tugas bunda(seminar bio) - PENDIDIKAN ISLAM UNTUK ANAK

Download Report

Transcript tugas bunda(seminar bio) - PENDIDIKAN ISLAM UNTUK ANAK

PERMASALAHAN GIZI
PADA ANAK SEKOLAH DASAR
DISAMPAIKAN PADA SEMINAR BIOLOGI
OLEH: EFAH LATIFAH
NPM: 200841500049
FAKULTAS TEKNIK MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI JAKARTA
2012
Latar belakang
Anak adalah aset yang tidak ternilai
harganya bagi setiap orang tua
Setiap orang tua tentu mengidam-idamkan kelak
anaknya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik
serta memiliki kemampuan intelektual yang unggul
sesuai harapan setiap orang tua
Secara klasik;
kata gizi hanya dihubungkan dengan kesehatan
tubuh, yaitu:
untuk menyediakan energi, membangun, dan
memelihara jaringan tubuh, serta mengatur
proses-proses kehidupan dalam tubuh
Pengertian lebih luas;
gizi dikaitkan dengan potensi ekonomi
seseorang, karena gizi berkaitan dengan
perkembangan otak, kemampuan belajar, dan
produktivitas kerja.
Oleh karena itu, di Indonesia yang sekarang sedang membangun,
faktor gizi disamping faktor-faktor lain dianggap penting untuk
memacu pembangunan, khususnya yang berkaitan dengan
pembangunan sumber daya manusia berkualitas.
Kenyataan yang terjadi terhadap status gizi anak
Kenyataan status gizi anak-anak sekolah dasar yang
memprihatinkan ini terungkap berdasarkan dari hasil penelitian
yang dilakukan terhadap 440 siswa Sekolah Dasar berusia 7
sampai 9 tahun di Jakarta dan Solo, yang di paparkan dalam
diskusi soal status gizi anak sekolah di Jakarta.
Saptawati Bardosono, seorang Ahli Gizi dari Universitas
Indonesia, menjelaskan dari penelitian terhadap 220 anak
sekolah di lima SD di Jakarta, asupan kalori anak-anak umumnya
di bawah 100 persen dari kebutuhan mereka. Dari total anak
yang diteliti, sebanyak 94,5 persen anak mengkonsumi kalori di
bawah angka kecukupan gizi yang dianjurkan (Recommended
Dietary Allowances/RWA), yakni di bawah 1.800 kcal.
Dalam kaitannya dengan kesehatan, dari anak yang diteliti, 40 persen anak
sering menderita infeksi tenggorokan, memiliki berat badan yang kurang
sebanyak 56,4 persen, bertubuh pendek sebanyak 35 persen, bertubuh
kurus 29,5 persen, dan CED 62,7 persen. Ada sebanyak 7,3 persen anak yang
terindikasi gizi buruk.
TUJUAN
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulisan makalah ini bertujuan untuk:
•
•
•
•
•
sebagai syarat untuk untuk memenuhi tugas mata kuliah……
Tujuan yang kedua adalah untuk memberikan gambaran bagaimana status asupan
gizi yang diterima pada anak-anak.
Tujuan yang ketiga untuk memberikan masukan kepada pemerintah sehingga dapat
memberikan solusi bagi permasalahan asupan gizi yang kurang untuk dapat
menciptakan generasi penerus bangsa yang unggul.
Tujuan yang keempat memberikan masukan mengenai asupan gizi yang baik setiap
harinya yang dibutuhkan anak memiliki pertumbuhan, kesehatan dan kemampuan
intelektualitas yang tinggi.
Tujuan yang terakhir agar pemerintah memperhatikan standariasi keamanan dan
kesehatan makanan di warung sekolah, menggerakkan makan siang bersama di
sekolah dengan asupan gizi yang disyaratkan, melanjutkan program
pemberian makanan bergizi di sekolah, dan mensosialisasikan soal gizi
kepada kepada orang tua.
