HANDOUT HUKUM 2010 AZIZAH, SH., MHum

Download Report

Transcript HANDOUT HUKUM 2010 AZIZAH, SH., MHum

HUKUM SURGA
- Sejarah Surat Berharga
- Pengertian Surat Berharga & Surat Yang
Berharga
- Penerbitan Surat Berharga
- Hubungan Hukum antara Penerbit dan
Pemegang Surat Berharga
- Upaya Tangkisan Pada Surat Berharga
A. Surat yang Berharga (papier van
waarde) : surat yang diterbitkan
bukan sebagai pemenuhan prestasi
berupa pembayaran sejumlah
uang, melainkan sebagai bukti
pemegangnya sebagai orang yang
berhak atas sesuatu yang disebut
didalamnya
B. Surat Berharga (waarde papier) :
Surat dimana oleh penerbitnya
sengaja diterbitkan sebagai
pelaksanaan pemenuhan suatu
prestasi yang berupa pembayaran
sejumlah uang
Surat yang Berharga adalah :
1. Surat/akta yang sukar dijual belikan/
dipindahtangankan
2. Klausula :
a. Op Naam : Akta Otentik (Pasal
613 KUHPer)
b. Tidak Kepada Pengganti : Cessie
(Pasal 110 KUHD)
Contoh : ?
Surat Berharga adalah :
1. Surat/akta yang mudah dijual
belikan/ dipindahtangankan
2. Klausula :
a. Atas Tunjuk (aan toonder/to
bearer) : surat tersebut dapat
dipindahtangankan/diperalihkan
dari tangan ke tangan/ fisik dan
merupakan alat bayar kontan /
tunai
Contoh : Cek (Pasal 205 KUHD)
b. Atas Pengganti (aan order/to
order) : surat tersebut dapat
dipindahtangankan/
diperalihkan dengan cara
endosemen dan diikuti
penyerahan secara fisik dan
merupakan alat bayar kredit
Contoh : Wesel (Pasal 100KUHD), dan
Bilyet Giro (SK Direksi BI No.
28/32/Kep/Dir. Tahun 1995
tentang Bilyet Giro)
Berdasarkan 2 (dua) jenis surat
tersebut, perbedaan yang mendasar
diantara keduanya terletak pada
tujuan diterbitkannya.
- Surat yang Berharga : diterbitkan
sebagai alat bukti hak atas
kepemilikan sesuatu yang
disebutkan didalamnya
- Surat Berharga : diterbitkan
sebagai alat pembayaran
- Surat yang Berharga : tidak memiliki
unsur pembawa hak, ialah
hak menuntut sesuatu kepada
debitur tersebut tidak senyawa
dengan akta tersebut
- Surat Berharga : memiliki unsur
pembawa hak, ialah hak untuk
menuntut sesuatu kepada debitur.
Dimana hak tersebut melekat pada
akta surat berharga seolah-olah
menjadi satu/senyawa
Peranan Surat Berharga dalam
Perdagangan :
1. Sebagai alat pembayaran
pengganti uang
2. Sebagai alat untuk
memindahkan hak tagih
3. Sebagai surat bukti hak tagih
(surat legitimasi)
A. Penerbitan Surat Berharga
- Peristiwa Dasar :
A dan B mengadakan perjanjian jual beli
sebuah sepeda motor. Dalam perjanjian
itu ditetapkan, A membayar harga motor
dengan cara menerbitkan surat Cek.
Berdasarkan perjanjian itu, B
menyerahkan motor dimaksud kepada A.
Perjanjian jual beli itulah yang
merupakan perjanjian dasar
- Hubungan Dasar :
Dengan adanya peristiwa dasar
tersebut, maka terjadi hubungan
dasar antara A dan B, yang
mewajibkan A menerbitkan surat
Cek kepada B. Jadi berlandaskan
hubungan dasar inilah A
menerbitkan surat Cek dalam
usahanya untuk menunaikan
prestasinya membayar sebuah motor
Berdasarkan isi perikatan dasarnya,
Scheltema menggolongkan surat
berharga menjadi 3 golongan Yaitu :
1. Surat-surat yang bersifat hukum
