tgas resum bab1-5

Download Report

Transcript tgas resum bab1-5

2012
Fakultas Ekonomi – Universitas Darwan Ali
KELOMPOK 2 :
1. SUWITA INAMA
2. PADLIANUR
3. IDAYATI
4. MERY JULIANTI
5. WAIS
2012
Fakultas Ekonomi – Universitas Darwan Ali
BAB 1
PERSEKUTUAN
PEMBENTUKAN DAN USAHANYA
PERSEKUTUAN
PEMBENTUKAN DAN USAHANYA
Persekutuan (Partnership) adalah suatu penggabungan di
antara dua orang (badan) atau lebih untuk memiliki
bersama-sama dan menjalankan suatu perusahaan guna
mendapatkan keuntungan atau laba. Dari segi
akuntansinya Persekutuan sebagai unit usaha harus
dianggap mempunyai kedudukan terpisah dengan
pemilik-perniliknya.
KARAKTERISTIK PERSUKUTUAN
1.
2.
3.
4.
5.
Berusaha bersama-sama (Mutual Agency).
Jangka Waktu terbatas (Limited Life).
Tanggung Jawab yang tidak terbatas (Unlimited
Liability).
Memiliki suatu bagian/hak di dalam persekutuan
(ownership of an interest in a partnership).
Pengambilan bagian keuntungan persekutuan.
Akuntansi Terhadap Penyertaan Modal dalam
Persekutuan
Hak-hak dari para anggota diikhtisarkan di dalam rekening modal
masing-masing yang terdiri dari penanaman mula-mula, penanaman
tambahan dan prive, serta bagian dari keuntungan atau kerugian
usaha. Para anggota boleh membuat persetujuan dalam membagi
keuntungan atau kerugian dalam berbagai macam cara yang sesuai
dengan hak penyertaan mereka. Apabila tidak ada suatu persetujuan
tertentu, maka keuntungan atau kerugian harus dibagi sama di antara
para anggota.
CONTOH KASUS 1
Tuan A, B dan C mendirikan suatu persekutuan dengan investasi masing-masing
Rp 75.000,00; Rp 25.000,00 dan Rp 50.000,00. Mereka setuju untuk
membagi keuntungan atau kerugian dengan perbandingan yang sama.
Apabila persekutuan mendapat laba Rp 90.000,00, maka rekening modal
untuk masing-masing anggota menjadi sebagai berikut :
CONTOH KASUS 2
Apabila persekutuan tersebut pada nomor 1, menderita kerugian
sebanyak Rp 90.000,00 maka rekening modal untuk masing-masing
anggota akan menjadi sebagai berikut :
Kekayaan
Bersih
Investasi mulamula
Modal A
Modal B
Modal C
Rp. 150.000,00
Rp. 75.000,00
Rp. 25.000,00
Rp. 50.000,00
(Rp. 90.000,00)
(Rp. 30.000,00)
(Rp.30.000,00)
(Rp.30.000,00)
Rp. 60.000,00
Rp. 45.000,00
(Rp. 5.000,00)
Rp. 20.000,00
Kerugian
Jumlah
Pembentukan persekutuan di antara dua orang atau lebih yang masing-masing hanya
menyerahkan setoran modalnya dalam bentuk uang atau barang kepada persekutuan yang
membuat pembukuan tersendiri, tidak banyak mengalami kesulitan. Tetapi apabila
persekutuan didirikan dengan menggabungkan beberapa perusahaan yang sudah
berjalan, maka biasanya timbul beberapa persoalan, antara lain :
1. Apabila persekutuan akan mempergunakan catatan pembukuan dengan melanjutkan
catatan pembukuan dari salah satu perusahaan terdahulu atau membentuk pembukuan
tersendiri yang baru.
2. Apakah perubahan atau pernilaian tertentu terhadap posisi aktiva, hutang dan modal
dari masing-masing perusahaan yang akan digabungkan perlu diadakan atau tidak
perlu diadakan.
Sebagai gambaran dapat dilihat dari contoh berikut ini :
CONTOH KASUS 3
Tuan D dan Tuan E masing-masing bersepakat untuk
membentuk sebuah persekutuan. Tuan D telah memiliki
sebuah perusahaan yang sudah berjalan. Tuan E
bermaksud menanamkan modalnya dalam persekutuan
sebanyak Rp 100.000,00.
Adapun neraca perusahaan Tuan D sebelum bergabung
adalah sebagai berikut :
CONTOH KASUS 3
Tuan D
Neraca per 31 Desember 1979
Kas
Piutang Dagang
Cadangan
Kerugian Piutang
Rp. 64.800.00
Rp. 80.000.00
Rp.
Rp. 96.000.00
Rp. 161.600.00
4.800.00
Persediaan Barang Dagangan
Supplies Kantor
Meubel & alat
Alat kantor
Akumulasi
Penyusutan
Hutang Dagang
Modal Tuan D
Rp. 75.200.00
Rp. 85.600.00
Rp. 6.400.00
Rp. 48.000.00
Rp. 22.400.00
Rp. 25.600.00
Rp. 257.600.00
Rp. 257.600.00
CONTOH KASUS 3
Tuan D dan E bersepaka bahwa dalam pembentukan pelsekutuan ini, Tuan D meminta beberapa syarat untuk
merubah posisi keuangan yang dilaporkan pada Neraca per 3l Desember 1979, sebagai berikut :
a. Uang Kas yang ada di ambil seluruhnya oleh Tuan D
b. Piutang Dagang
Piutang sebesar Rp 4.000,00 dianggap tidak tertagih dan harus dihapus. cadangan kerugian piutang ditetapkan
4% dari saldo piutang yang baru.
c. Persediaun Barang dogangon
Barang-barang yang telah dinilai atas dasar "Harga pokok", yang dihitung dengan metode LIFO dinilai kembali
berdasar harga pasar sehingga nilainya menjadi : Rp 106.400,00.
d. Meubel & Alat-alat Kantor
Nilai pengganti sebesar Rp 60.000,00 terhadap aktiva ini telah disusut sebesar 50%, dan di catat berdasar nilai
sehat sebesar Rp. 30.000,00
e. Goodwill
Kepada Tuan D diberikan goodwill atas reputasi perusahaannya yang dinilai sebesar
Rp. 40.000,00
CONTOH KASUS 3
Prosedur pembukuan dalam Persekutuan D & E yang baru dibentuk dapat dipakai
salah satu dari kedua cara berikut ini :
1. Persekutuan yang baru dibentuk melaniutkan buku-buku perusahaan terdahulu