PEMBAHASAN
Definisi Zat Gizi dan Status Gizi
Zat gizi adalah ikatan kimia yang diperukan tubuh untuk melakukan
fungsinya, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur
proses-proses kehidupan.
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi
makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi dibedakan
antara status gizi kurang, baik, dan lebih.
Definisi Angka Kecukupan Gizi dan Angka Kebutuhan Gizi
Angka kecukupan gizi adalah nilai yang menunjukan
jumlah zat izi yang diperlukan tubuh unutk hidup sehat
setiap hari bagi hampir semua populasi menurut
kelompok umur, jenis kelamin dna kondisi fisiologi
tertentu.
AKG yang dianjurkan didasarkan pada patokan berat badan untuk
masing-masing kelompok umur, gender, dan aktivitas fisik.
Dalam menentukan AKG, perlu dipertimbangkan setiap faktor yang
berpengaruh terhadap absorpsi zat-zat gizi atau efisiensi penggunaannya
di dalam tubuh.
Makanan dan Anak
Gizi yang diperoleh seorng anak melalui konsumsi makanan
setiap hari berperan besar untuk kehidupan anak tersebut.
Untuk dapat memenuhi dengan baik dan cukup, ternyata
ada beberapa masalah yang berkaitan dengan konsumsi
zat gizi untuk anak.
Defisiensi gizi atau zat makanan pada anak
Seorang anak juga dapat mengalami deisiensi zat gizi
tersebut yang berakibat pada berbagai aspek fisik
maupun mental. Masalah ini dapat ditanggulangi
secara cepat, jangka pendek, dan jangka panjang
serta dapat dicegah oleh masyarakat sendiri sesuai
dengan klasifikasi dampak defisiensi zat gizi antara
lain melalui pengaturan makan yang benar.
Makanan merupakan kebutuhan mendasar bagi
hidup manusia
Di masyarakat dikenal pola makan atau kebiasaan
makan dan selera makan, yang terbentuk dari
kebiasaan alam masyarakatnya
Di Indonesia pola menu seimbang tergambar dalam menu 4
Sehat 5 Sempurna dan Pedoman Umum Gizi Seimbang
(PUGS). Saat ini dikenal juga menu pelangi, yaitu menu
makanan yang berwarna-warni seperti pelangi untuk
memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral yang diperlukan
oleh tubuh seperti sayur-sayuran
pendidikan khusus bagi anak
Perlu pendidikan khusus bagi anak dalam memilih
makanan.
Peran orang tua sangat diperlukan, jangan sampai anak
memilih makanan yang justru dapat membahayakan
bagi kesehatan.
Dalam menyusun menu, selain AKG perlu pula
dipertimbangkan aspek akseptibilitas makan yang
disajikan, karena selain sebagai sumber zat-zat gizi,
makanan juga mempunyai nilai sosial dan emosional.
Kebutuhan Gizi Berkaitan dengan Proses Tubuh
Makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik akan memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan
untuk fungsi normal tubuh. Sebaliknya, bila makanan tidak dipilih dengan baik, tubuh akan
mengalami kekurangan zat-zat gizi esensial tertentu. Zat gizi esensial adalah zat gizi yang harus
didatangkan dari makanan. Bila dikelompokkan, ada tiga fungsi zat gizi dalam tubuh.
1. Memberi Energi
Zat-zat gizi yang dapat memberikan energi adalah karbohidrat, lemak, dan protein. Oksidasi zat-zat gizi ini menghasilkan
energi yang diperlukan tubuh untuk beraktivitas.
2. Pertumbuhan dan Pemeliharaan Jaringan Tubuh
Protein, mineral, dan air adalah bagian dari jaringan tubuh. Oleh karena itu, diperlukan
unutk membentuk sel-se baru, memelihara, dan mengganti sels-sel yang rusak. Dalam
fungsi ketiga ini zat gizi dinamakan zat pembangun.
