KEGIATAN BBTKLPP SURABAYA TAHUN 2015

Download Report

Transcript KEGIATAN BBTKLPP SURABAYA TAHUN 2015

*

*

STRATEGI PEMBANGUNAN

 

NORMA PEMBANGUNAN KABINET KERJA

Membangun untuk manusia & masyarakat Mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pembangunan sosial & pembangunan ekologi yg berkelanjutan   Memulihkan & menjaga keseimbangan antar sektor, antarwilayah & antar kelompok sosial dlm pembangunan Mewujudkan perekonomian yg inklusif, berbasis ilmu pengetahuan & teknologi, & keunggulan SDM

3 DIMENSI PEMBANGUNAN

Antar kelompok Pendapatan Antar wilayah

KONDISI PERLU Kepastian & Penegakan Hukum Keamanan & Ketertiban Politik & Demokrasi Tata Kelola & RB QUICK WINS & PROGRAM LANJUTAN LAINNYA

*

PROGRAM INDONESIA SEHAT

4

*

KRITERIA KAB/KOTA PRIORITAS SEKTOR KESEHATAN 2015-2019

Daerah Terpencil, Sangat Terpencil, Perbatasan & Kepulauan Daerah Tertinggal

Terpencil/Sngt Terpencil

Perbatasan

33 Provinsi 353 Kab/kota 2492 Puskesmas *) meliputi kawasan transmigrasi 15 Provinsi 48 Kab/kota 120 Puskesmas

Kepulauan

7 Provinsi ( Sulut ) Kepri, Babel, NTB, NTT, Maluku, Maluku Utara, 147 kab/kota yg diidentifikasi memiliki pulau

5

Isu Strategis RPJMN 2015-2019

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Peningkatan Kesehatan Ibu, Anak, Remaja dan Lansia Percepatan Perbaikan Status Gizi Masyarakat Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Peningkatan Akses Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan yang Berkualitas Pemenuhan Ketersediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Pengawasan Obat dan Makanan Pemenuhan Sumber Daya Manusia Kesehatan Peningkatan Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Manajemen, Penelitian dan Pengembangan, dan Sistem Informasi Pengembangan dan Peningkatan Efektifitas Pembiayaan Kesehatan Pengembangan Jaminan Kesehatan Nasional

6

*

Strategi

1. Peningkatan surveilans epidemiologi faktor resiko dan penyakit terutama di daerah kumuh dan DTPK; 2. Peningkatan upaya preventif dan promotif dalam pengendalian penyakit menular dan tidak menular; 3. Pelayanan kesehatan jiwa; 4. Pencegahan dan penanggulangan kejadian luar biasa/wabah terutama di daerah DTPK dan kelompok masyarakat miskin; 5. Peningkatan mutu kesehatan lingkungan; 6. Penatalaksanaan kasus dan pemutusan rantai penularan; 7. Peningkatan pengendalian faktor risiko biologi, perilaku dan lingkungan; 8. Peningkatan pemanfaatan teknologi tepat guna untuk pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan; 9. Peningkatan kesehatan lingkungan dan akses terhadap air minum dan sanitasi yang layak dan perilaku hygiene terutama di daerah DTPK; 10. Pemberdayaan dan peningkatan peran swasta dan masyarakat dalam pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan.

7

KEBIJAKAN PROGRAM PP DAN PL 2015-2019

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Peningkatan surveilans epidemiologi faktor risiko dan penyakit Peningkatan perlindungan kelompok berisiko Peningkatan kualitas kesehatan lingkungan dan pengendalian faktor risiko lingkungan Penatalaksanaan epidemiologi kasus dan pemutusan rantai penularan Pencegahan dan penanggulangan KLB/Wabah

termasuk yang berdimensi internasional

Peningkatan pemanfaatan teknologi tepat guna untuk pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan Pemberdayaan dan peningkatan peran swasta dan masyarakat

Peningkatan keterpaduan program promotif dan preventif dalam pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan

*

STRATEGI PROGRAM PP DAN PL

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Melaksanakan review dan memperkuat aspek legal Melaksanakan advokasi dan sosialisasi Melaksanakan intensifikasi, akselerasi dan inovasi program Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di bidang PP dan PL Memperkuat Jejaring kerja dan kemitraan Memperkuat manajemen logistik Meningkatkan Surveilans dan aplikasi teknologi pendukung (SKDR) Melaksanakan monitoring, evaluasi dan pendampingan teknis 9.