(Tuan D)
(a) Mencatat penilaian kembali berbagai macam aktiva perusahaan Tuan D, sesuai
dengan ketentuan yang disepakati bersama.
Cadangan Kerugian Piutang
Rp.
1.760.00
Persediaan Barang Dagangan
Rp. 20.800.00
Akumulasi Penyusutan meubel & Alat-alat Kantor
Rp. 22.400.00
Goodwill
Rp. 40.000.00
Piutang Dagang
Rp.
4.000.00
Meubel & Alat-alat Kantor
Rp. 18.000.00
Modal Tuan D
Rp. 62.960.00
CONTOH KASUS 3
(b) Mencatat setoran modal Tuan E
Kas
Rp. 100.000.00
Modal Tuan E
Rp. 100.000.00
(c) Mencatat Pengambilan uang kas oleh Tuan D
Modal Tuan D
Kas
Rp. 64.800.00
Rp. 64.800.00
CONTOH KASUS 3
2. Persekutuan yang baru dibentuk membuka buku-buku baru tersendiri.
(a) Mencatat kekayaan bersih perusahaan Tuan D, sebagai setoran modal kepada
persekutuan
Piutang Dagang
Rp.
76.000.00
Persediaan Barang Dagangan
Rp. 106.400.00
Supplies Kantor
Rp.
6.400.00
Meubel & Alat-alat kantor
Rp.
30.000.00
Goodwill
Rp.
40.000.00
Cadangan kerugian
Rp.
3.040.00
Hutang Dagang
Rp.
96.000.00
Modal Tuan D
Rp. 159.760.00
(b) Mencatat Setoran Modal Tuan E
Kas
Rp. 100.000.00
Modal Tuan E
Rp. 100.000.00
CONTOH KASUS 3
“Persekutuan D & E”
Neraca Pembukaan, per 2 Januari 1980
AKTIVA
Aktiva Lancar
Kas
Piutang Dagang
Cadangan
Kerugian Piutang
HUTANG & MODAL
Rp. 100.000.00
Rp.
Jumlah Hutang Lancar
Rp. 96.000.00
96.000.00
Rp. 76.000.00
Rp.
3.040.00
Persediaan Barang Dagangan
Supplies Kantor
Jumlah Aktiva Lancar
Rp. 72.960.00
Rp. 106.400.00
Rp. 6.400.00
Rp. 285.760.00
Aktiva Tetap
Meubel & alat Alat kantor
GoodWill
Rp. 30.000.00
Rp. 40.000.00
Jumlah Aktiva
Hutang Lancar
Hutang Dagang
Rp. 355.760.00
Modal :
Modal Tuan D
Modal Tuan E
Rp. 159.760.00
Rp. 100.000.00
Jumlah Hutang & Modal
Rp. 355.760.00
Pembagian Laba (rugi) di dalam
Persekutuan
Adapun berbagai macam cara pembagian laba (rugi) yang akan dikemukakan di sini
adalah :
1. Dibagi sama
2. Dengan perbandingan atas dasar perjanjian.
3. Dengan perbandingan penyertaan modal.
4. Mula-mula ditentukan bunga modal dari masing-masing anggota, selebihnya dibagi
atas dasar perjanjian.
5. Mula-mula diberikan gaji sebagai pemilik dan bonus kepada anggota yang aktip
bekerja, sisanya dibagi atas dasar perjanjian.
6. Mula-mula ditetapkan bunga untuk modal dari anggota, kemudian gaji sebagai
pemilik dan bonus untuk anggota-anggota yang dianggap berjasa dan sisanya
dibagi atas dasar perjanjian bersama.
CONTOH KASUS 4
Tuan F, G dan H telah mendirikan sebuah persekutuan
dan pada tahun 1980 mendapatkan keuntungan
sebesar Rp 150.000,00. Pada akhir tahun 1980,
diketahui
posisi
rekening
pribadi
(prive/personal/current account) dan rekening
“modal" masing-masing anggota adalah sebagai
berikut :
CONTOH KASUS 4
Pribadi F
1980
Mei 7
D
K
20.00
-
Saldo
D/K
20.00
D
Saldo
D/K
35.00
D
Saldo
D/K
45.00
D
Pribadi G
1980
Mei 31
D
K
35.00
-
Pribadi H
1980
Mei 15
D
K
45.00
-
CONTOH KASUS 4
Modal F
D
1980
Jan 2
Apr 1
K
-
300.000
100.000
Saldo
300.000
400.000
D/K
K
K
Modal G
D
1980
Jan 2
Jun 1
K
-
400.000
100.000
Saldo
400.000
500.000
D/K
K
K
Modal H
D
1980
Jan 2
Apr 1
Agst 1
K
-
775.000
500.000
875.000
-
Saldo
500.000
1.375.000
600.000
D/K
K
K
K
PENJELASAN CONTOH KASUS 4
1) Apabila disetujui laba (rugi) yang diperoleh dibagi sama, maka jurnal untuk mencatat pembagian laba sebesar Rp
150.000,00 pada tahun 1980, adalah sebagai berikut :
Rugi & Laba
Rp.
150.000.00
Pribadi F
Rp.
50.000.00
Pribadi G
Rp.
50.000.00
Pribadi H
Rp.
50.000.00
2) Apabila disetujui pembagian laba/rugi dilakukan dengan suatu perbandingan sebagai berikut :
Tuan F : G : H = 3 : 5 : 7, maka jurnal untuk mencatat pembagian laba itu adalah sebagai berikut :
Rugi & Laba
Rp.
150.000.00
Pribadi F
Rp.
30.000.00
Pribadi G
Rp.
50.000.00
Pribadi H
Rp.
70.000.00
Perhitungan :
Jumlah
Bagian Laba Tuan F = 3/15x 150.000 =
Rp. 30.000.00
Bagian Laba Tuan G = 5/15 x 150.000 =
Rp. 50.000.00
Bagian Laba Tuan H = 7/15 x 150.000 =
Rp. 70.000.00 (+)
TOTAL
Rp. 150.000.00
PENJELASAN CONTOH KASUS 4
3) Apabila disetujui bahwa pembagian laba (rugi) dilakukan sesuai
dengan perbandingan penyertaan modal dari masing-masing
anggota.
Dalam hal ini ada 3 (tiga) kemungkinan yang bisa ditempuh, yaitu :
a) Sesuai dengan perbandingan modal awal.
b) Sesuai dengan perbandingan modal akhir.
c) Sesuai dengan perbandingan modal rata-rata tahunan.
PENJELASAN CONTOH KASUS 4
a) Apabila keuntungan dibagi sesuai dengan perbandingan modal awal, maka
jurnal untuk mencatat pembagian laba itu adalah sebagai berikut :
Rugi & Laba
Rp.
150.000.00
Pribadi F
Rp.
37.500.00
Pribadi G
Rp.
50.000.00
Pribadi H
Rp.
62.500.00
Perhitungan :
Nama
Anggota
Saldo Modal
Awal Tahun
Ratio
Pembagian
Laba
Hak Atas
Laba (Rugi)
F
300.000
3/12
37.500
G
400.000
4/12
50.000
H
500.000
5/12
62.500
1.200.000
12/12
150.000
JUMLAH
PENJELASAN CONTOH KASUS 4
b) Apabila laba (rugi) dibagi sesuai dengan perbandingan modal akhir. maka
