- WordPress.com
Download
Report
Transcript - WordPress.com
Hidup dan berkehidupan di antara yang tercipta
termasuk manusia di alam semesta ini, satu
dengan yang lainnya sangat sulit untuk dapat
dipisahkan. Karena sesungguhnya semua yang
ada ini berasal dari satu pencipta. Unsur-unsur
penciptanya pun diyakini berasal dari sumber
bahan yang sama. Keberadaan manusia (Bhuana
Alit) tidak dapat dipisahkan dengan Bhuana
Agung. Bhuana Alit atau sering di sebut
Mikrokosmo. Mikrokosmo atau bhuana Alit adalah
alam kecil (isi dari alam semesta), seperti
manusia, binatang, tmbuh-tumbuhan, dan yang
lainnya.
Setelah
Tuhan ( Ida Sang Hyang Widhi Wasa)
menciptakan alam semesta (Bhuana Alit)
maka berkehendaklah Beliau menciptakan
isidari alam semesta ini, seperti tumbuhtumbuhan, binatang, manusia. Dengan
terciptanya isi dari alam semesta ini, maka
alam semesta akan menjadi indah adanya.
Setelah
Tuhan menciptakan Bhuana Agung lalu
beliau berkehendak menciptakan isi dari alam
semesta ini. Yang dapat digolongkan sebagai isi
alam semesta, seperti manusia, binatang,
tumbuh-tumbuhan, dan yang lainnya. Badan
semua makhluk, seperti manusia, binatang dan
tumbuh-tumbuhan. Badan semua makhluk,
seperti manusia, binatang , dan tumbuhtumbuhan di sebut dengan Bhuana Alit , ini di
ciptakan setelah adanya Bhuana Agung.
Manusia disebut-sebut makhluk yang paling
tertinggi di antara makhluk lainnya. Kelahiran
manusia membutuhkan proses yang panjang
mengikuti siklusnya.
Berawal dari bayi dalam kandungan hingga lahir
dan tumbuh menjadi dewasa dan tua. Bayi dalam
kandungan bisa terwujud berkat pertemuan
Kama Petak dan Kama Bang, yaitu sel laki-laki
yang di sebut Sang Hyang Smara dan sel wanita
yang di sebut Dewi Ratih. Setelah mengalami
proses yang panjang akhirnya membentuk dan
lahirlah seorang bayi “Bhuana Alit”.
Kitab Sarasamuscaya menyebutkan sebagai
berikut;
“Iyam hi yonih prathama yam prapya jagatipate, atmanam
sakyate tratum karmabhih subhalaksanaih”. Apan ikang
dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana,
wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara
makasadhanang subhakarma, hinganing kottamaning dadi
wwang ika”.
Artinya:
Menjelma menjadi manusia itu sungguh-sungguh utama
sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari
keadaan sengsara dengan jalan berbuat baik, demikianlah
keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.
Manusia adalah makhluk yang paling termulia.
Manusia dapat berbuat baik dan buruk, serta
dapat mengurangi perbuatan buruknya dengan
memperbanyak berbuat baik. Menjadi manusia
sepatutnya bersyukur dan berbesar hati, karena
sungguh tidaklah mudah untuk dilahirkan
menjadi manusia sekalipun sebagai makhluk
hina. Menjelma menjadi manusia sungguh utama
karena dapat menolong dirinya dari
kesengsaraan dengan berbuat baik.
Kelahiran sebagai manusia di katakan berada di
tengah-tengah, yakni antara surga dan neraka.
Jika kebijakan yang dipupuk dalam hidupnya
tentulah kehidupannya akan meningkat, tetapi
sebaliknya jika dosa yang dilakukan sudah tentu
jatuh ke neraka. Sebaiknya kita setiap
dilahirkan menjadi manusia kita harus
meningkatkan diri agar menjadi manusia yang
luhur dan mulia. Jika tidak demikian akan siasialah hidup ini, banyak ajaran yang
menunjukkan jalan yang terang dalam
meningkatkan hidup ini.
Dijelaskan
lebih lanjut, bahwa mahluk hidup
diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa setelah
terciptanya alam semesta ini adalahsebagai
berikut.
a. Kelompok Eka Pramana, yaitu mahluk hidup
yang memiliki satu kekuatan dalam
hidupnya yakni Bayu. Mahluk hidup ini juga
dikenal dengan nama “Sthawara”, yaitu
makluk hidup yang hidupnya tidak
berpindah-pindah dan mempertahankan
hidupnya dengan cara mengambil sari-sari
makanan dari dalam tanah seperti
tumbuhan.
