Perkawinan Beda Agama
Download
Report
Transcript Perkawinan Beda Agama
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah
Pengantar Ilmu Administrasi Bisnis
Fakultas ilmu administrasi
Jurusan administrasi bisnis
Universitas subang
2012
Rachma Waty Fazry
A1B.12.0021
Etimologi
Arab
al-’aqd
Akad
al-wath`u
Persetubuhan
Akad, perjanjian dan ikatan yang menghalalkan seorang pria
dan seorang wanita hidup bersama sebagai suami istri
(Wahbah al-Zuhaili)
Istilah
nikah adalah akad yang sangat kuat, dalam mentaati
perintah Allah yang merupakan ibadah.
Menentramkan jiwa
Mewujudkan (Melestarikan)Turunan
Memenuhi Kebutuhan Biologis
Latihan Memiliki Tanggung Jawab
Rukun Nikah
•Pengantin laki-laki
•Pengantin perempuan
•Wali
•Dua orang saksi
•Ijab dan qabul
Syarat-syarat Nikah
Laki-laki
1. Tidak dipaksa/terpaksa
2. Tidak dalam ihram haji atau
umrah
3. Islam (apabila kawin dengan
perempuan Islam)
Perempuan
1. Bukan perempuan yang
dalam iddah
2. Tidak dalam ikatan
perkawinan dengan orang
lain
3. Antara laki-laki dan
perempuan tersebut bukan
muhrim
4. Tidak di dalam keadaan
ihram haji dan umrah
5. Bukan perempuan musyrik.
Hukum Nikah
Jaiz
Wajib
Sunnat
Makruh
Haram
Dalam menghadapi masyarakat kompleks baik dalam
segi budaya maupun agama, maka penting bagi
pemerintah mengatur atau memayungi suatu
kepentingan umum dengan hukuma diantaranya
masalah pernikahan. Untuk menghindari konflik atau
ketidak selarasan dimasyarakat, maka pemerintah
membuat perundang-undangan tentang pernikahan
khususnya mengenai perbedaan agama. Diantara
peraturan-peraturan mengenai pernikahan beda
agama yang masih berlaku diantaranya:
Diantara peraturan-peraturan mengenai pernikahan beda agama yang
masih berlaku diantaranya:
1
Buku I Kitab Undang-undang Hukum Perdata
2
UU No. 1/1974 tentang Perkawinan
3
4
5
UU No. 7/1989 tentang Peradilan Agama
PP No. 9/1975 tentang Peraturan Pelaksana UU No. 1/1974
Intruksi Presiden No. 1/1991 tentang Kompilasi Hukum Islam di
Indonesia
Dalam memahami perkawinan beda agama menurut undang-undang Perkawinan
ada 3 penafsiaran yang berbeda
Pertama
Penafsiran yang berpendapat bahwa perkawinan
beda agama merupakan pelanggaran terhadap UU
No. 1/1974 pasal 2 ayat 1 jo pasal 8 f
Kedua
bahwa perkawinan antar agama adalah sah dan dapat
dilangsungkan, karena telah tercakup dalam perkawinan
campuran, dengan argumentasi pada pasal 57 tentang
perkawinan campuran yang menitikberatkan pada dua
orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang
berlainan, yang berarti pasal ini mengatur perkawinan
antara dua orang yang berbeda kewarganegaraan juga
mengatur dua orang yang berbeda agama
Ketiga
bahwa perkawinan antar agama sama sekali
tidak diatur dalam UU No. 1/1974, oleh
karena itu berdasarkan pasal 66 UU No.
1/1974 maka persoalan perkawinan beda
agama dapat merujuk pada peraturan
perkawinan campuran, karena belum diatur
dalam undang-undang perkawinan.
Ada dua jenis menikah beda agama:
1. Perempuan beragama Islam menikah dengan
laki-laki non-Islam
2. Laki-laki beragama Islam menikah dengan
perempuan non-Islam
Hukum mengenai perempuan beragama Islam menikah dengan laki-laki non-Islam
adalah jelas-jelas dilarang (haram), baik menikah dengan pria Ahli Kitab maupun
dengan seorang pria musyrik.
Hal ini dikhawatirkan wanita yang telah menikah dengan pria non-muslim tidak
dapat menahan godaan yang akan datang kepadanya. Seperti halnya wanita
tersebut tidak dapat menolak permintaan sang suami yang mungkin bertentangang
dengan syariat Islam, atau wanita itu tidak dapat menahan godaan yang datang dari
lingkungan suami yang tidak seiman yang mungkin cenderung lebih dominan.
Haram, apabila menikah dengn wanita musyrik.
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum
mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih
baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan
janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanitawanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak
yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik
hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke
surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayatayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka
mengambil pelajaran.” (Al Baqarah(2):222)
Boleh, pabila menikah dengan wanita Ahli Kitab.
“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan
(sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu,
dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan
mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara
wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga
kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum
kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan
maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak
(pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir
sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka
hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang
merugi.” (Al-Ma’idah(5):5)
Sekian...
Terima
Kasih ^.^