jurnal pembagian laba iru adalah sebagai berikut :
Rugi & Laba
Rp.
150.000.00
Pribadi F
Rp.
40.000.00
Pribadi G
Rp.
50.000.00
Pribadi H
Rp.
60.000.00
Perhitungan :
Nama
Anggota
Saldo Modal
Akhir Tahun
Ratio
Pembagian
Laba
Hak Atas
Laba (Rugi)
F
400.000
4/15
40.000
G
500.000
5/15
50.000
H
600.000
6/15
60.000
1.500.000
15/15
150.000
JUMLAH
PENJELASAN CONTOH KASUS 4
c) Apabila laba (rugi) dibagi sesuai dengan perbandingan modal rata-rata tahunan, maka jurnalnya adalah
:
Rugi & Laba
Rp.
150.000.00
Pribadi F
Rp.
33.750.00
Pribadi G
Rp.
41.250.00
Pribadi H
Rp.
75.000.00
Perhitungan : Perbandingan modal rata-rata
Nama
Anggota
Tanggal
Mutasi
Jumlah
D
Mutasi
K
Saldo
Modal
Jangka Waktu
Tiap Bagian
Modal
Jumlah Modal
dalam jangka
waktu yang
bersangkutan
F
2 Jan
1 April
-
300.000
100.000
300.000
400.000
3 bulan
9 bulan
12 bulan
900.000
3.600.000
4.500.000
G
2 Jan
1 Juni
-
400.000
100.000
400.000
500.000
5 bulan
7 bulan
12 bulan
200.000
3.500.000
5.500.000
775.000
500.000
875.000
-
500.000
1.375.000
600.000
3 bulan
4 bulan
5 bulan
12 bulan
1.500.000
5.500.000
3.000.000
10.000.000
H
2 Jan
1 April
1 Agusts
PENJELASAN CONTOH KASUS 4
Pembagian Laba :
S
Nama
Anggota
Ratio
Pembagian
Laba
Hak Atas
Laba (Rugi)
F
45/200
33.750
G
55/200
41.250
H
100/200
75.000
200/200
150.000
JUMLAH
4) Apabila pembagian laba (rugi) dilakukan dengan memperhirungkan bunga modal untuk
masing-masing penyertaan dan sisanya dibagi dengan perbandingan F:G:H=2:2:1.
Bunga modal ditentukan sebesar 6% setahun dari modal rata-rata. Jurnal untuk mencatat
pembagian laba tersebut adalah
Rugi & Laba
Rp.150.000.00
Pribadi F
Rp. 42.500.00
Pribadi G
Rp. 47.500.00
Pribadi H
Rp. 60.000.00
Perhitungan Bunga Modal
Bunga modal rata-rata dapat dihirung dengan dua cara. Pertama dengan menentukan besarnya bunga untuk setiap bagian modal sesuai dengan jangka waktu sejumlah modal itu ditanamkan dalam perusahaan
sebagai berikut :
Bunga Modal untuk Tuan F
Investasi sebesar : Rp. 300.000.00 selama 12 bulan = 12/12 x 6% x 300.000
Rp. 100.000.00 selama 9 bulan = 9/12 x 6% x 100.000
Jumlah
=
18.000.00
=
4.500.00
=
22.500.00
=
24.000.00
=
3.500.00
=
27.500.00
=
30.000.00
=
39.375.00
Bunga Modal untuk Tuan G
Investasi sebesar : Rp. 400.000.00 selama 12 bulan = 12/12 x 6% x 400.000
Rp. 100.000.00 selama 7 bulan = 7/12 x 6% x 100.000
Jumlah
Bunga Modal untuk Tuan H
Investasi sebesar : Rp. 500.000.00 selama 12 bulan = 12/12 x 6% x 500.000
Rp. 875.000.00 selama 9 bulan = 9/12 x 6% x 875.000
69.375.00
Dikurangi :
Penarikan kembali modal sebesar Rp. 775.000 = 5/12 x 6% x 775.000
=
19.375.00
Jumlah
=
50.000.00
Perhitungan Bunga Modal
Perhitungan bunga modal dapat juga dilakukan atas dasar besarnya modal rata-rara setiap bulan sebagai berikut :
Bunga Modal untuk F = 6%
G = 6%
= 22.500.00
4.500.000
12
= 27.500.00
5.500.000
12
H = 6%
= 50.000.00
10.000.000
12
Pembagian Laba :
F
G
H
Bunga Modal
22.500
27.500
50.000
100.000
Sisa Laba
20.000
20.000
10.000
50.000
42.500
47.500
60.000
150.000
JUMLAH
JUMLAH
PEMBAGIAN KEUNTUNGAN
5) Apabila pembagian keuntungan dilakukan dengan terlebih dahulu menentukan gaji para pemilik yang
setiap bulannya Tuan F, G dan H, masing-masing menerima sebesar Rp 2.750,00 : Rp 2.500,00 dan
Rp 2.250,00. Sedang sisanya dibagi sesuai dengan perbandingan modal akhir. Jurnal untuk mencatat
pembagian laba tersebut adalah :
Rugi & Laba
Rp.
150.000.00
Pribadi F
Rp.
49.000.00
Pribadi G
Rp.
50.000.00
Pribadi H
Rp.
51.000.00
Perhitungan Gaji :
Tuan F = Rp. 2.750.00 x 12
= Rp. 33.000.00
Tuan G = Rp. 2.500.00 x 12
= Rp. 30.000.00
Tuan H = Rp. 2.250.00 x 12
= Rp. 27.000.00 (+)
jumlah
= Rp. 90.000.00
Pembagian Laba :
F
G
H
Gaji Pemilik
33.000
30.000
27.000
90.000
Sisa Laba
16.000
20.000
24.000
60.000
49.000
50.000
51.000
150.000
JUMLAH
JUMLAH
PEMBAGIAN KEUNTUNGAN
6) Apabila pembagian keuntungan disetujui dilakukan dengan ketentuan
sebagai berikut :
a) Bunga modal ditetapkan sebesar 6% setahun dari modal rata-rara.
b) Untuk Tuan F sebagai anggota yang memimpin diberikan bonus sebesar 20% dari
keuntungan sesudah dikurangi bonus untuknya terlebih dahulu; sedang Tuan G yang
membantu secara part-time diberikan bonus sebesar 1/5 dari bonus Tuan F.
c) Sisanya dibagi dengan perbandingan F : G : H = 2 : 2 : I
Jurnal untuk mencatat pembagian Laba tersebut adalah :
Rugi & Laba
Pribadi F
Pribadi G
Pribadi H
Rp.
150.000
Rp.
Rp.
Rp.
55.500
40.500
54.000
PEMBAGIAN KEUNTUNGAN
Perhitungan Bonus :
Laba Bersih
Rp. 150.000
Bonus 20% dari laba sesudah dikurangi bonus
jadi : 100 % + 20%
= Rp. 150.000
120%
= Rp. 150.000
20%
= Rp.
25.000
Pembagian Laba :
F
G
H
Bunga Modal
22.500
27.500
50.000
100.000
Bonus
25.000
5.000
-
30.000
Sisa Laba
8.000
8.000
4.000
20.000
55.500
40.500
54.000
150.000
JUMLAH
JUMLAH
BAB 2
PERSEKUTUAN
PEMBUBARAN KARENA
PERUBAHAN PEMILIK
Keadaan – keadaan yang menyebabkan
terjadinya pembubaran persekutuan