Mengembangkan dan memperkuat sistem pembiayaan program 10.

Meningkatkan pengembangan teknologi preventif

IKK

OUTPUT

: Presentase Pengawasan Kualitas Air Minum

: TTG Peningkatan Kualitas Sarana Air Minum DESKRIPSI : Untuk meningkatan akses masyarakat terhadap Air Minum yang berkualitas dapat dilakukan beberapa kegiatan, antara lain adalah dengan membangun unit TTG pengolah air untuk mengolah air dari sumber air yang ada (OPSI PASM – Pengolahan Air Siap Minum) ataupun dengan melakukan pengamanan terhadap sumber-sumber air baik berupa mata air, air sungai maupun air tanah (OPSI RPAM – Rencana Pengamanan Air Minum) TUJUAN : 1. meningkatkan kualitas air minum (Opsi PASM) 2. pengamanan sumber mata air (Opsi RPAM) LOKASI : A. PASM : 1. Kab. Belu B. RPAM : 1. Kab.Alor

2.Kab.Malaka 2. Kab.TTU

IKK

OUTPUT

: Persentase TTU yang memenuhi syarat kesehatan

: Peta Kualitas TTU DESKRIPSI : Tempat-tempat umum merupakan tempat berkumpulnya banyak orang dan melakukan berbagai macam aktivitas, antara lain kawasan wisata, kawasan industri dan kawasan fasyankes. Untuk itu diperlukan usaha-usaha untuk mengendalikan faktor risiko penyakit dan menjaga kualitas lingkungan di sekitar daerah wisata. Kegiatan pemetaan kualitas TTU dibuat berdasarkan Inspeksi Sanitasi di suatu wilayah tertentu TUJUAN : memetakan kualitas lingkungan dan FR kesehatan lingkungan di kawasan tertentu LOKASI : A. kawasan wisata : 1. Kab.Sumenep

2. Kab.Banyuwangi

kawasan Industri : 1. Kab.Mojokerto 2. Kab.Gresik

Kawasan Fasyankes :1. Kab.Alor

2.Kab.Lombok Timur B. C.

IKK

OUTPUT DESKRIPSI TUJUAN LOKASI

: Persentase desa/kelurahan yang melaksanakan STBM

: TTG Bidang STBM : Berdasarkan hasil pemicuan STBM yang telah dilaksanakan oleh Dinkes Kota/Kab dan BBTKLPP Surabaya, diperoleh desa yang sudah terpicu untuk merubah perilaku sesuai STBM pilar ke 1 yaitu Stop BABS. Oleh karena itu dilakukan tindak lanjut dengan membuat TTG berupa jamban sehat untuk wilayah yang sebagian besar penduduk pra KS. : Menyediakan jamban sehat bagi warga pra KS di wilayah DAS : 1. Kota Malang 2. Sumenep

IKK : Persentase TPM yang memenuhi syarat kesehatan

OUTPUT : Tenaga terlatih bidang penyehatan TPM DESKRIPSI : Makanan merupakan kebutuhan pokok manusia, sehingga makanan harus memiliki nilai gizi optimal dan aman bagi kesehatan. Keamanan pangan merupakan tanggung jawab semua pihak, oleh karena itu diperlukan pelatihan pengolahan makanan bagi petugas kesehatan.

TUJUAN LOKASI : Terlaksananya kegiatan pelatihan teknis pengolahan makanan : Semua kota/kab di Jatim (38 Kota/Kabupaten)

IKK

OUTPUT DESKRIPSI TUJUAN LOKASI

: Jumlah rekomendasi kajian analisis dampak kesling

: Kajian ADKL/ARKL : Surveilans faktor risiko kesehatan dapat dilakukan secara aktif dan pasif. Surveilans aktif dilakukan dengan pengambilan sampel di kawasan DAS, surveilanas pasif dilakukan dengan mengolah data pasif air minum, ALRS, dan udara ambien : Memberikan informasi kondisi kualitas lingkungan dan faktor risiko kesehatan : 1. Tulungagung, 2. Mojokerto, 3. Gresik, 4. Sidoarjo

IKK

OUTPUT

: Jumlah daerah yang melaksanakan strategi adaptasi dampak perubahan iklim bidang kesehatan (APIK)