kebendaan (zakenrechtelijke
papier) Isi perikatan surat ini
adalah bertujuan untuk
penyerahan barang.
Mis : Konosemen (Bill of Lading)
Pasal 506 KUHD
2. Surat-surat tanda keanggotaan
suatu persekutuan (lidmaatschaps
papieren)
Isi perikatan dasar : hak-hak
tertentu yang diberikan oleh
persekutuan kepada
pemegangnya. Mis : Saham
3. Surat-surat tagihan utang
(Schuldvorderings papieren)
Isi perikatan dasar : untuk membayar
sejumlah uang .
Surat tagihan utang (schuldvorderingspapier) ini
dibagi lagi kedalam 3 bentuk :
1. Surat perintah pembayaran, (betalings op
dracht)
misalnya : wesel (Pasal 100 KUHD) dan
cek (Pasal178 KUHD)
2. Surat kesanggupan membayar, janji utk
membayar (betalings belofte)
misalnya : surat sanggup (Ps. 174 KUHD)
3. Surat pembebasan,
misalnya : kuitansi atas tunjuk (Pasal 229e
KUHD)
B. Hubungan Hukum antara Penerbit dan
Pemegang Surat Berharga :
Mengikatnya surat berharga antara
penerbit & penerima adalah adanya
perikatan dasar.
Bila surat berharga itu diperalihkan
kepada pemegang berikutnya, timbul
permasalahan mengenai dasar hukum
mengikatnya surat berharga tersebut
antara debitur dengan pemegang
berikutnya tersebut.
Sehubungan dengan hal tersebut lahir
beberapa teori yang mencoba menjawab
permasalahan tersebut, yaitu :
1. Teori Kreasi : dasar hukum perikatan
surat berharga bagi seorang debitur
surat berharga terletak pd perbuatan
penandatanganan surat tersebut.
2. Teori Perjanjian : dasar hukum
perikatan surat berharga terletak pd
suatu perjanjian yg merupakan
perbuatan dua belah pihak, antara
penerbit dan pemegang
3. Teori Kepantasan : teori ini mengakui
teori kreasi, tetapi juga menerima
keberatan yang diajukan terhadap
teori kreasi mengenai orang yang
memperoleh surat berharga secara
tidak jujur. Sehingga menurut teori ini
masih harus ditambah dalil hanya
orang yang memperoleh surat yang
telah ditandatangani dan diperolehnya
secara pantas yang mendapat
perlindungan.
4. Teori Penunjukan : perikatan suatu
surat berharga baru timbul dengan
menunjukkan surat itu. Jika
seorang menguasai surat berharga
pada saat jatuh tempo dan
menunjukkan kepada debitor
untuk meminta pembayaran, maka
pada saat itulah dia menjadi
penagih, dan saat penunjukan itu
pulalah debitor menjadi terikat.
C. Upaya Tangkisan pada Surat Berharga
Penolakan pembayaran atau dikenal
dengan istilah tangkisan dalam hukum
dagang diatur dalam undang-undang
untuk menjaga kepastian hukum dan
pembatasan terhadap itikad-itikad
tidak baik dari pihak-pihak dalam
surat berharga. Upaya tangkisan dalam
surat berharga dibagi 2 macam, yaitu :
1. Upaya tangkisan absolute
(exception in rem)
Upaya ini dapat digunakan oleh
debitur terhadap semua
pemegang, baik pemegang
pertama maupum pemegang
berikutnya.
Upaya tangkisan ini timbul dari
surat berharga itu sendiri/keadaan
yang timbul dari surat itu sendiri
2. Upaya tangkisan relative
(exception in personan)
Upaya tangkisan ini tidak dapat
diketahui dari bentuk surat
berharga itu, melainkan hanya
dapat diketahui dari hubungan
hukum yang terjadi antara
penerbit dengan salah seorang
endosan.