3. Mengatur Proses Tubuh
Protein, mineral, air, dan vitamin deiperlukan untuk mengatur prose tubuh. Protein mengatur
keseimbangan air di dalam sel. Mineral dan vitamin diperlukan sebagai pengatur dalam peroses-proses
oksidasi, fungsi normal saraf dan otot serta banyak peroses lain yang terjadi di dalam tubuh termasuk
proses menua.
Akibat Gizi Kurang pada Proses Tubuh
Akibat kurang gizi dapat menyebabkan gangguan pada proses-proses
sebagai berikut :
1. Pertumbuhan
Anak-anak tidak tumbuh menurut potensialnya karena
asupan Protein sebagai zat pembakar kurang, sehingga otototot menjadi lembek dan rambut mudah rontok.
Kekurangan karbohidrat dan zat lemak juga dapat
menyebabkan tubuh menjadi lesu, kurang bergairah untuk
melakukan berbagai kegiatan dan kondisi tubuh yang
demikian tentunya akan banyak menimbukankerugian.
2. Produksi Tenaga
Kekurangan energi berasal dari makanan, mentababkan
seorang kekurangnan tenaga untuk bergerak, bekerja, dan
melakukan aktivitas. Orang menjadi malasm merasa lemah,
dan produktivitas kerja menurun.
3. Pertahanan Tubuh
Daya tahan terhadpa taekanan atai stres menutun. Sistem
imunitas dan antibodi berkurang, sehingga orang mudah
terserang infekasi seperti pilek, batuk, dan diare. Pada anakanak hal ini dapat membawa kematian.
4. Struktur dan Fungsi Otak
Kurang gizi pada usia muda dapat berpengaruh terhadap
perkembangan mental, dengan demikian kemampuan berpikir.
Otak mencapai benuk maksmal pada usia dua tahun. Kekurangan
gizi dapat berakibta terganggunya fungsi otak secara permanen.
4. Struktur dan Fungsi Otak
Baik anak-anak maupun orang dewasa yang kurang gzi
menunjukkan perilaku tidak tenang. Mereka mudah tersunggung,
cengang, dan apatis.
Faktor yang Berperan dan Permasalahan pada Tumbuh
Kembang
Ada dua faktor utama yang mempengaruhi proses tumbuh
kembang optimal seorang anak, yaitu faktor dalam dan
faktor luar
Faktor dalam
Faktor dalam merupakan faktor-faktor yang ada dalam diri anak itu sendiri, baik
faktor bawaan maupun faktor yang diperoleh
Faktor luar
Faktor luar yaitu faktor-faktor yang ada di luar atau berasal dari luar diri anak,
mencakup lingkungan fisik dan sosial serta kebutuhan fisik anak.
Selain kedua faktor tersebut, faktor yang berperan dalam proses
tumbuh kembang anak dapat ditentukan oleh keluarga, status gizi,
budaya, dan teman bermain. Keluarga hendaknya menunjang proses
pertumbuhan dan perkembangan secara optimal.
Status gizi anak dapat ditentukan oleh tingkat konsumsi atau kualitas
makanan. Kualitas makanan ditentukan oleh zat-zat bergizi yang
dibutuhkan oleh anak. Permasalahan tumbuh kembang anak ada
dua macam, yaitu gizi lebih dan gizi kurang.
Akibat dari status gizi yang buruk, maka dapat menimbulkan
penyakit. Lingkungan masyarakat dalam hal ini asuhan dan
kebiasaan suatu masyarakat dapat mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan anak.
Penyakit-penyakit Defisiensi Gizi
Penyakit-penyakit gizi di Indonesia terutama tergolong ke
dalam kelompok penyakit defisiensi.
1. Penyakit Defisiensi Kurang Kalori Protein (KKP)
Salah satu gejala dari penderita KKP ialah
hepatomegali yaitu pembesaran hati yang terlihat
oleh ibu-ibu sebgai pembuncitan perut
Ada berbagai variasi bentuk KKP yaitu
penyakit kwashiorkor, marasmus, dan
marasmikwashiorkor. Kwashiorkor adalah
penyakit KKP dengan kekurangan protein
sebagai penyakti dominan. Marasmus
merupakan gambaran KKP dengan defisiensi
energi yan ekstrem.