Pembubaran atas dasar perjanjian persekutuan ( act of
the parties )
Pembubaran atas bekerjanya undang – undang
Pembubaran atas dasar keputusan pengadilan
Masuknya seorang anggota atau lebih anggota
baru


Seseorang yang akan masuk ke dalam persekutuan dapat
memasukkan modal dengan cara :
Membeli sebagian atau seluruhnya dari bagian modal
seorang atau lebih anggota lama.
Menanamkan kekayaan pada persekutuan, sehingga
kekayaan persekutuan bertambah.
Pembelian Sebagian Hak Penyertaan dari anggota Persekutuan


Apabila salah satu anggota persekutuan menjual hak penyertaan modal dan pembagian laba ( rugi ) kepada pihak
lain maka pembukuan didalam persekutuan terbatas pada pemindahan saldo rekening modal pihak pembeli.
Contoh Soal I
Tuan A dan B adalah anggota – anggota persekutuan yang membagi laba ( rugi ) dengan perbandingan yang sama.
Berikut ini neraca persekutuan A dan B pada akhir tahun buku 1979.
Persekutuan A & B
Neraca per 31 Desember 1979
Pada saat itu C ingin masuk dalam keanggotaan persekutuan dengan membeli ¼
bagian hak penyertaan A & B dengan membayar sebesar Rp 250.000
Jawab
Modal A
Rp 150.000
Modal B
Rp 100.000
Modal C
Rp 250.000
Suatu Penyertaan ( Investasi ) dengan memberikan bonus & atau
goodwill kepada anggota pemilik yang lama
Pemberian bonus kepada anggota pemilik lama
Contoh Soal II
Tuan L, M dan N adalah anggota – anggota persekutuan dengan
modal dan laba ( rugi ) masing – masing sbb :
Pada saat itu Tuan O, ingin masuk dalam keanggotaan persekutuan
dan diterima oleh anggota – anggota pemilik lama. Untuk itu tuan O
menyerahkan uang sebesar Rp 40.000 untuk penyertaan modal
sebanyak 25% dari modal persekutuan yang baru.
 Penyelesaian :
 Jurnal untuk mencatat masuknya tuan O :
Kas
Rp 40.000
Modal L
Rp 2.250,00
Modal M
Rp 1.750,00
Modal N
Rp 1.000,00
Modal O
Rp 35.000,00
Pembentukan Goodwill untuk anggota Pemilik lama :
Contoh Soal III
Tuan L, M dan N tersebut setuju untuk memasukkan Tuan O dengan ketentuan bahwa : Tuan O
menyetorkan uangnya sebesar Rp 40.000 untuk ¼ bagian dari modal persekutuan yang baru.
 Penyelesaian :
= 100 x Rp 40.000
= Rp 160.000
25%
Jumlah modal persekutuan lama
Rp 100.000
Setoran modal tuan O
Rp 40.000
Modal persekutuan yang riel
Rp 140.000
Goodwill yang harus dibentuk
Rp 20.000

Perhitungan pembagian goodwill sesuai dengan pembagian laba ( rugi ) sbb :
Tuan L : 45% x 20.000
= Rp 9.000
Tuan M : 35% x 20.000
= Rp 7.000
Tuan N : 20% x 20.000
= Rp 4.000
Jumlah
= Rp 20.000

Jurnal untuk mencatat Setoran Modal Tuan O
Kas
Rp 40.000
Modal Tuan O

Rp 40.000
Jurnal pembentukan goodwill
Goodwill
Rp 20.000
Modal Tuan L
Rp 9.000
Modal Tuan M
Rp 7.000
Modal Tuan N
Rp 4.000
Evaluasi terhadap sistem bonus dan sistem goodwill
Sistem bonus atau goodwill mempunyai akibat yang berbeda kepada saldo modal para anggota
secara individual. Berdasarkan contoh soal II & III dapat dilihat pengaruh dari masing - masing sistem
pada tabel dibawah ini :
Suatu penyertaan ( investasi ) dengan memberikan bonus atau goodwill
kepada anggota yang baru
Bonus atau goodwill diberikan kepada anggota yang baru timbul karena persekutuan yang ada mungkin
mengharapkan adanya keuntungan yang lebih besar apabila calon anggota tertentu masuk kedalam
persekutuan.
Dalam hal ini akan terjadi kemungkinan – kemungkinan sbb :

Bagian modal anggota pemilik lama dikurangi dan diberikan sebagai bonus kepada anggota yang baru,

Goodwill harus dibentuk dan dikredit pada rekening modal anggota yang baru.