: Peta kerentanan perubahan iklim kesehatan DESKRIPSI : Perubahan iklim dan cuaca akan membentuk pola musim yang ekstrim seperti musim kemarau yang panjang serta musim hujan dengan curah hujan yang sangat tinggi. Hal ini akan menyebabkan perubahan ekosistem yang mempengaruhi penyebaran penyakit secara langsung dan tidak langsung TUJUAN LOKASI : pemetaan kerentanan wilayah terhadap penyakit akibat perubahan iklim : 1. Jombang 2. Probolinggo 3. Trenggalek 4. Bondowoso 5. Pacitan 6. Kediri 7. Madiun

IKK : Persentase TPM yang memenuhi syarat kesehatan

OUTPUT : peta kualitas TPM DESKRIPSI : Tersedianya makanan yang aman bermutu dan bergizi sangat diperlukan untuk mewujudkan keamanan pangan, sehingga sistem pengelolaan pangan yang higienis oleh TPM perlu diperhatikan. Oleh karena itu diperlukan monitoring terhadap makanan yang diproduksi.

TUJUAN LOKASI : Tersedianya informasi tentang kualitas makanan yang diproduksi dari TPM yang memenuhi syarat mikrobiologi & kimia : 1. Kab.Jombang

2. Kota Batu 3. Kota Probolinggo 4. Kota Surabaya

IKK

LOKASI

: Persentase Pengawasan kualitas air minum

OUTPUT : Peta Kualitas Air Minum DESKRIPSI : Pendampingan laboratorium daerah dalam rangka percepatan akreditasi laboratorium daerah TUJUAN : Jejaring labkesda dan Percepatan akreditasi Labkesda : 1. Ponorogo, 2. Kota Malang, 3. Lumajang, 4. Ende, 5. Kota Kupang, 6. Karangasem, 7. Sumbawa.

PEMBINAAN SIMKARKESMA IKK

OUTPUT DESKRIPSI : :

: Persentase sinyal kewaspadaan dalam sistem kewaspadaan dini yang direspon

Investigasi dan Penanggulangan KLB Kegiatan ini merupakan upaya penanggulangan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit berpotensi KLB / wabah pada saat kejadian berlangsung maupun pasca kejadian. Upaya penanggulangan KLB/Wabah/Bencana perlu dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam pada desa/ kelurahan yang mengalami KLB.

TUJUAN : 1. Menegaskan, menegakkan dan memastikan diagnosis adanya rumor 2. Melakukan penyelidikan epidemiologi, surveilans faktor risiko berbasis laboratorium pada kejadian KLB/wabah/ bencana 3. Memberikan rekomendasi pada kejadian KLB/wabah/ bencana 4. Menyusun Rencana dan 5. tindak lanjut pengendalian dan penanggulangan KLB/wabah/ bencana tersebut.

LOKASI : -

Respon Cepat & Advokasi KLB

PEMBINAAN SIMKARKESMA IKK

OUTPUT

: Persentase sinyal kewaspadaan dalam sistem kewaspadaan dini yang direspon

: Provinsi yang melakukan Penguatan Kewaspadaan Dini KLB Penyakit DESKRIPSI : Jejaring surveilans dengan Dinas Kesehatan Propinsi dalam upaya penguatan sistem kewaspadaan dini, melalui diseminasi informasi dan advokasi TUJUAN : Diseminasi informasi dan advokasi guna kewaspadaan dini KLB LOKASI : 1. Kota Surabaya 2. Kota Denpasar 3. Kota Mataram 4. Kota Kupang

Penguatan kewaspadaan dini potensial KLB

PEMBINAAN SIMKARKESMA IKK

OUTPUT DESKRIPSI : TUJUAN :

:

:

Persentase upaya pengendalian faktor risiko pada wilayah dengan kondisi matra

Upaya pengendalian faktor risiko pada wilayah dengan kondisi matra Kegiatan ini untuk melakukan pengawasan dan pengendalian faktor risiko terhadap KLB keracunan makanan dan SKD gangguan kecelakaan pada situasi khusus hari besar agama, liburan sekolah dan event-event khusus yang banyak melibatkan massa. 1. Mengetahui potensi faktor risiko keracunan makanan dan gangguan kecelakaan pada situasi khusus arus mudik 2. Mengetahui potensi faktor risiko keracunan makanan pada situasi liburan dan event-event khusus LOKASI : 1. Kota Surabaya, 2. Malang 3. Gresik, 4. Sidoarjo 5. Kota Denpasar 6. Badung 7. Kupang

Pengendalian Faktor Risiko Pada Kondisi Matra

IKK OUTPUT : Persentase kab/kota dengan IR DBD kurang dari target nasional : Kajian monitoring faktor risiko sumber penular dan efektifitas intervensi DBD DESKRIPSI : Kegiatan ini merupakan pemetaan persebaran serotype virus Dengue di wilker BBTKLPP Surabaya. Data serotype diperoleh melalui specimen darah penderita DBD yang diambil di RS.