Marasmikwashiorkor merupakan kombinasi
defisiensi kalori dan protein pada berbagai
variasi.
Penyebab langsung dari KKP adalah
konsumsi kurang dan sebab tak
langsungnya adalah hambatan
absorbsi dan hambatan utilisasi zatzat gizi karena berbagai hal, misalnya
karena penyakit. Penyakti infeksi dan
infestasi cacing dapat memberikan
hambatan absorpsi dan hambatan
utilisai zat gizi yang menjadi dasar
timbulnya penyakit KKP
2. Penyakit Defisiensi Vitamin A
Gejala-gejala defisiensi vitamin ini yang menumbulkan
kekhawatiran para ahli kesehatan dn gizi adalah
berhubungan denga nkondisi mata, sedangkan gejalagejala yang menyerang sistem tubuh lainnya tidak
memberikan gambaran yang menggugah kekhawatiran
lainnya. Konsumsi vitamin A kurang adalah karena
kebiasaan makan yang salah, tidak suka sayur dan
buah, atau karena daya beli rendah, tidak sanggup
membeli bahan makanan hewani maupun nabati yang
akaya akan vitamin A dan karoten tersebut. Hamabtan
absorbsi vitamin Adaam kroten terjadi karena hidangan
rata-rata rakyat umum di Indonesia mengandung
rendah lemak dan protein yang diperlukan dalam
metabolisme vitamin A.
3. Penyakit Defisiensi Yodium
Salah satu manifestasi gambaran penyakit kekurangan
zat gizi yodium yang meninjol ialah pembesaran
kelenjar gondok yang disebut penyakit gondok oleh
awam atau nama ilmiahnya struma simplex. Karena
terdapat endemik di wilyah-wilayah tertentu yang
kekurangan yodium, disebut juga endemic goitre.
Defisiensi yodium memberikan juga berbagai gambaran
klinik lainnya yang disagak ada hubungan dengan
kondisi kekurangan zat gizi yodium itu, sehingga disebut
Iodine Deficiency Diseases (IDD). Ada 4 jenis IDD yaitu
gondok endemic, hambatan pertumbuhan fisik dan
mental yang diebut cretinism, hambatan neuromotor,
dan kondisi tuli disertai bisu.
4. Anemia Defisiensi Zat Besi
Pengaruh defisiensi Fe, terutama melalui kondisi gangguan fungsi
hemoglobin. Merupakan alat transportasi O2 yang diperlukan pada
banyak reaksi metabolik tubuh. Pada anak sekolah telah
ditunjukkan adanya korelasi erat antara kadar hemoglobin dan
kesanggupan anak untuk belajar. Dikatakan bahwa pada kondisi
anemia, daya konsentrasi dalam belajar menurun.
Data laboratorik memperlihatkan kadar hemoglobin menurun di
bawah 11%, bahkan pada yang berat penurunan hemoglobin ini
dapat mencapai tingkat di bawah 10% atau lebih rendah lagi,
sampai di bawah 4%.
Data konsumsi mungkin memperlihatkan hidangan yang kurng
mengandung daging atau bahan makanan hewani lain, dan juga
kurang sayur serta daun yang berwarna hijau.
Hubungan Gizi dengan
Kesehatan Anak
Secara umum, defisiensi gizi sering merupakan awal dari
gangguan sistem kekebalan tubuh. Gizi kurang dan infeksi, keduaduanya dapat bermula dari kemiskinan dan lingkungan yang tidak
sehat dengan sanitasi buruk. Selain itu juga diketahui bahwa
infeksi menghambat reaksi imunologis yang normal dengan
menghabiskan sumber-sumber energi.
Gangguan gizi dan infeksi dapat saling berhubungan
sehingga memberikan prognosis yang lebih buruk. Infeksi
memperburuk taraf gizi dan sebaliknya, gangguan gizi
memperburuk kemampun anak untuk mengatasi penyakit infeksi.