Dan yang tergolong “Sthawara” antara lain
sebagai berikut:
1. Trana (bangsa rumput) baik yang hidup di
air maupun di darat.
2. Lata (bangsa tumbuhan menjalar) yang
keadaan hidupnya menjalar pada tanah
atau pohon yang lainnya.
3. Taru (bangsa semak dan pepohonan).
4. Gulma (bangsa pohon yang bagian luar
pohon bersangkutan berkayu keras dan
bagian dalamnya berongga atau kosong).
5. Janggama (bangsa tumbuhan yang hidupnya
menumpang pada pohon yang lain).
b.
1.
Kelompok Dwi Pramana adalah makhluk hidup
yang memiliki dua kekuatan dalam hidupnya
yakni Sabda dan Bayu. Makhluk ini juga di
kenal dengan sebutan Satwa atau Sato. Satwa
atau Sato adalah bangsa binatang yang pada
umumnya bersifat buas, namun di antaranya
ada juga yang bersifat jinak terutama yang
mendapatkan pendekatan secara manusiawi.
Adapun yang termasuk makhluk hidup
margasatwa atau sato yang diciptakan oleh
Tuhan, sbb:
Swedaya(bangsa binatang satu sel) yang
hidupnya di air atau tanah basah.
2.
3.
c.
Andaya (bangsa binatang yang bertelur) yang
biasanya hidup di air ,di darat maupun di atas
pohon atau udara. Bangsa binatang yang dimaksud,
seperti: bangsa ikan, bangsa amphibi, bangsa ular
dan bangsa burung.
Jarayudha (bangsa binatang yang menyusui), yakni
baik binatang pemakan rumput maupun binatang
pemakan daging.
Kelompok Tri Pramana adalah makhluk hidup yang
memiliki tiga kekuatan yaitu Bayu, Sabda dan Idep.
Makhluk hidup ini juga dikenal dengan sebutan
Manusya. Manusya tau manusia adalah makhluk
ciptaan Tuhan yang paling sempurna di antara
ciptaan-NYA.
Dalam hidupnya manusia selain memiliki Tri Pramana
juga dilengkapi dengan unsur-unsur yang lain,
seperti pikiran,budhi, rasa dan yang lainnya.
Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna
diklasifikasikan sbb:
1. Nara Merga (manusia binatang). Para seniman
“Hindu” melukiskan keberadaan manusia ini
seperti “Nara Singa” yaitu manusia yang berkepala
singa dan berbadan manusia. Tapi ada juga yang
melukiskan makhluk berkepala manusia dan
berbadan seperti “Ikan Duyung”. Manusia binatang
adalah manusia yang masih memiliki pola berfikir
seperti manusia, hanya saja pada salah satu
tubuhnya berbentuk binatang.
2.
3.
Wamana (manusia kerdil). Makhluk hidup ciptaan
Tuhan sebagaimana manusia hanya saja mereka
lebih pendekdan postur tubuhnya lebih kecil.
Barangkali dapat ditafsirkan manusia seperti ini
sebagai manusia yang memiliki pemikiran lebih
kerdil dari yang lain.
Jatma “Manusya”adalah manusia yang sempurna,
yaitu manusia yang telah memiliki sikap mental:
beriman,terpelajar, berbudhi luhur, cakap dan
terampil, berkepribadian mandiri dan mantap,
serta bertanggung jawab terhadap sesama
masyarakat, nusa dan bangsa.
Selain jenis manusia seperti tersebut di atas, terdapat
juga jenis-jenis manusia lainnya. Jenis manusia yang
di maksud berdasarkan atas sifat dan jenis
kelaminnya, yaitu sbb:
Manusia laki-laki “Purusa” adalah manusia yang
berjenis kelamin laki-laki dan dominan bersifat
kelaki-lakian.
Terkait dengan semua yang ada di alam semesta ini
diciptakan oleh Tuhan yang tunggal, yang ada
dalam kitab Bhagawadgita.
2. Manusia perempuan “Pradana” adalah manusia
yang berjenis kelamin perempuan dan dominan
bersifat kewanitaan.
1.
Manusia banci adalah manusia berjenis kelamin
laki-laki namun bersifat kewanitaan atau
manusia berjenis kelamin perempuan namun
bersifat kelaki-lakian. Terkait dengan semua
yang ada di alam semesta ini diciptakan oleh
Tuhan yang tunggal, maka di sebutkan di kitab
Bhagawadgita.