TUJUAN LOKASI : : 1.Diperoleh data tentang pola sebaran serotype Virus DBD.

2. Diperoleh data tentang potensi risiko outbreak karena double infection serotype Virus pada manusia.

1. Pacitan, 2. Pasuruan, 3. Probolinggo 4. Tabanan 5. Lombok tengah

IKK OUTPUT DESKRIPSI : TUJUAN : : : Jumlah Kab/Kota dengan API <1/1.000 pada tahun 2019 Kajian dan monitoring faktor risiko sumber penular dan efektivitas intervensi malaria Kegiatan ini untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan tenaga mikroskopis dan sanitarian/ entomology di puskesmas. Bentuk kegiatan berupa uji profesiensi bagi tenaga mikroskopis dan sanitarian/ entomology dengan cara uji panel slide mikroskopis serta uji identifikasi vector. Disamping itu dilakukan pula supervisi guna memperoleh data tentang kelengkapan sarana dan prasarana lab Puskesmas 1. mengetahui tingkat kemampuan petugas dalam pemeriksaan mikroskopis 2. mengatahui kualitas sarana dan prasarana laboratorium mikroskopis 3. mengetahui kegiatan/ program yang dilakukan dalam rangka eliminasi malaria LOKASI : 1.

2.

3.

4.

5.

Madiun Alor, Sika, Lembata, Ende

IKK OUTPUT LOKASI : Jumlah kasus Konfirmasi Flu Burung pada Manusia kurang dari 11 pada tahun 2019 : Pengamatan faktor risiko dan sumber penular flu burung di wilayah kerja DESKRIPSI : Surveilans dalam rangka sistem kewaspadaan dini penyakit flu burung, pelacakan kasus/kewaspadaan dini serta advokasi pengendalian penyakit flu burung TUJUAN : Surveilan kewaspadaan dini Pelacakan kasus Advokasi pengendalian : 1. Kt. Surabaya 2. Kt. Denpasar 3. Kt. Kupang

IKK OUTPUT DESKRIPSI : : : Persentase Angka Kematian kasus Leptospirosis pada Manusia menjadi <15% Tahun 2019 Pengamatan faktor risiko dan sumber penular leptospirosos di wilayah kerja Kegiatan ini merupakan upaya kewaspadaan dini dan pengendalian faktor risiko lingkungan terhadap penyakit bersumber binatang leptospirosis. Leptospirosis di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan berdasarkan Permenkes No. 1501 Tahun 2010 termasuk penyakit yang dapat menimbulkan wabah.

TUJUAN : 1. Mengetahui tingkat kepadatan tikus 2. Mengetahui sebaran, jenis dan proporsi tikus yang positif leptospirosis 3. Mengetahui faktor lingkungan dan perilaku yang berisiko terhadap penularan leptospirosis 4. Memberikan rekomendasi untuk Pengendalian Faktor Risiko Lingkungan Penyakit Leptospirosis berdasarkan hasil kegiatan LOKASI : 1. Gresik, 2. Tulungagung, 3. Ponorogo 4. Denpasar

IKK OUTPUT DESKRIPSI : TUJUAN LOKASI : : : : Jumlah kasus Pes pada manusia menjadi <1 Tahun 2019 Pengamatan faktor risiko dan sumber penular pes di wilayah kerja Kegiatan ini merupakan upaya kewaspadaa dini terhadap penyakit pes.

Kewaspadaan dini terhadap kemungkinan terjadi relaps masih diperlukan. Siklus penyakit pes diduga juga masih terjadi di antara hewan khususnya rodent silvatik di daerah vulkanik. Peningkatan aktivitas vulkanik, perubahan tataguna lahan, penggundulan hutan, perubahan ekologi dan tuntutan kebutuhan hidup hewan silvatik menyebabkan hewan tersebut bermigrasi keluar habitat memasuki habitat yang lain.

