8.200.000

Anak FV

500.000

1.800.000

2.300.000

Liabilitas Ekuitas

Konsolidasi

2.500.000

6.800.000

160.000

9.460.000

Liabilitas Ekuitas Non pengendali

Konsolidasi

3.200.000

6.000.000

260.000

9.460.000

Induk

2.200.000

6.000.000

8.200.000

AL ATL GW L E NP

Knsl

3.200

6.000

200 9.400

Goowill parent PSAK LAMA Anak FV

1.000.000

1.300.000

2.300.000

Knsl

2.500

6.800

200 9.500

L E NP

Knsl

3.200

6.000

300 9.500

Goowill parent & NCI

Aset menjadi lebih besar: Fakto r: Jml akuisisi, Perbedaan BV, FV, HP 73

TERIMA KASIH

Dwi Martani Departemen Akuntansi FEUI [email protected]

atau [email protected]

http://staff.blog.ui.ac.id

atau dwimartani.com

08161932935 atau 081318227080 74