Presentasi VIII. Perencanaan Sambungan Paku

Download Report

Transcript Presentasi VIII. Perencanaan Sambungan Paku

Pertemuan Ke-8
Perencanaan Sambungan
Baut
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Pebruari 2006
Sambungan Paku
Alat sambung baut merupakan alat
sambung yang mudah diadakan bongkar
pasang.
Masih banyak dipakai walaupun banyak
kelemahan dan kekurangannya,
diantaranya :
•
•
•
Efisiensinya rendah (30 %)
Deformasinya besar (bergesernya
sambungan akibat beban)
Perlemahannya cukup besar yaitu
sekitar 20 % s/d. 30 %.
Persyaratan sambungan menurut PKKI
Pasal 14 Ayat :
1.
2.
3.
4.
Alat sambung baut harus dibuat dari baja St37 (U-23).
Lubang harus dibuat secukupnya dan
kelonggarannya harus < dari 1,5 mm.
Diameter baut paling kecil 10 mm (3/8”), bila
tebal kayu lebih besar 8 cm maka diameter
baut minimum 12,7 mm (1/2”).
Baut harus disertai pelat yang tebalnya
minimum 0,3d dan maksimum 5 mm, dengan
garis tengah 3d, atau jika mempunyai bentuk
segi empat lebarnya 3d. Jika bautnya hanya
sebagai pelengkap maka tebal pelat dapat
diambil minimum 0,2d dan maksimum 4 mm.
Persyaratan sambungan menurut PKKI
Pasal 14 Ayat :
5. Sambungan dengan baut dibagi dalam
3 golongan sesuai dengan klasifikasi
kekuatan kayu (Kelas Kuat I, II, dan
III).
Agar sambungan dapat memberikan
hasil yang sebaik-baiknya, maka
besarnya S untuk lb = b/d harus
diambil sebagai berikut :
Persyaratan sambungan menurut PKKI
Pasal 14 Ayat :
Golongan I.
Sambungan bertampang satu (lb = 4,8).
S = 50 . d . b1 (1 - 0,6 sin a).
S = 50 . d2 (1 - 0,6 sin a).
Sambungan bertampang dua (lb = 3,8).
S = 125 . d . b3 (1 - 0,6 sin a).
S = 250 . d . b1 (1 - 0,6 sin a).
S = 480 . d2 (1 - 0,35 sin a).
Persyaratan sambungan menurut PKKI
Pasal 14 Ayat :
Golongan II.
Sambungan bertampang satu (lb = 5,4).
S = 40 . d . b1 (1 - 0,6 sin a).
S = 215 . d2 (1 - 0,35 sin a).
Sambungan bertampang dua (lb = 4,3).
S = 100 . d . b3 (1 - 0,6 sin a).
S = 200 . d . b1 (1 - 0,6 sin a).
S = 430 . d2 (1 - 0,35 sin a).
Persyaratan sambungan menurut PKKI
Pasal 14 Ayat :
Golongan III.
Sambungan bertampang satu (lb = 6,8).
S = 25 . d . b1 (1 - 0,6 sin a).
S = 170 . d2 (1 - 0,35 sin a).
Sambungan bertampang dua (lb = 4,3).
S = 60 . d . b3 (1 - 0,6 sin a).
S = 120 . d . b1 (1 - 0,6 sin a).
S = 340 . d2 (1 - 0,35 sin a).
Persyaratan sambungan menurut PKKI
Pasal 14 Ayat :
dengan :
S = Kekuatan sambungan (kg).
a = Sudut antara arah gaya dan arah serat.
b1 = Tebal kayu tepi (cm).
b3 = Tebal kayu tengah (cm).
d = Garis tengah baut, diameter baut (cm).
6.
Bila dalam sambungan bertampang satu, salah
satu batngnya besi (baja) serta sambungan
bertampang dua pelat penyambung besi (baja),
kekuatan per baut (S) dapat dinaikan 25 %.
Persyaratan sambungan menurut PKKI
Pasal 14 Ayat :
7. Bila baut dipakai pada konstruksi yang
tak terlindung, maka kekuatan S
dikalikan dengan faktor sebesar 5/6. Bila
dipakai pada konstruksi yang terendam
air, maka S dikalikan dengan faktor 2/3.
8. Untuk konstruksi yang disebabkan oleh
kekuatan tetap dan tidak tetap maka
kekuatan dikalikan dengan faktor 5/4.
Persyaratan sambungan menurut PKKI
Pasal 14 Ayat :
9. Penempatan baut harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Arah gaya searah serat kayu (Gambar 4.6).
Jarak minimum :
Antara sumbu baut dan ujung kayu :
Kayu muka yg dibebani = 7 d dan > 10 cm.
Kayu muka yg tidak dibebani = 3,5 d.
Antara sumbu baut dalam arah gaya = 5 d.
Antara sumbu baut tegak lurus arah gaya = 3 d.
Antara sumbu baut dengan tepi kayu = 2 d.
Gambar 4.6.
Sambungan baut yang
menerima beban searah serat
2d
3d
3d
2d
5d 5d
5d
3,5d untuk gaya desak
7d dan > 10 cm untuk gaya tarik
Persyaratan sambungan menurut PKKI
Pasal 14 Ayat :
9. Penempatan baut harus memenuhi syarat sebagai berikut :
b. Arah gaya tegak lurus arah serat (Gambar 4.7).
Jarak minimum :
Antara sumbu baut dan tepi kayu (// terhadap gayanya).
Kayu muka yang dibebani
= 5 d.
Kayu muka yang tidak dibebani = 2 d.
Antara baut dengan baut searah gaya
= 5 d.
Antara baut dengan baut tegak lurus gaya = 3 d.
Persyaratan sambungan menurut PKKI
Pasal 14 Ayat :
9. Penempatan baut harus memenuhi syarat sebagai berikut :
c. Arah gaya membentuk sudut a (antara 00 - 900) dengan
arah serat kayu.
Jarak minimum :
Antara sumbu baut dan tepi kayu.
Yang dibebani searah gaya = 5 d s/d. 6 d.
Yang tidak dibebani = 2 d.
Antara baut dengan sumbu baut = 5 d s/d. 6 d.
Antara baut dengan baut searah gaya = 3 d.
Persyaratan sambungan menurut PKKI
Pasal 14 Ayat :
5d
2d
5d
5d
2d
5d
5d
7d dan > 10 cm
2d 3d 2d
2d 3d 2d
Gambar 4.7.
Sambungan Baut yang menerima Beban Tegak Lurus Arah Serat
Persyaratan sambungan menurut PKKI
Pasal 14 Ayat :
a
2d
2d
2d
2d
5-6d
5-6d
7d dan > 10 cm
5-6d
5-6d 2d
Gambar 4.8.
Sambungan baut yang menerima bebat membentuk sudut a
Diameter baut yang biasanya ada dipasaran
3/8”
1/2”
5/6”
3/4”
7/8”
1”
=
=
=
=
=
=
0,98 cm.
1,27 cm.
1,59 cm.
1,91 cm.
2,22 cm.
2,54 cm
TERIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA
GANTUNGKAN CITA-CITAMU
SETINGGI LANGIT
(AIM HIGH)