Pemberian Bonus kepada anggota yang baru
Contoh Soal
Persekutuan Tuan L, M dan N, satuju Tuan O masuk ke dalam persekutuan. Tuan menyerahkan uang sebesar Rp
40.000 untuk penyertaan 40% dari modal persekutuan yang baru.
Penyelesaian :
Jurnal untuk mencatat masuknya Tuan O :
Kas
Rp 40.000
Modal L
Rp 7.200
Modal M
Rp 5.600
Modal N
Rp 3.200
Modal O
Rp 56.000
Perhitungan :
Saldo Modal Sekutu lama
Rp 100.000
Setoran modal Tuan O
Rp 40.000
Jumlah
Rp 140.000
Hak penyertaan tuan O, dihitung 40% dari :
Saldo modal yang baru : 40% x Rp 140.000
Rp 56.000
Setoran modal tuan O
Rp 40.000
Bonus kepada tuan O
Rp 16.000
-
Bonus sebesar Rp 16.000 dikurangkan dari saldo modal anggota pemilik lama :
Tuan L : 45% x 16.000
Rp 7.200
Tuan M : 35% x 16.000
Rp 5.600
Tuan N : 20% x 16.000
Rp 3.200
Jumlah
Rp 16.000
Pembentukan Goodwill untuk anggota yang baru
Contoh Soal

Persekutuan Tuan L, M dan N setuju tuan O masuk kedalam persekutuan dg ketentuan bahwa : Tuan O
menyerahkan uang sebesar Rp 40.000. Karena Tuan L,M dan N tidak bersedia dikurangi modalnya,
maka jumlah modal Tuan L, M dan N yang jumlahnya sebesar Rp 100.000 itu akan merupakan
621/2% dari modal persekutuan yang baru, sedang bagian modal Tuan O adalah 371/2%.
Penyelesaian :

Jumlah modal persekutuan yang baru adalah
100 x Rp 100.000 = Rp 160.000
62,5%

Modal Tuan O sebagai penyertaan terhadap 371/2% dari modal persekutuan yang baru adalah :
371/2% x Rp 160.000
Rp 60.000
Setoran modal
Rp 40.000
Goodwill
Rp 20.000

Jurnal untuk mencatat masuknya Tuan O :
Kas
Rp 40.000
Goodwill
Rp 20.000
Modal Tuan O
Rp 60.000
PENENTUAN ADANYA BONUS DAN GOODWILL APABILA TIDAK ADA SATU
PERNYATAAN TERTENTU





Apabila setoran modal anggota yang baru >, berarti terdapat goodwill atau bonus kepada anggota yang baru
Apabila setoran modal anggota yang baru =, berarti tidak ada goodwill yang dibentuk atau bonus yang diberikan
Apabila setoran modal anggota yang baru <, berarti terdapat goodwill atau bonus kepada anggota pemilik lama
Contoh soal :
Tuan P dan Q membuat suatu persekutuan dengan modal masing – masing Rp 100.000 dan Rp 140.000 keuntungan dan
kerugian dibagi sama. Tuan R berkehendak masuk dalam persekutuan.
Tuan R menanamkan modal Rp 120.000 untuk penyertaan ¼ bagian dari jumlah modal jumlah persekutuan sebesar Rp
400.000
Penyelesaian :
Kas
Rp 120.000
Goodwill
Rp 40.000
Modal P
Modal Q
Rp 30.000
RP 30.000
Modal R
Rp 100.000
Penyelesaian pengunduran diri seorang anggota

Pembayaran kepada anggota yang mengundurkan diri dengan jumlah yang melampaui saldo modalnya
Hal ini dapat terjadi apabila penilaian kembali kekayaan perusahaan ternyata lebih tinggi dari apa yang tercatat
dalam buku. Dengan demikian anggota yang akan meneruskan usaha berani memberikan bonus atau goodwill kepada
anggota yang mengundurkan diri.
Pemberian bonus
Contoh Soal I :

Tuan S, T dan U adalah anggota – anggota persekutuan yang mempunyai saldo modal masing – masing Rp 200.000.
Perjanjian pembagian keuntungan diantara mereka adalah sbb : 50%, 25%, 25%.
Tuan U menyatakan pengunduran diri dan diterima baik oleh semua anggota. Para anggota setuju untuk membayar
kepada Tuan U sebanyak Rp 230.000. Kelebihan pembayaran kepada Tuan U diberikan sebagai bonus.
Penyelesaian :
Jurnal untuk mencatat pengunduran diri Tuan U :
Modal Tuan U
Rp 200.000
Modal Tuan S
Modal Tuan T
Hutang Tuan U / Kas
Rp 20.000
Rp 10.000
Rp 230.000
Pembentukan goodwill
Contoh Soal II
Pada contoh soal I,Tuan S dan T tidak ingin saldo modalnya dikurangi, meskipun mereka
bersedia membayar sebesar Rp 230.000 kepada Tuan U sebagai penyelesaian
pengunduran diri Tuan U.
 Jurnal untuk mencatat pembentukan goodwill adalah sbb :
Goodwill
Rp 120.000
Modal S
Rp 60.000
Modal T
Rp 30.000
Modal U
Rp 30.000
 Jurnal untuk mencatat pembayaran kepada Tuan U
Modal Tuan U
Rp 230.000
Hutang Tuan U / Kas
Rp 230.000
 Jurnal pembentukan goodwill dan pengunduran diri Tuan U sbb :
Modal Tuan U
Rp 200.000
Goodwill
Rp 30.000
Hutang Tuan U / Kas
Rp 230.000
Pembayaran kepada anggota yang mengundurkan diri dengan jumlah lehih
rendah dari saldo modalnya

Pemberian Bonus
Contoh Soal III
pada contoh soal II, Tuan U menyetujui untuk menerima Rp 170.000 guna menyelesaikan pengunduran diri dari
jumlah penyertaan sebesar Rp 200.000.
Penyelesaian :
 Jurnal untuk mencatat pengunduran diri Tuan U
Modal Tuan U
Rp 200.000
Hutang Tuan U / Kas
Rp 170.000
Modal S
Rp 20.000
Modal T
Rp 10.000

Pembentukan goodwill
Contoh Soal IV
Apabila Tuan U dibayar sebesar Rp 170.000 untuk bagian penyertaan yang besarnya Rp 200.000 dengan
kelebihan saldo kredit dimasukkan sebagai kompensasi terhadap adanya goodwill.
 Jurnal untuk mencatat pengunduran diri Tuan O :
Modal U
Rp 200.000
Goodwill
Rp 30.000
Hutang Tuan U / Kas
Rp 170.000