1. Teridentifikasinya vektor dan reservoir penyakit pes 2. Teridentifikasinya faktor risiko penyakit pes dan penyakit tular pinjal 3. Terlaksananya surveilans pada manusia dan petugas yang berisiko pes 4. Terumuskannya situasi dan kondisi wilayah dari risiko penyakit tular pinjal 5. Terselenggaranya assessment pes di daerah fokus dan terancam pes di Jawa Timur 1. Pasuruan

Kajian pengendalian faktor risiko penyakit TB

IKK

OUTPUT DESKRIPSI TUJUAN LOKASI

: Cakupan kab/kota dengan angka keberhasilan pengobatan TB paru BTA positif (SR) minimal 85%

: Kajian faktor risiko kejadian TB : Kajian Faktor risiko kejadian TB terkait kejadian MDR TB : : Penguatan jejaring dan advokasi hasil kajian faktor risiko TB 1. Jember, 2. Surabaya, 3. Batu, 4. Madiun

PPML

Kajian pengendalian faktor risiko frambusia

IKK

OUTPUT DESKRIPSI TUJUAN LOKASI : : : :

: Proposi kabupaten/kota endemis frambusia yang melakukan pengobatan massal

Kajian faktor risiko kejadian frambusia Identifikasi faktor risiko dominan spesifik lokal dalam rangkan pencegahan dan eliminasi farmbusia. Kegiatan ditujukan pada kelompok masyarakat yang tidak menunjukkan gejala klinis fambusia Penguatan jejaring advokasi hasil kajian faktor risiko TB 1.

2.

3.

Sumba Timur, Sumba Tengah Belu

PPML

P P T M

MONITORING FAKTOR RISIKO PTM MELALUI KEGIATAN POSBINDU PTM PADA KELOMPOK MASYARAKAT KHUSUS

IKK : Persentase kelompok khusus (Haji, PO Bus, Sekolah, Tempat Kerja) yang melaksanakan kegiatan Posbindu PTM dan Cedera

OUTPUT : Kab/kota yg melaksanakan monitoring faktor risiko PTM melalui kegiatan Posbindu PTM pada kelompok masyarakat khusus DESKRIPSI TUJUAN LOKASI : : : Kegiatan ini untuk mendeteksi dini faktor risiko penyakit dan pembuluh darah yang meliputi faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti riwayat penyakit keluarga, umur, jenis kelamin, serta faktor risiko yang dapat dimodifikasi/ dapat dikontrol, seperti hipertensi, merokok, Diabetes mellitus, dislipidemia (metabolisme lemak yang abnormal), obesitas umum dan obesitas sentral, kurang aktifitas fisik, pola makan, konsumsi minuman beralkohol dan stress pada kelompok masyarakat khusus melalui kegiatan Posbindu Memandirikan kelompok masyarakat khusus ( Po Bis, lansia ) untuk melakukan deteksi dini penyakit jantung dan pembuluh darah 1.

2.

3.

Sidoarjo, 4. Lamongan, Tuban, 5. Pasuruan Singaraja 6. Buleleng

P P T M

PENINGKATAN JUMLAH PERATURAN KTR DI KABUPATEN/KOTA

IKK

OUTPUT TUJUAN

: Persentase kab/kota memiliki peraturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

: Peningkatan jumlah peraturan KTR di kab/kota DESKRIPSI : Kegiatan ini sebagai upaya pengendalian untuk mengurangi dan mencegah penyakit tidak menular yang semakin meningkat. 4 FR utama yang berperan dalam terjadinya penyakit tidak menular adalah konsumsi tembakau,kurangnya aktifitas fisik, konsumsi alkohol dan pola diet tidak sehat. Kegiatan ini difokuskan untuk mendorong pemerintah daerah dalam menyusun dan menerapkan kawasan Tanpa Rokok.

LOKASI : : 1.Mengetahui implementasi Perda KTR di Kota/ kabupaten yang sudah menerapkan Perda KTR. 2.Mengidentifikasi kendala- kendala dalam penerapan Perda KTR 3.Melakukan e monitoring guna pembentukan Perda KTR di daerah kabupaten/kota yang belum mempunyai Perda KTR.

1.

2.

3.

4.

5.

Surabaya, 6. Madiun, Probolinggo. 7. Jember Denpasar 8. Badung, Tabanan Flores timur 9. Kupang,