Kuman-kuman yang kurang berbahaya bagi anak-anak dengan
gizi baik, bisa menyebabkan kematian pada anak-anak gizi buruk.
Hubungan Gizi dengan Kecerdasan
Masalah defisiensi gizi khususnya KKP menjadi perhatian
karena berbagai penelitian menunjukan adanya eek jangka
panjang KKP ini terhadap pertumbuhan dan perkembangan
otak manusia. Sebagaimana halnya dengan organ-organ
lain dalam tubuh, otak terutama berkembng pada awal
kehidupan sampai periode tertentu dalam masa kehidupan
seseorang. Pada fase ini terjadi berbagao keadaan seperti
pengaruhobat-obatan, radiasi, kekurangan oksigen, dan
terlebih penting ialah kekuarangn makanan atau zat
makanan/zat gizi. Dalam hal ini dapat terjadi kelainan yagn
bersifat pulih maupun tidak dapat pulih. Antara lain otak
mengalami pengaruh sehingga tidak dapat mencapai
tumbuh kembang yang optimal sesuai dengan potensi
genetiknya.
Tingkat Konsumsi dan Tingkat Gizi
Keadaan Kesehatan gizi masyarakat tergantung pada tingkat konsumsi. Tingkat
konsumsi ditentukan oleh kualitas serta kuantitas hidangan. Kualitas hidangan
menunjukkan adanya semua zat gizi yang deiperlukan tubuh di dalam sususnan hdangan
dan perbandingannya yang satu terhadap yang lain. Kuantitas menunjukkan kuantum
masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh. Kalau susunan hidangan memenuhi
kebutuhan tubuh akan mendapat kondisi kesihatan gizi yang sebaik-baiknya. Konsumsi
yang menghasilkan kesehatan gizi yang sebaik-baiknya disebut konsumsi adekuat.
Kalau susunan hidangan memenuhi kebutuhan tubuh, baik dari sudut kualitasnya dana
dalam jumlah melebihi kebutuhan tubuh, dinamakan konsumsi berlebih, makan akan
terjadi suatu keadaan gizi lebih. Sebaliknya konsumsi yang kurang kualitasnya maupun
kuantitasnya akan memberikan kondisi kesehatan gizi kurang atau kondisi defisiensi.
Tingkat kesehtan gizi terbaik adalah kesehatan optimum, tubuh terbebas dari penyakit
dan mempunyai daya kerja dan efisiensi yang sebiak-baiknya. Ada beberapa penyakit
yang berhubungan dengan gizi. Penyakit-penyakit ini daat dibagi dalam beberapa
golongan yaitu, penyakit gizi lebih (obesitas), penyakit gizi kurang (malnutrition,
undernutrition), penyakit metabolik bawaan (inborn errors of metabolism), dan penyakit
keracunan makanan (food intoxication).
Masalah Sosial Ekonomi
Permasalahan rendahnya asupan gizi pada anak
sekolah tidak terlepas dari berbagai faktor lain di luar
faktor makanan yang dikonsumsi. Permasalahan ini
dapat dikaitkan dengan rendahnya kondisi sosial
ekonomi keluarga. Harga-harga barang sembako yang
semakin lama semakin mahal dan sulit dijangkau oleh
keluarga ekonomi ke bawah tidak memungkinkan
mereka untuk membeli makanan yang bergizi. Pada
masyarakat ekonomi kelas bawah, hal yang
dipentingkan adalah kuantitas makanan, tanpa
memperdulikan kualitas gizinya baik atau buruk.
Masalah Sosialisasi Pengetahuan
Kurangnya sosialisasi mengenai makanan yang bergizi kepada masyarakat
terutama mereka yang tinggal di tempat yang jauh dari fasilitas kesehatan
seperti puskesmas semakin memperburuk asupan gizi anak. Bagi mereka
yang tinggal di daerah perkotaan informasi tentang makanan yang bergizi
dan asupan gizi yang dibutuhkan oleh anak mudah sekali didapatkan.