Apabila buku – buku persekutuan tetap dipertahankan, maka pencatatan hendaknya menunujukkan
adanya :
a. ) Perubahan nilai aktiva, hutang dan bagian penyertaan
masing – masing anggota sebelumnya
kepada bentuk
perseroan.
b. )
Perubahan di dalam bentuk pemilikan.
Apabila membuka buku – buku baru maka pencatatan yang pertama – tama harus diadakan adalah
penyesuaian aktiva dan bagian penyertaan para anggota, kemudian diikuti dengan pencatatan –
pencatatan :
a. ) Pemindahan aktiva dan hutang kedalam perseroan.
b. ) Penerimaan saham – saham sebagai pembayaran tehadap
kekayaan bersih yang dipindahkan
dan
c. ) Pembagian saham kepada para anggota pemilik.
Contoh Soal :
Tuan V dan W adalah anggota persekutuan yang membagi laba ( rugi ) dengan perbandingan yang sama.
Mereka memutuskan untuk melebur persekutuannya menjadi sebuah perseroan dengan modal statutair
yang terbagi dalam 500 saham biasa nominal @ Rp 1.000. Posisi keuangan persekutuan sebelum
diadakan peleburan adalah sbb :
Persekutuan V & W
Neraca per 31 Desember 1979
Tuan V dan W sebelum peleburan bentuk persekutuan menjadi perseroan, menghendaki agar ada penilaian kembali terhadap
beberapa jenis aktiva, sbb :
Piutang dagang
Rp 36.000
Gedung
Tanah
Rp 130.000
Rp 84.000
Penyelesaian :

Jurnal yang diperlukan apabila perseroan melanjutkan buku – buku persekutuan
 Penyesuaian rekening dan penilaian kembali aktiva.
Tanah
Rp 44.000
Akumulasi penyusutan gedung
Rp
10.000
Cadangan kerugian piutang
Rekening penyesuaian modal
 Pembagian keuntungan karena penilaian kembali
Rekening penyesuaian modal
Modal V
Modal W
 Pengeluaran saham – saham untuk Tuan V dan W
Modal V
Rp 146.000
Modal W
Rp 194.000
Modal saham Rp 340.000
Rp 2.000
Rp 52.000
Rp 52.000
Rp 26.000
Rp 26.000
“ PT VW”
Neraca Pembukuan 1 Januari 1980

Jurnal pada waktu persekutuan Tuan V dan W ditutup, sesudah penilaian kembali (
dalam buku lama ) :
Piutang perseroan
Rp 340.000
Hutang dagang
Rp 20.000
Wesel bayar
Rp 12.000
Cad kerugian piutang
Rp 6.000
Akum peny. gedung
Rp 20.000
Kas
Rp 4.000
Piutang dagang
Rp 42.000
Persediaan barang dagangan
Rp 118.000
Gedung
Rp 150.000
Tanah
Rp 84.000
 Jurnal pada saat Tuan V dan W menerima saham – saham dari perseroan :
Modal V
Rp 146.000
Modal W
Rp 194.000
Piutang perseroan
Rp 340.000