Kelahiran manusia sebagai makhluk hidup (bhuana
alit) merupakan wujud yang mulia karena
semuannya itu bersumber dari Tuhan. Dengan
demikian kita hendaknya bersyukur dan
mengabdikan diri demi pentingnya dharma.
Makhluk yang ada di alam ini yang diciptakan
oleh Tuhan, yang lazim disebut Bhuana Alit.
3.
Demikianlah proses terciptanya Bhuana Alit, yang
diciptakan dan berasal dari yang tunggal
“Tuhan”. Bhuana alit ini sanga tergantung dan
saling melengkapi dengan Bhuana Agung.
Asal mula Bhuana Alit (manusia,binatang,dan
tumbuh-tumbuha) pada dasarnya adalah
sama. Bhuana alit merupakan bagian yang
tak terpisahkan dari keberadaan Bhuana
Agung. Dari Tri Guna menyebabkan Karma
dan Karma Wesana. Karma Phala yang kita
nikmati sekarang sesungguhnya bersumber
dari Karma Wesana.
Keberadaan Karma Wesana memiliki keterkaitan
dengan jiwa-atma. Jiwa-atma adalah atma yang
terdapat dalam diri manusia. Manusia adalah bagian
dari Bhuana alit. Bhuana Alit dan Bhuana Agung
diciptakan Tuhan dari unsur yang sama, yaitu
“Purusa dan Prakrti”.Oleh karena itu di dalam diri
manusia juga terdapat unsur tersebut. Pada diri
manusia unsur Purusa itu menjadi Jiwatma,
sedangkan unsur Prakrti menjadi badan kasar atau
sthula sarira. Jiwatma disebut suksma sarira atau
lingga sarira. Suksma sarira terjadi dari Budhi,
manas, dan ahamkara. Budhi, manas dan ahamkara
disebut Tri antah Karana (tiga penyebab akhir).
Fungsi masing-masing Tri Antah Karana adalah sbb:
a.
b.
c.
Budhi berfungsi untuk menetukan keputusan.
Manas berfungsi untuk berfikir.
Ahamkara berfungsi untuk merasakan dan
bertindak.
Keberadaan Tri Antah Karana merupakan alat batin
manusia(Bhuana Alit) yang sangat menentukan
watak atau karakter seseorang. Disebutkan dalam
kitab Sarasamuscaya. Dalam kitab disebutkan
manusia memiliki indriya. Indriya manusia ada
sepuluh banyaknya yang sering disebut dengan
nama Dasaindriya. Kesepuluh indriya ini
dikelompokkan menjadi dua yaitu:
a.
1.
2.
3.
4.
5.
b.
Panca Budhiindriya, yaitu lima macam indriya
yang terdapat pada manusia untuk mengetahui
sesuatu, yang terdiri dari sbb:
Caksuindriya (indriya pada mata),
Srotendriya (indriya pada telinga),
Ghranendriya (indriya pada hidung),
Jihwedriya (indriya pada lidah), dan
Twakindriya (indriya pada kulit)
Panca Karmendriya, yaitu lima macam indriya
yang ada pada manusia yang berfungsi untuk
melakukan sesuatu, terdiri dari sbb:
1.
2.
3.
4.
5.
Panindriya (indriya pada tangan)
Padendriya (indriya pada kaki)
Garbhendriya (indriya pada perut)
Upasthendriya/bhagendriya (indriya pada kelamin
laki-laki dan wanita),dan
Payuindriya (indriya pada pelepasan/anus)
Panca Budhindriya dan Panca Karmendriya tersebut
terjadi karena Ahangkara yang mendapat
pengaruh dari Guna Satwa. Raja dari indriya
disebut Rajandriya, Rajandriya adalah salah satu
dari Tri Antah Karana yaitu Manah “pikiran”,
karena manusia berpusat pada pikiran. Ini semua
sangat sulit diamati namun semua hal ini telah
tampak pada alat indriya manusia.
Sthula Sarira terjadi sebagai akibat dari Panca Tanmatra
yang berevolusi. Sedangkan, Panca Tanmatra terjadi
sebagai akibat dari Ahangkara yang mendapat pengaruh
dari Guna Tamas. unsur-unsur Panca Tanmatra juga
mengalami evolusi, yaitu perubahan-perubahan secara
perlahan-lahan yang kemudian menjadi bentuk unsur
Panca Maha Bhuta. Unsur panca Tanmatra dan
perubahan yang dimaksud adalah sbb:
a. Sabda Tanmatra unsur dari bekas-bekas suara dan
dapat berubah bentuk menjadi akasa atau ether dan
dalam bentuk Bhuana Alit berwujud rongga
dada,rongga mulut, dan segala rongga yamg ada pada
Bhuana Alit tersebut. Perasaan marah, malu, kagum,
ramah tamah, kikir, dan nafsu birahi yang terjadi pada
Bhuana Alit bersumber dari akasa dan ether.
b.
c.