Sedangkan mereka yang tinggal di daerah terpencil informasi tentang
makanan yang bergizi sulit sekali didapatkan.
Orang tua sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kesehatan
anak atau status gizi anaknya hendaknya dapat mengawasi pola makanan
atau jajanan yang dipilih oleh anaknya. Akan tetapi dibutuhkan informasi
yang banyak mengenai makanan apa saja yang baik bagi anaknya, jajanan
apa yang baik dikonsumsi serta dampak yang ditimbulkan apabila anaknya
tidak mengkonsusmsi makanan yang bergizi. Dibutuhkan peran pemerintah
dalam mensosialisasikan pengetahuan mengenai makanan yang bergizi atau
asupan yang baik bagi anak usia sekolah kepada para orang tua terutama
bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil.
PENUTUP
KESIMPULAN
Rendahnya asupan gizi anak usia sekolah diakibatkan oleh banyak
faktor. Anak usia sekolah sangat rentan dengan asupan gizi yang rendah atau
buruk. Pada usia ini pola makan anak dipengaruhi oleh teman dan
lingkungan sekitarnya. Jajanan yang banyak dijual di sekolah-sekolah
termasuk ke dalam makanan yang tidak bergizi sehingga dapat dikatakan
bahwa anak usia sekolah sangat rentan dengan asupan gizi yang buruk.
Asupan gizi yang buruk dapat berakibat fatal apabila terus
dibiarkan, defisiensi kalori yang dihasilkan protein akan menimbulkan
penyakit seperti marasmus dan kwashiorkor, defisiensi zat besi akan
mengganggu kerja hemoglobin dalam transportasi O2 keseluruh tubuh,
defisiensi zat seng akan mengganggu proses metabolism protein. Selain itu,
buruknya status gizi anak sekolah semakin memperburuk kondisi bangsa
Indonesia karena generasi penerusnya tidak produktif. Perbaikan status gizi
dengan asupan gizi yang baik akan memberikan banyak perubahan. Orang
tua saat ini terlalu membiarkan anaknya mengkonsumsi jajanan yang ada di
sekolah. Membiasakan anak untuk sarapan pagi sebelum berangkat sekolah
merupakan cara yang efektif dalam mengurangi kemungkinan anak membeli
makanan di luar rumah.
SARAN
Peran orang tua sangat diperlukan dalam memberikan makanan yang
bergizi dan mengajarkan anak untuk mengonsumsi atau memilih makanan yang
bergizi. Pendekatan yang baik dengan anak dan komunikasi atau cara penyampain
pendidikan dasar mengenai makanan yang bergizi dapat membuat anak lebih
berhati-hati dalam memilih makanan atau jajanan. Perhatian dari kedua orang tua
sangat diperlukan terutama pada jajanan dan makanan kesukaannya. Makanan yang
diberikan saat dirumah hendaknya memperhatikan nilai gizi dengan menyesuaikan
kondisi social ekonomi keluarga.
Peran guru di sekolah sangat dibutuhkan guna memberikan pendidikan
dasar dan pengawasan secara aktif mengenai makanan atau jajanan yang baik
dikonsumsi dan tidak baik untuk dikonsumsi. Perlu pengawasan di sekitar
lingkungan sekolah akan jajanan yang bergizi dan tidak bergizi dan melarang
pedagang di sekitar sekolah menjual makanan yang tidak bergizi.
Perlu penanganan secara khusus dari pemerintah untuk menangani
permasalahan ini. Sosialisasi mengenai asupan gizi yang dibutuhkan oleh anak
sekolah dasar dapat dilakukan sebagai upaya promotif untuk meningkatkan status
gizi anak sekolah dasar.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Utama
Ayubi, Dian. 2007. Bahan Kuliah Dasar PKIP. Depok : Fakultas Kesehatan
Masyarakat UI
Fikawati, Sandra. 2008. Kumpulan Materi Gizi Kesehatan Masyarakat.
Depok : FKM UI Suhardjo. 1992. Prinsip-Prinsip Ilmu Gizi. Yogyakarta :
Kanisius