Jurnal pada waktu pemindahan aktiva dan hutang persekutuan Tuan V dan W ( dalam
buku baru ) :
Kas
Rp 4.000
Piutang dagang
Rp 42.000
Persed.barang dagangan
Rp 118.000
Gedung
Rp 150.000
Tanah
Rp 84.000
Hutang dagang
Rp 20.000
Wesel bayar
Rp 12.000
Cad.kerugian piutang
Rp
6.000
Akumulasi penyusutan gedung
Rp 20.000
Hutang - Tuan V & W
Rp 340.000
Jurnal pada waktu perseroan mengeluarkan saham – saham untuk Tuan V & W ( dalam
buku baru ) :
Hutang Tuan V & W
Rp 340.000
Modal saham
Rp 340.000
BAB 3
LIKUIDASI PERSEKUTUAN
Likuidasi adalah suatu keadaan di mana baik
persekutuan maupun usaha perusahaannya
dibubarkan semua.
Proses pembubaran usaha ini meliputi dua tahap,
yaitu :
1.
2.
Proses mengubah harta kekayaan yang ada menjadi
uang tunai (cash), yang disebut proses realisasi.
Proses pembayaran kembali hutang-hutang kepada
para kreditur dan pembayaran kembali sisa modal
kepada para anggota, yang disebut juga proses
likuidasi.
Prosedur dalam likuidasi
1.
2.
Rekening-rekening pembukuan harus disesuaikan dan ditutup. Laba dan rugi
bersih selama periode terakhir diperhitungkan ke rekening modal masingmasing, sesudah itu dikatakan persekutuan siap untuk dilikuidasi.
Pada proses pengubahan aktiva menjadi uang tunai (cash), apabila ada
perbedaan antara nilai buku dan nilai realisasi yang menunjukkan keuntungan
atau kerugian harus dibagi di antara anggota sesuai dengan perbandingan
pembagian laba (rugi). Saldo modal selanjutnya dipakai sebagai dasar
penyelesaian.
3.
Apabila dijumpai keadaan di mana salah seorang anggota
mempunyai saldo debit di dalam rekening modalnya, di lain pihak
ia mempunyai piutang kepada persekutuan, maka piutang
kepada persekutuan itu dipakai untuk menutup saldo debit
rekening modal yang bersangkutan. Di samping itu pada
prinsipnya apabila seorang anggota mengalami defisit maka
anggota yang lain berkewajiban untuk menutupnya terlebih
dahulu.
4.
Apabila uang tunai sudah tersedia untuk dibagi, maka
pertama-tama harus dibayarkan terlebih dahulu kepada
para kreditur extern, baru sesudah itu dibayarkan saldosaldo modal masing-masing anggota.
Likuidasi berlangsung setelah proses realisasi berakhir
Misalnya Persekutuan Tuan A, B, C dan D dinyatakan
akan dilikuidasi. Pembagian laba (rugi) di dalam
persekutuan diatur dengan perbandingan sebagai
berikut : 30 %, 30 %, 20 % dan 20%.
Neraca per 1 Mei 1980 yang disusun sesaat sebelum
likuidasi menunjukkan saldo-saldo sebagai berikut :
a.
b.
Jika Realisasi aktiva lain sebesar Rp 140.000. Kerugian
dalam realisasi aktiva lain-lain dibebankan kepada
rekening modal masing-masing anggota dengan jumlah
yang masih cukup ditutup oleh saldo modal.
Realisasi aktiva lain-lain sebesar Rp 120.000.
Pembebanan kerugian melampaui saldo rekening modal
beberapa anggota sehingga harus ditutup dengan saldo
piutangnya kepada persekutuan.
Contoh a. :
Nilai buku aktiva lain
Direalisasikan dlm kas
Rugi dalam realisasi
180.000
140.000
40.000
Kerugian tersebut dibagi di antara anggota masing-masing A, B, C dan D
dengan perbandingan: 30 %, 30 %, 20 % dan 20%. Pembebanan kerugian
realisasi kepada rekening modal masing-masing.
A=30%x40.000=12.000
B=30%x40.000=12.000
C=20%x40.000=8.000
D=20%x40.000=8.000
Pembebanan kerugian tersebut masih cukup ditutup dengan saldo modal dari masingmasing anggota.
Adapun jurnal yang diperlukan untuk mencarat penjualan aktiva lain dan
pembebanan rugi penjualan kepada masing-masing anggota serta proses
likuidasinya adalah sebagai berikut :
a.
Kas
140.000
Modal A
12.000
Modal B
12.000
Modal C
8.000
Modal D
8.000
Aktiva lain-Lain
180.000
b. Hutang Dagang
75.000
Kas
75.000
c.
Hutang kpd B
6.000
Hutang kpd D
5.000
Modal A
30.000
Modal B
19.000
Modal C
12.000
Modal D
2.000
Kas
75.000
Persekutuan A,B,C,D
IKHTISAR LAPORAN LIKUIDASI
Contoh b. :
Jurnal yang diperlukan untuk mencatat realisasi tersebut:
Kas
120.000
Modal, A
Modal, B
Modal, C
Modal. D
Aktiva lain2
Hutang Dagang
Kas
18.000
18.000
12.000
12.000
180.000
75.000
75.000
Hutang kepada D
Modal, D
2.000
Hutang kpd B
Hutang kpd D
Modal A
Modal B
Modal C
Kas
6.000
3.000
2.000
24.000
13.500
2.000
55.000
Persekutuan A,B,C,D
IKHTISAR LAPORAN LIKUIDASI
BAB 4
LIKUDASI BERANGSUR DALAM
PERSEKUTUAN
Apabila pelaksanaan likuidasi memerlukan waktu yang
agak lama, maka pembayaran kembali penyertaan
para anggota dapat dilakukan secara bertahap sesuai
dengan jumlah uang kas yang tersedia. Pembayaran
kembali hak penyertaan para anggota dilakukan
sesudah semua kewajiban persekutuan dibayar lunas.
Proses likuidasi demikian disebut likuidasi berangsur.
Pembayaran kembali hak penyertaan kepada para anggota secara
bertahap, dilakukan sebelum laba (rugi) likuidasi yang menjadi
tangggungan mereka. Untuk menjamin agar penyelesaian dapat
dilakukan sesuai dengan hak-hak para anggota, pembayaran
bertahap harus diatur sbb :
“pembayaran hanya dilakukan kepada para anggota yang
mempunyai saldo kredit atas rekening modalnya setelah
mempertimbangkan seluruh jumlah kemungkinan rugi yang akan
terjadi. Pembayaran demikian tidak boleh melampaui saldo kredit
atas rekening modal anggota yang bersangkutan”.
Dengan ketentuan demikian berarti ada dua kemungkinan
rugi yang maksimum harus ditanggung oleh setiap anggota
perlu diperhitungkan dengan saldo modal masing-masing
sebelum pembayaran kepada anggota dilakukan, yaitu :
1. Kemungkinan rugi sebagai akibat tidak dapat
direalisasikannya aktiva (non kas) yang ada.
2. Kemungkina adanya anggota yang mengalami defisit
modalnya, sehingga tidak mampu menyelesaikan
kewajiban-kewajibannya kepada persekutuan.
Ada dua metode yang dapat dipaki untuk menentukan besarnya setiap
kali pembayaran kembali hak penyertaan anggota agar dapat dijamin
penerimaan masaing-masing anggota sesuai dengan hak-hak yang
bersangkutan sebagai berikut :
a. Besarnya pembayaran kembali hak penyertaan ditentukan secara
periodik atau setiap kali aktiva dapat direalisasikan (dijual).
b. Penyusunan rencana prioritas pembayaran kepada anggota sebelum
proses likuidasi berlangsung. Sehingga pembayaran dapat segera
dilakukan sesuai dengan jumlah uang yang tersedia.
Jika alokasi kerugian sebesar nilai buku aktiva (yang belum
dapat direalisasikan) berakibat defisitnya saldo modal salah
satu atau lebih anggota, maka defisit modal anggota yang
bersangkutan harus ditanggung oleh anggota yang lain.
Dengan ketentuan demikian maka hanya anggota yang
memiliki saldo kredit atas rekening modalnya mempunyai
prioritas untuk menerima pembayaran terlebih dahulu.
Besarnya hak prioritas pembayaran harus ditentukan
dengan memperlakukan nilai buku aktiva lain-lain yang
belum dapat dijual sebagai kerugian dan dibebankan
kepada saldo modal masing-masing anggota. Sebagai
akibatnya tidak selalu seorang anggota yang memiliki
saldo modal paling besar jumlahnya juga mempunyai hak
prioritas pembayaran dalam jumlah yanh terbesar.
Jika alokasi pembebanan rugi sebesar nilai buku
aktiva lain-lain yang belum laku dijual tidak
mengakibatkan defisitnya saldo modal masingmasing anggota, maka saldo modal para anggota
akan menunjukkan keadaaan sesuai dengan ratio
pembagian laba (rugi).
Iktisar jurnal yang diperlukan untuk mengikuti berlangsungnya proses likuidasi
persekutuan, sebagai berikut ;
a) Mencatat realisasi aktiva lain-lain dan pembebanan rugi kepada masingmasing anggota.
Kas
X
Modal, A
X
Modal, B
X
Modal, C
X
Aktiva lain-lain
X
b) Mencatat pelunasan hutang kepada kreditur.
Hutang dagang
X
Kas
X
c)
Mencatat pembayaran kembali hak penyertaan anggota tahap pertama,
kedua, ketiga.
Modal, A
X
Modal, B
X
Modal, C
X
Kas
X
d)
Mencatat penjualan aktiva lain-lain dan pembebanan rugi pada tahap
kedua.
Kas
X
Modal, A
X
Modal, B
X
Modal, C
X
Aktiva lain-lain
X
e)
Mencatat penjualan aktiva lain-lain dan pembebanan rugi
tahap ketiga.
Kas
X
Modal, A
X
Modal, B
X
Modal, C
X
Aktiva lain-lain
X
Masalah Hutang Kepada Anggota Persekutuan
Dalam keadaan “going concern” hak-hak para anggota
yang berupa “penyertaan modal dalam persekutuan” dan
“piutang kepada persekutuan” harus diadministrasi secara
terpisah dan dipertahankan integritasnya. Akan tetapi
dalam keadaan perusahaan dilikuidasi hak-hak para
anggota demikian itu harus dianggap dan diperlakukan
mempunyai kedudukan yang sama.
Bagi anggota persekutuan secara individual
penyertaan modal didalam persekutuan adalah
merupakan jumlah yang diserahkan untuk
menanggung segala kemungkinan resiko yang terjadi
pada perusahaannya. Apabila jumlah itu tidak cukup
baru kemudian piutangnya kepada persekutuan dan
akhirnya kekayaan pribadi anggota diluar
persekutuan.
Penerimaan Prioritas Pembayaran Kepada Anggota
Disamping perlakuan yang sama antara piutang kepada
persekutuan dan penyertaan modalnya, penentuan
pembayaran kepada anggota, juga perlu memperhatikan
hal-hal berikut :
“apabila pembebanan kemungkinan rugi maksimum atas
nilai buku aktiva lain-lain mengakibatkan defisitnya saldo
modal dan piutangkepada persekutuan dari salah satu atau
lebih anggota, maka prioritas pembayaran diatur sbb :