Sparsa Tanmatra unsur dari bekas-bekas rasa dan
berasal dari sentuhan yang dapat berubah bentuk
menjadi bayu atau wayu dan dalam Bhuana Alit
berwujud nafas dan udara. Bayu adalah benihbenih udara, yang dalam Bhuana Alit menjadi
tenaga penggerak, seperti; memegang, bergerak
untuk mengolah badan, menarik, mendorong, dan
melahirkan seperti tenaga pada saat melahirkan
bayi.
Rupa Tanmatra unsur dari bekas- bekas cahaya dan
dapat berubah bentuk menjadi teja, yaitu zat
panas dan dalam bentuk Bhuana Alit berwujud
panas badan, sinar mata dan segala yang panas
serta bercahaya.
Teja dalam Bhuana Alit akan dapat menimbulkan rasa
tidur atau rasa ngantu, rasa lapar, rasa giat untuk
bangkit, rasa letih tau lelah, rasa malas dan lainnya.
d. Rasa Tanmatra unsur dari bekas-bekas rasa yang
pernah dikecap dan dapat berubah bentuk
menjadi apah, yaitu buih-buih air yang ada dalam
Bhuana alit berwujud darah, lemak, kelenjar,
empedu, air badan dan segala yang bersifat cair.
Apah dalam Bhuana alit dapat berubah menjadi air
mani,darah,sumsum,keringat dan air kencing.
e. Gandha Tanmatra unsur dari bekas-bekas bau dan
dapat berubah menjadi perthiwi, yaitu zat padat
yang dalam Bhuana alit dapat berwujud, seperti
tulang belulang, urat-urat, kulit, kuku, dan
rambut.
Terkait
dengan keberadaan sthula sarira atau
badan kasar manusia juga disebut memiliki unsurunsur yang lain seperti;
1. Sad Kosa, yaitu enam lapis pembungkus sthula
sarira manusia, yang terdiri dari sbb;
a.Asti atau tawulan (tulang)
b.Odwad (otot)
c.Mamsa (daging)
d.Rudhira (darah)
e.Carma (kulit)
2. Dasa Bayu atau Dasa Prana, yaitu sepuluh macam
udara dalam badan manusia, yang terdiri dari
sbb;
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
Prana (udara pada paru-paru)
Samana (udara pada pencernaan)
Apana (udara pada pantat)
Udana (udara pada kerongkongan)
Byana (udara yang menyebar ke seluruh tubuh)
Naga (udara pada perut yang keluar dari saat
mengempis)
Kumara (udara yang keluar dari badan,tangan, dan
jari)
Krakara (udara pada saat bersin)
Dewadatta (udara saat menguap)
Dananjaya (udara yang memberi makan pada
badan)
Demikian
unsur-unsur yang berhubungan dengan
Sthula Sarira manusia “Bhuana Alit”, sedangkan yang
berhubungan dengan Suksma Sarira disebutkan ada
lima macam unsur yang disebut “Panca Mayakosa”
Panca Mayakosa adalah lima macam unsur
pembungkus Suksma Sarira manusia yang bersifat
sangat halus, yang terdiri dari;
a. Anamaya Kosa (unsur pembungkus yang berasal
dari sari makanan)
b. Pranamaya Kosa (unsure pembungkus yang berasal
dari sari nafas)
c. Wijnanamaya Kosa (unsur pembungkus yang
berasal dari pengetahuan)
d.
e.
Manomaya Kosa (unsur pembungkus yang berasal
dari sari pikiran) dan
Anandamaya Kosa (unsur pembungkus yang berasal
dari kebahagian)
Penggabungan dari Rajendra,Panca Budhindriy,
dan Panca Karmendriya disebut dengan Eka
Dasandriya, yaitu sebelas indriya yang terdapat
pada manusia “Bhuana Alit”. Proses atau
pembentukan terjadinya Bhuana Alit merupakan
penggabungan dari seluruh unsur yang bersumber
dari maya, seperti;Citta,Bhudi,Manas,Ahamkara
sehingga muncullah Bhuana Alit atau badan wadag
dari segala sesuatu yang ada di alam semesta ini.