Anggota yang mengalami defisit saldo modalnya, tidak memperoleh
hak pembayaran lebih dulu.
Anggota yang lain mempunyai hak pembayaran lebih dahulu, sebesar
saldo haknya di dalam persekutuan sebelum diadakan pembayaran
kembali dikurangi dengan alokasi kemungkinan rugi tidak dapat
direalisasikan aktiva lain-lain dan alokasi defisit modalnya anggota
tertentu yang harus ditanggung bersama sesuai dengan ratio
pembagian laba (rugi) yang ada.
Defisit modal anggota tertentu itu dialokasikan kepada anggota
lainnya sampai dengan jumlah uang yang tersedia sama dengan
jumlah saldo kredit hak-hak para anggota.
Penyusunan rencana prioritas pembayaran kepada
anggota dilakukan melalui tiga tahap,yaitu :



Menentukan jumlah kerugian maksimum yang dapat dibebankan
kepada saldo hak-hak penyertaan dari masing-masing anggota.
Menentukan besarnya hak prioritas pembayaran di antara
anggota-anggota persekutuan.
Atas dasar hak prioritas pembayaran yang telah ditentukan
dalam tahap kedua, kemudian disusun suatu skedul
pembayarannya.
BAB 5
JOINT VENTURE
Bentuk venture ada 2 macam yaitu:
 Single venture, dan
 Joint venture
SINGLE VENTURE adalah pengusahaan suatu proyek tertentu yang
di lakukan oleh satu unit tertentu.
JOINT VENTURE adalah kerjasama di antara dua orang/badan
usaha atau lebih untuk mengusahakan usaha tertentu.
Akuntansi untuk joint venture pada prinsipnya ada 2 metode yaitu;
1. Buku-buku di selenggarakan terpisah dari pembukuan
masing-masing anggota.
2. Rekening-rekening untuk setiap transaksi dalam joint
venture dan di catat di dalam buku masing-masing
anggota (tidak di selenggarakan pembukuan secara
terpisah terhadap aktivitas joint venture).
Contoh:
Tuan A, B ,dan C bersepakat mengadakan suatu kerjasama
dalam suatu usaha ( joint venture) penjualan buku-buku
novel selama masa liburan panas, sedangkan ketentuan
sebagai berikut:
Investasi; Tuan A dan C menyerahkan barang dagang
sebagai penyerahan seharga Rp. 3.000,00 dan Rp.
4.500,00. Tuan B menyerahkan uang tunai sebesar
Rp.2.500,00.
Aktivitas; Tuan C di tunjuk sebagai pimpinan ( managing partner),
ia setuju untuk menjadi pedagang keliling dan menyampaikan
laporan-laporan yang berhubungan dengan transaksi-transaksi
atas nama joint venture.
Pembagian laba; Tuan C di beri komisi 10% dari penjualan, modal
di berikan kepada masing-masing anggota sebesar 8% dari
laba usaha dan selebihnya di bagi sama.
Joint venture di mulai pada tanggal 1 oktober dan berakhir 31 desember
19A. Pembukuan untuk joint venture dan pembukuan yang di selenggarakan
oeleh masing-masing anggota dapat di lihat pada halaman 103.
Penjelasan:
Transaksi No: 3) bunga wesel ( promes) yang di tarik dengan bunga 6%
setahun untuk jangka waktu 60 hari.
tabel 5:2=
60 X
10.000,00
6% x Rp. 1.000,00=Rp.360
Transaksi No. 9) bunga modal untuk masing-masing
anggota di hitung sebagai berikut:
Akuntansi untuk joint venture tidak di selenggarakan
secara terpisah
Saldo rekening joint venture dan rekening anggota –
anggota lainnya pada buku masing-masing anggota
akan menunjukkan saldo yang sama selama hubungan
kerjasama masih ada ( belum di bubarkan ). Akan tetapi
meskipun masing-masing partner mencatat transaksitransaksi yang terjadi, pada buku-buku managing
partner tetap harus di bentuk rekening-rekening aktiva
dan hutang joint venture tersendiri seperti misalnya
rekening-rekening:
Jangka waktu joint venture adalah tgl 1 okt sampai dengan 31
des 19 A = 3 bulan. Sedangkan bunga modal 8% adalah untuk
jangka waktu 1 tahun.
Akuntansi untuk joint venture tidak di selenggarakan secara
terpisah
Saldo rekening joint venture dan rekening anggota-anggota
lainnya pada buku masing-masing anggota akan menunjukkan
saldo yang sama selama hubungan kerjasama masih ada ( belum
di bubarkan). Akan tetapi, meskipun masing-masing partner tetap
harus di bentuk rekening-rekening aktiva dan hutang joint venture
tersendiri
Seperti misalnya rekening-rekening:
 Kas-joint venture
 Piutang- joint venture
 Hutang- joint ventura
 Dan lain-lain
SEKIAN & TERIMA KASIH